Assalamualaikum wr wb,

Merenda Hidup Yang Biasa (Catatan Seorang Pekerja
Pabrik)Publikasi:
28/04/2004 14:27 WIB

eramuslim - Rona jingga menyemburat di setengah langit
bagian timur.
Perlahan-lahan bola api merah bergerak naik, siap
melaksanakan tugasnya. Aku mengayuh pedal sepedaku
pelan-pelan, membelah bulak tengah sawah. Dua puluh
kilometer akan kutempuh, menuju pabrik Batik Keris di
Solo, tempat aku mengais rejeki setiap hari.

Gelap malam meliputi. Dingin sentuhan angin sawah
menggigilkan kulit. Aku mengayuh sepedaku dengan kuat,
berharap segera kucapai halaman rumah. Roda sepedaku
sudah hapal dengan lobang dan gundukan di jalanan
beraspal rusak, meski sesekali tetap terperosok atau
terantuk.

Garang panas mentari menghujani. Masih tetap menyengat
dan menyakitkan kulit sawomatangku yang makin gosong
karena tiap hari bermandi matahari. Kukayuh pedalku
kuat-kuat, untuk sejenak berteduh saat kudapat rimbun
naungan pepohonan di pinggir jalan.

Yah, demikianlah kulalui hari-hariku. Menembus gelap
malam, dingin pagi maupun terik di siang hari. Hari
demi hari yang gamang. Entah ini sudah tahun ke
berapa. Enam, tujuh? Delapan? Atau sudah belasan? Aku
tak pernah menghitung lagi.

Dan dalam kehidupanku nyaris tak ada perubahan
berarti. Antara pabrik dan rumah. Itu saja. Senin dan
Selasa, berangkat ke pabrik pagi-pagi sehabis subuh.
Pulang jam tiga sore. Istirahat sejenak, kemudian
berbenah rumah.
Rabu-Kamis berangkat jam satu siang, pulang tengah
malam. Pagi sebelumnya kuisi dengan kegiatan memasak
saaat simbok ke sawah, dan juga tidur sejenak.
Pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek luar biasa.

Di pabrik kami harus bekerja dengan posisi berdiri,
nyaris tidak pernah duduk. Jum�at-Sabtu berangkat jam
sepuluh malam pulang jam enam pagi.
Langsung tidur sampai menejelang dzuhur. Begitu terus.

Semuanya sudah menjadi ritme yang terprogram.
Sejujurnya aku bosan dengan kehidupanku yang demikian.
Bahkan kadang kebosanan itu demikian memuncak.
Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanyalah seorang
gadis lulusan SMEA kampung di selatan kota Solo,
tetapi bekerja di pabrik dengan menggunakan ijazah SMP
karena pabrik tidak membutuhkan buruh penjaga mesin
pemintal benang berijazah setingkat SMU. Selain juga
karena perusahaan tak suka membayar gaji dengan UMR
lebih tinggi.

Tapi sungguh aku tak tahu apa yang mesti kulakukan
untuk mengatasi kebosanan itu. Maka menonton televisi,
berkunjung ke rumah saudara, bermain dan ngobrol
dengan para ponakan adalah selingan yang kadang juga
sama membosankannya. Sesekali aku jalan-jalan ke
pertokoan di Coyudan atau ke pasar Klewer, Beteng,
Pasar Gede atau Pasar Kartosuro jika punya uang.

Sebenarnya aku juga ingin seperti yang lainnya.
Seperti teman-teman sekolah, juga tetanggaku, dan
teman-teman pabrik yang rata-rata sudah punya 2-3
anak.
Ya, mereka menikah dalam usia awal atau sebelum dua
puluhan. Tapi, entahlah.Sampai usiaku yang menjelang
tiga puluh tahun ini, belum ada seorang lelaki
pun yang pernah melamarku.

Aku terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara yang
seluruhnya adalah wanita. Mbakyu-mbakyuku semua telah
menikah dan punya anak satu atau dua.
Bapak meninggal saat aku kelas dua SMEA. Sebenarnya
Bapak ingin aku menjadi pegawai kantoran. Tetapi
dengan meninggalnya bapak, cita-cita itu tidak
tersampaikan. Selepas SMEA aku tidak melanjutkan
sekolahku melainkan langsung bekerja di pabrik
konveksi, seperti umumnya gadis-gadis di kampungku.
Bedanya mereka dengan segera mendapat pacar dan
menikah, tetapi aku tidak.

Bisakah kau rasakan apa yang aku rasakan? Aku tidak
punya impian apa-apa selain menikah dan membangun
keluarga. Seperti para perempuan desa lainnya.
Seperti kakak-kakakku. Tapi sekali lagi, aku tak
mengerti mengapa jalan hidupku seperti ini. Sebenarnya
bukan tak ada yang mau sama aku, namun semuanya
berhenti di tengah jalan. Aku juga tidak tahu apa
masalahnya dan salah siapa. Tiap kali aku menjalin
hubungan selalu saja berakhir dan akhirnya kami putus
begitu saja. Mungkin si laki-laki bosan atau bagaimana
aku tidak tahu.

Menjadi perawan tua di kampung adalah aib yang
menyesakkan. Menjadi gunjingan tetangga. Dibilang
tidak laku dan sebagainya. Berbeda dengan perempuan
kota. Aku sering sih mendengar, bahwa di kota-kota
besar banyak perempuan yang tidak menikah sampai usia
lebih dari tiga puluhan. Mungkin bagi mereka itu bukan
apa-apa. Lagipula mereka memiliki pekerjaan yang bagus
dan uang banyak.

