|
Maaf, cross posting dari milist sebelah.
Tambahan bahan refleksi kita.
Salam
Yopi
----- Original Message -----
From: bot sosani
Sent: Sunday, May 02, 2004 7:40 PM
Subject: [upbm_mania] Lagu Nina Bobo orang Minang Minangkabau, antara mimpi masa lalu dan tantangan masa datang Kembali UKM ITB mengguncang kota Bandung dengan pagelaran seni tradisional Minangkabau yang sangat memuaku. Pagelaran yang telah menjadi agenda tahunan perkumpulan mahasiswa Minangkabau ITB ini berhasil memukau ratusan penonton yang memadati gedung aula Barat ITB. Pagelaran yang dilaksanakan pada hari sabtu malam, tanggal 1 mei 2004 ini memenjakan penonton dengan suguhan tari-tarian tradisional dan kreasi minang kontemporer yang indah dan dinamis. Kemudian aransemen talempong yang dipadukan dengan keyboard, gitar listrik dan perkusi modern lainnya, yang dengan indah memainkan lagi "Croatian Rhapsody" yang dipopulerkan oleh Maksim, pianis muda asal kroasia yang sedang naik daun. Juga kombinasi antara talempong dan Paduan Suara Mahasiswa (Choir) ITB yang indah yang dilengkapi gerak tari piring dan indang yang lincah dari para mahasiswa ITB tersebut. Luar Biasa!!. Pada malam itu, seperti pada pagelaran-pagelaran sebelumnya, UKM ITB tetap membawakan tema Klasik dengan sedikit sentuhan seni kontemporer dan budaya pop demi menyesuaikan dengan penikmatnya yang didominasi poleh mahasiswa (kaum muda). Pada kali ini UKM ITB mengangkat tema " Maurak Gamang, Malapeh Raso" dengan mengangkat cerita Kaba Cindua Mato yang dikemas dalam bentuk sendratari dengan bergaya "ketoprak humor" dengan judul "Prahara Pagaruyung". Meskipun dimainkan oleh mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang akting dan teater, akan tetapi para pemain drama tersebut sangat lihai bermain kata-kata yang spontan dan menghibur. Sehingga durasi 120 menit drama tersebut berjalan tidak terasa. Di kota Bandung, pagelaran serupa memang bukan hanya dilakukan oleh UKM ITB semata. Pada tahun 2001, Unit Pencinta Budaya Minangkabau (UPBM) Unpad, juga mengangkat kesenian tradisional minang dengan tema yang kontemporer yang mencoba merangkul seluruh etnis dalam kemasan Minangkabau yang bertajuk "Pentas Seni Kreatifitas Mahasiswa (PETI KEMAS)" yang mencoba menampilkan randai dengan kombinasi drama populer untuk pertama kalinya di Bandung. Kemudian disusul oleh Unit Apresiasi Budaya Minangkabau (UABM) ITENAS, yang betul-betul mengangkat tema Minangkabau klasik dengan penampilnan seni budaya khas Pesisir, yakni Rebab dan Randai. Kemudian Gonjong Limo dan lain-lain. Namun dari sekian banyak penampilan tersebut, apa imbal balik yang didapat dari alek mahasiswa Minang tersebut? Bentuk nyata apa yang didapat dari pagelaran seni buidaya Minang itu? Atau pagelaran tresebut hanya semkain membuai kaum Muda Minangkabau dengan mimpi dan kenangan kejayaan masa lalu yang sering jadi buah bibir orang-orang tua ? Jawaban dari pertanyaan diatas memang sangat susah dikemukakan dengan kata-kata. Akan tetapi kita akan lebih bijaksana kalau kita melihat secara langsung fakta dilapangan dan kondisi kekinian masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat sendiri ataupun di Rantau. Di Ranah Minang sendiri, hampir tidak terdengar suatu kabar baik atau perkembangan kearah positif yang berasal dari negeri ini. Gema dan gaung kebesaran Minangkabau era Hatta-Syahrir, era Imam Bonjol, atau bahkan era Pagaruyung (Aditryawarman) sama sekali tidak terdengar saat ini. Minangakau ibarat sebuah negeri yang telah dilupakan dan tidak lagi menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam kehidupan politk, ekonomi, dan sosial budaya Indonesia. Malahan Sumatera Barat lebih identik dengan kasus-kasus korupsi, KKN, ataupun stigma-strigma negatif lainnya. Kemudian kalau kita 'mancibuak' ke Rantau, memang diakui bahwa Sumatrera Barat mampu menghasilkan perantau-perantu yang memberikan kontribusi besar ke daerah perantauannya. Kita bisa melihat bagaimana para pedagang-pedagang kaki lima dan pedagang kacil lainnya bisa menggerakkan perekonomian masyarakat bawah di kota bandung, dan kota-kota lainnya di tanah jawa. Namun kisah dan sifat si Midun (dalam Kisah Sengsara membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati) takkan kita temui dalam diri perantu Minang saat ini. Merantau bukan lagi dianggap sebagai ajang menambah wawasan dan mencari ilmu, akan tetapi memang murni untuk mencari uang dan '"malapehan diri sorang-sorang". Orang Minangkabau saat ini terjebak dalam chauvinistas dan teperangkap pada bayang--bayang kenangan kejayaan masa lalu. Namun malah seringkali melupakan realita kekinian dimana Suku Minangkabau yang tidak lebih hanya menjadi suku pedagang, tukang jahit, warung nasi, dan lain-lain. Bagsa Minangakau tidak lagi menjadi bangsa pemimpin sebagaimana Pak Hatta dan Syahrir pernah mebuktikannya. Meskipun para tetua sering mencerikatan bahkan mendongengkan hikayat Cindua Mato, Kecerdikan Datuak Tumanguang dan Perpatih mengalahkan tentara jawa, Kelihaian Anggun Nan Tongga, Cantiknya Sabai nan Aluih, Bahkan 'hikayat' Muhammad Hatta, Hamka, Syahrir, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lainnya, akan tetapi itu hanya menjadi impian dan bayang-bayang masa silam. Namun pernahkan kita menyadari bagaimana nasib Uni-uni dan Uda-uda pedagangh kaki lima yang selalu tergusur di Pasar Baru Bandung. Bagaimana nasib anak-anak yang menderita busung lapar di Pariaman, kristenisasi dan pemurtada n umat di Padang Apanjang, korupsi yang merajalela di lembaga-lembaga pemerintahan dan aparatur negara di Sumatera Barat mulai dari kantor Lurah sampai kantor Gurbernur, kelesuan perekonomian, Tingkat pengangguran yang tingi dan lapangan kerja yang sempit, perekrutan Pegawai Negeri Sipil yang sarat muatan Kolusi, Maksiat dan Prostitusi yang merajalela di objek-obejk wisata di Sumatera BArat, Carut marutnya sistem pendikan yang bermuara pada merosot tajamnya mutu dan kulaitas pendidikan di propinsi yang pernah mencanangkan "Ibndustri Otak" ini. Pernahkah hal-hal seperti ini diangkat menjadi tema pagelaran seni atau ajang kreatifitas mahasiwa lainnya. Tidak! Kalaupun ada hanya menjadi pemanis bibir dan tidak pernah direalisasikan atau didengar oleh Bapak-bapak pejabat atau aparat terkait. Memang, upaya yang dilakukan oleh UPBM UNPAD, UKM ITB, UABM ITENAS dan FORKOMMI, IMM dan lain-lainnya sudah mencoba memperlihat kepeduliannya terhadap pembangunan dan permasalah yang dihadapi oleh Ranah Minang. namun hendaknya apa yang telah dilakukan bukan semakin menina bobokan kita dengan hikayat dan dongeng-dongeng kejayaan masa lalu yang entah berantah kebenarannya. Namun akan lebih baik apabila mahsiswa, aparat, san seluruh komponen msyarakat Miangkabau khsusnya, masyarakat Sumatera Barat pada umumnya untuk lebih membumi, ' Down to Earth", mencoba manyigi kembali dimana letak Minangkabau sekarang, apa yang terjadi dengan Minangkabau yang dulunya jaya, langkah apa yang harus kita tempuh guan mengembalikan kejayaan itu? Susah saatnya mahasiswa Minang , baik yang dirantau maupun di ranah Minang, mencoba lebih kritis dan lebih peduli, bahkan bersama-sama membangun orang--orang Minang kabau, orang-orang tua, rekan-rekan mahsiswa minang dari tidur panjang dan mimpi indahnya tentang Kejayaan masa silam kita. Karena masa silam adalah tolak ukur untuk menuju masa depan yang lebih baik, bukan menjadi bayang-baynag kelalaian dan keterlanaan. Akhirnya izinkan penulis menutup dengan sebuah puisi: Sepucuk Surat Untuk Minangkabau Oleh : Bot Sosani Telah kuturut petuah Yang kau tuang dari bibir tetua Turun dari ninik ke mamak Dari mamak ke kemenakan Menjelang negeri-negeri jauh Melayangkan pandangan jauh Menukikkan pandangan dekat Jalan jauh telah kutempuh Laut lepas birupun kulayari Dari tanah seberang ini Kuimpikan kau tetap cantik Dengan hiasan gonjong menusuk langit Bertabur gunung biru menjulang Kaluak paku kacang balimbiang Itik pulang petang Yang biasa kutemui dirumah-rumahmu Masih kuimpikan baju kurung Menutupi tubuh sintal gadis-gadismu Piring-piring menari mengikuti dendang Entah saluang entah canang Entah tambur entah rebab Minangkabau� Aku tahu kegelapan tengah menggayutimu Aku juga mendengar jeritan kepedihanmu Sinar wajahmu berganti kusam menyelimuti Bagai mustika berbedak jelaga Aku mengerti duka nestapamu Bagaikan sibisu barasian Tunggulah aku Minangkabau Kutuntaskan semua rantau yang kujelang Kuhabiskan semua pandang yang ku layang Lalu aku akan kembali kepangkuanmu Bandung, 2 Mei 2004
|
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
