assalamu'alaikum warahmatullah
Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
semoga allah selalu memberi rahmat kepada kita semua.
Amin dan semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.
kepada niniak mamak, bundo, Uni jo Uda sadonyo, kok buliah batanyo surek dan ayat berapo nan manjalehkan kalau kita harus sholat 5 waktu.
Saya akan coba jawab dengan yang saya ketahui.
Yang jelas perintah mendirikan shalat banyak sekali dalam Al-Qur'an dan penyebutannya seringkali diiringkan dengan sebutan beriman, beramal shalih, dan memberikan zakat. Di antaranya:
"Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah 2:238)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah 2:277)
"Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat." (QS. An-Naml 27:1-3)
Jadi sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk shalat. Sekarang masalah lima waktu.
Sepanjang yang saya ketahui penentuan 5 kali dan waktunya disebutkan dalam hadits Rasulullah.
Kewajiban shalat lima waktu disebutkan dalam sebuah hadits yang panjang mengenai Isra Mi'raj Rasulullah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Di dalamnya disebutkan:
"Allah berfirman, 'Lima kali itu sama dengan lima puluh kali dan tidak akan berubah perkataan-Ku'".
Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa awalnya umat Islam difardhukan lima puluh kali shalat namun akhirnya dikurangi menjadi lima saja.
Ket: untuk jelasnya mengenai hadits-hadits seputar Isra Mi'raj dapat dilihat pada terjemahan buku Isra' Mi'raj karya Syaikh Al-Albani terbitan Pustaka Azzam.
Hadits-hadits lainnya antara lain:
Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Tahukah kalian, seandainya ada sungai di pintu rumah salah satu dari kalian dan dia mandi lima kali di sungai itu, apakah ada kotoran yang tersisa di badannya?" Mereka menjawab, "Tidak ada kotoran yang tersisa." Rasulullah bersabda lagi, "Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dosa dengan shalat itu." (HR. Al-Bukhari)
Penentuan shalat juga disebutkan dalam beberapa hadits yang tidak saya sebutkan di sini untuk menghemat ruang. Rasulullah mengetahui waktu-waktu shalat karena dicontohkan oleh Jibril (dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari).
Untuk jelasnya dapat dilihat pada Shahih Al-Bukhari atau Shahih Muslim yang kalo tidak salah memiliki Kitab Shalat dan Kitab Waktu-waktu Shalat.
Berkenaan dengan masalah ini, bahwa shalat lima waktu serta cara-caranya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an namun dalam hadits Rasulullah tidaklah menjadikan kewajiban tersebut sebagai sesuatu yang 'kurang kuat'. Karena posisi Sunnah salah satunya adalah sebagai penjelas keterangan-keterangan yang ada dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman:
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Aali Imraan 3:31)
"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (QS. Al-Maa-idah 5:92)
Dengan demikian jelas bahwa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasulullah harus ditaati.
Berhati-hatilah dengan langkah-langkah sebagian orientalis yang berusaha menjatuhkan kredibilitas hadits yang merupakan usaha untuk menghancurkan sendi-sendi Islam. Demikian juga langkah kalangan Syi'ah Rafidhah yang menjelekkan sebagian sahabat (mis. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu). Apalagi segolongan orang yang mengingkari sunnah Rasulullah (inkarus sunnah). Kita pun harus berusaha menjaga Islam dari hadits-hadits yang lemah dan palsu.
Mengenai masalah ini dapat dibaca pada terjemah Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil 'Aqaidu wal Ahkami karya Syaikh Al-Albani (Hadits sebagai Landasan Akidah dan Hukum, Pustaka Azzam, 2002).
Semoga bermanfaat. Allahu a'lam bish shawab.
Ahmad Ridha
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