Sedang aku? Aku bekerja di pabrik karena tidak ada
pilihan pekerjaan lain sementara aku harus menbiayai
hidupku dan Simbokku. Karena meskipun Simbok memiliki
sepetak sawah peninggalan Bapak, namun penghasilannya
tak memadai, bahkan kadang rugi jika ada serangan
wereng atau tikus. Mbakyu-mbakyuku tidak dapat
diharapkan karena mereka memiliki keluarga dan
kehidupan mereka juga seadanya.

Yang lebih memedihkanku, entah darimana mulanya,
kemudian berhembus gosip aku tidak menikah karena aku
�demenan� dengan salah satu kakak iparku. Duh,
gusti paringana sabar! Tak jua menikah dalam usiaku
yang sudah tak lagi muda sudah merupakan beban berat
bagiku dan simbokku, kini harus pula menanggung
omongan buruk tetangga. Kalau saja aku bisa menangis,
aku ingin menangis keras-keras. Namun semua jeritan
itu hanya dapat kugaungkan dalam hati.
Sejak kecil aku jarang menangis karena Bapak
melarangku untuk menangis.

Gosip itu bermula gara-gara akhir-akhir ini aku sering
diantar kakak iparku yang baru punya motor. Tapi apa
yang salah dengan semua itu? Bapak sudah meninggal.
Simbok sudah tua dan mulai sakit-sakitan.
Ponakan-ponakanku masih kecil-kecil Kakakku semuanya
perempuan. Kepada siapa lagi akau minta tolong dan
minta perlindungan jika bukan kepada mereka dan
suami-suami mereka? Salahkah aku minta tolong diantar
ke dokter kepada kakak iparku dengan motornya karena
kebetulan aku sakit akhir-akhir ini dan mesti
bolak-balik ke dokter? Salahkah aku minta diantar ke
pabrik karena aku masih lemah dan cuaca kebetulan
sedang buruk: sering hujan dan berangin? Sementara aku
tidak
bisa berlama-lama izin sakit karena pabrik akan
memotong habis poinku? Tapi orang-orang tak melihat
semua itu. Mereka tak mau tahu bahwa diluar itu aku
masih tetap kemana-mana sendiri dengan sepeda ontelku.

Gosip itu bahkan makin kuat karena kemudian kakak
iparku sering ke rumah.
Padahal dia ke rumah karena -lagi-lagi kebetulan-
membenahi rumah yang kutinggali bersama simbok. Suami
dari Mbakyuku yang nomor dua ini adalah satu-satunya
tukang batu di keluarga kami. Wajar tho kalau aku dan
Simbok minta tolong dia membenahi rumah kami yang
bocor disana-sini dan dindingnya pun mulai runtuh
disana-sini? Karena saat ini sedang musim hujan hingga
rumah kami sering kebanjiran?

Ingin rasanya aku berteriak pada semua orang, aku mau
menikah dengan siapa saja saat ini juga jika itu akan
dapat menghentikan omongan mereka. Namun, lagi-lagi,
kenyataan seringkali lebih buruk dari apa yang kita
pikirkan.
Mbakyuku bahkan kemudian termakan oleh gossip itu dan
mulai bersikap tak bersahabat denganku. Pun
mbakyu-mbakyuku lainnya. Mereka memandangku dengan
sikap curiga, seakan-akan aku akan mencuri suami
mereka setiap saat.

Kalau bukan karena Simbok, aku ingin pergi jauh atau
ditelan bumi saja sekalian. Tapi kemana aku mesti
pergi? Sejak kecil aku tak pernah tinggal jauh dari
tanah kelahiran dan dari keluargaku. Lagipula aku akan
bekerja apa? Sedang pengalaman yang kupunya hanyalah
bekerja sekian tahun di pabrik konveksi dengan tugas
yang sama. Tak pernah berubah.

Hingga suatu hari, dalam semburat jingga mentari baru,
aku menghentikan sepedaku di sebuah masjid pinggir
jalan. Masjid ini setiap hari kulalui dalam perjalanan
pulang pergiku ke pabrik. Hanya saja selama ini aku
tak
pernah tertarik untuk mampir. Hanya saja selama ini
tubuh penatku tak pernah memberi kesempatan aku
tertarik untuk menghadiri pengajian subuh seperti
yang diselenggarakan pagi ini.

Tapi kali ini aku tak lagi memedulikan lelah dan
kantuk yang mendera setelah bekerja shift malam. Aku
hanya ingin mendapat sesuatu yang berbeda. Sesuatu
yang kuharapkan dapat meringankan beban jiwaku.
Sesuatu yang akan menyirami perasaanku yang nyaris
mati. Sesuatu yang akan membuat hidupku lebih
berarti. Meski hanya arti bagi diriku sendiri. Bukan
sekedar perawan tua, yang menjalani hidupnya dengan
pulang pergi ke pabrik sambil menunggu seseorang
datang melamarnya. Sesuatu yang mungkin akan
membantuku keluar dari gossip tetangga, setidaknya
membuatku lebih sabar menghadapi cercaan mereka.
Kamu mau doakan aku kan?

Azimah Rahayu (@az, ba'da subuh 28april2004)

__________________oOo_________________________________
                  Ayat Of The Day:

"Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang
paling loba
kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi)
dari
orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar
diberi umur
seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali
tidak akan
menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka
kerjakan."
        (QS. Al Baqarah 96)
___________________oOo_________________________________
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke