Sanak,

Terimakasih telah berbagi cerita ini, saya sangat
sedih dan berharap ini cumalah kisah dalam sinetron.
tapi saya yakin ini sangat mungkin terjadi.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua,
ingatlah semua yang ada pada kita ini cuma titipan
Allah, tak ada sedikitpun haq kita mengambil sesuatu
yang tak pernah kita miliki.

Belajarlah dari sekarang mencintai apa yang kita
miliki, dan menjaga amanat yang diberikan Allah atas
semua titipan yang kita terima. 

wassalam
adr


Terlepas dari kebenaran cerita ini, saya rasa ada
manfaat yang didapat
bagi kita sebagai orang tua dalam mendidik anak.

Salam,
~yul~
 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: 12 Mei 2004 9:46
To: undisclosed-recipients:
Subject: [gunadarma_class_91_09] SoMeTiMeS GoOd PeOpLe
Do EvIl
ThiNgs....




sedih banget deh.........................(wajib dibaca
loh???andaikata
kita punya anak)semarah apapun kita apalagi terhadap
anak jgn
sekali-kali main tangan.

 Ini kisah nyata yg lagi heboh di Malaysia skrg, jgn
lupa siapkan 
 tissue krn bener2 menyedihkan......

 Abah, kembalikan tangan Ita.........

 ingatlah....semarah apapun, jgnlah bertindak 
keterlaluan..............
 kepada semua parents,


 Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan
pengajaran......
 Sebagai ibu kita patut juga menghalang perbuatan
suami kita memukul
 especially pada anak2 yg masih kecil dan tak tau
apa2.
 Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik,
mungkin sudah sampai
 waktunya
 untuk badan2 kebajikan educate org M'sia untuk
praktikkan konsep 
'time
 out" jika anak2 buat salah.
 rgds.kay


 Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di
kota-kota besar -
 mninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa
keluar bekerja.
 Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga
setengah tahun.
 Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya
yang sibuk
bekerja
 bermain diluar,
 tetapi pintu pagar tetap dikunci.
 Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian
yang dibeli
 bapanya,ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan
lain-lain di
 halaman
 rumahnya.
 Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun
mencoret semen
 tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana
lantainya terbuat dari
 marmer,coretan
 tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.
Ya... kerana 
mobil
 itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas.Apa lagi
kanak-kanak ini
pun
 membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari
itu bapak dan
ibunya
 bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan
 Thaipusam.
 Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke
sebelah kiri
 mobil.
 Dibuatnya
 gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan
ayam, kucing dan
lain
 sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu
berlangsung tanpa
 disadari si
 pembantu rumah.
 Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat
kereta yang
 baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak
yang
 belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit,
"Kerjaan siapa 
ini?"
 Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu
berlari keluar. Dia
 juga beristighfar.
 Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah
bengis
 tuannya.
 Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia
terus mengatakan
 'Tak tahu... !" "kamu dirumah sepanjang hari, apa
saja yg kau
lakukan?"
 hardik si isteri lagi.
 Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba
berlari keluar dari
 kamarnya.
 Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu
abahhh.. cantik
kan!"
 katanya sambil
 memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah
yang hilang
 kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon
bunga raya di
 depannya, terus dipukulkannya
 berkali2 kw telapak tangan anaknya. Si anak yang tak
mengerti apa-apa
 terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.Puas
memukul telapak
 tangan, si
 ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu
cuma mendiamkan
saja,
 seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang
dikenakan.
 Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?.
Si bapak cukup
 rakus
 memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri
anaknya.
 Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu,
pembantu rumah
 menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
 Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak
kecil luka2 dan
 berdarah.
 Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
menyiram air sambil
dia
 ikut
 menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan
kepedihan saat
 luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian
menidurkan anak
 kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur
bersama
 pembantu rumah.
 Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak
bengkak. Pembantu
 rumah
 mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si
anak.
 Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil
itu yang
 menghabiskan
 waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar
anaknya. Tiga
hari
 berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya
sementara si ibu juga
 begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu
rumah. "Ita
demam...
 " jawap pembantunya ringkas.
 "Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu
masuk kamar 
tidur
 dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya
Ita dalam
 pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar
pembantunya.
 Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan
tuannya bahwa suhu
 badan
 Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.
Pukul 5.00 siap"
 kata majikannya itu.
 Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke
klinik. Doktor
 mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya
serius. Setelah
 seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu
anak itu.
 "Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar
kedua tangan
 anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah
terlalu
 parah.
 "Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua
tangannya perlu
 dipotong dari siku ke
 bawah" kata doktor.
 Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar
mendengar kata-kata itu.
 Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat
dikatakan. Si ibu
 meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan
lelehan air mata
 isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani
surat persetujuan
 pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas
obat bius yang
 suntikkan
 habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2
melihat
 kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka
ayah dan ibunya.
 Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan
dahi melihat mereka
 semua
 menangis.
 Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam
 linangan air mata.
 "Abah.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita
tak mau ayah
 pukul.
 Ita tak mau
 jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya
berulang kali
membuatkan
 si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
 "Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah
pembantu rumah,
 sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung
histeris.
 "Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita
janji tdk akan
 mengulanginya
 lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti?
Bagaimana Ita mau 
bermain
 nanti? Ita janji tdk akan
 mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.
 Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata
anaknya. Meraung2 dia
 sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada
manusia dapat
 menahannya.






 *"jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah
utk menyukai apa
yang
 kita dapat.." *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl
ThiNgs....

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke