Di Kompas hari ini  Kamis 6 May '04

Lah babulan  indak ado urang awak nan mancogok di Kompas.

Kini nan kanduang bana nan ditampilkan.
Selamat berjuang mak.

Bandaro ( 53thn)
Bogor
~~~~~~~~~~~~~~~



         Mochtar Naim, "Hulubalang" Tua yang Terus Berjuang 

MESKI usianya terus bertambah, sosiolog Dr Mochtar Naim (72) tetap tak
berubah.
Pada Selasa (27/4) itu penampilannya masih seperti dulu: sederhana dan
santun,
kaya dengan pemikiran jernih, tajam, kritis, analitis, dan konsisten.
Dan yang
terpenting, waktu 24 jam tetap digunakan untuk berkarya.

SALAH satu sumbangan berharga bagi dunia keilmuan adalah ketika setahun
terakhir di sela-sela kesibukannya menjadi dosen/peneliti tamu di Leeds
University, Inggris, selama enam bulan dan di University of Michigan,
Ann Arbor, MI, AS selama lima bulan, dia berhasil menulis 10 jilid buku
tentang kompendium (himpunan) ayat-ayat Al Quran yang disusun
berdasarkan topik dengan indeks konkordansi.

"Saya sudah jajaki negara-negara Timur Tengah, Turki, Eropa, Amerika,
dan datang kepada ahli-ahli yang menguasai buku-buku keagamaan, ternyata
apa yang saya tulis belum pernah ada sebelumnya. Menurut para ahli, ini
karya pertama yang pernah ada secara internasional. Alhamdulillah, saya
bisa memberi sumbangan berharga," kata Mochtar.

Lima dari 10 jilid buku tersebut, antara lain Himpunan Ayat-ayat Al
Quran yang
Berkaitan dengan Fisika dan Geografi, Kata Pengantar Prof Dr HA Baiquni
(469
halaman); Himpunan Ayat-ayat Al Quran yang Berkaitan dengan Biologi dan
Kedokteran, Kata Pengantar Dr H Kartono Muhammad (390 halaman); Himpunan
Ayat-ayat Al Quran yang Berkaitan dengan Botani dan Zoologi, Kata
Pengantar Dr
Taufik Ismail (226 halaman); Himpunan Ayat-ayat Al Quran yang Berkaitan
dengan
Ekonomi, Kata Pengantar oleh Prof Drs M Dawam Raharjo (260 halaman); dan
Himpunan Ayat-ayat Al Quran yang Berkaitan dengan Hukum, Kata Pengantar
Prof
H Bismar Siregar SH (762 halaman).

Buku-buku tersebut diakui Mochtar sebagai yang membuatnya bisa maangok
(bernapas lega, menghidupi secara ekonomi), karena buku yang ia
terbitkan sendiri itu sudah dipesan lebih dari 7.000 set.

Kesibukan sosiolog asal Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
(Sumbar),
ini tidak hanya melakukan penelitian dan menulis buku, tetapi juga
menulis di
berbagai media cetak dan menulis berbagai makalah yang ia presentasikan
di dalam dan luar negeri. Ia juga sering diundang memberi ceramah agama.

MENJELANG masa kampanye pemilu legislatif, Mochtar Naim tidak seperti
calon-calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) lain yang kasak-kusuk mencari
dukungan, berkampanye, dan banyak mengeluarkan uang. Sebagai intelektual
Minang ia sudah sangat dikenal berbagai kalangan sebagai putra daerah
dan
intelektual Minang yang berani bersuara lantang melawan ketidakadilan,
terutama
selama masa Orde Baru. Makanya, meski tanpa kampanye, ia mampu bersaing
dengan 23 calon DPD lainnya dan duduk di DPD.

                 Yang menarik dan sejarah akan mencatatnya, ia adalah
salah satu pencetus ide sistem dua kamar (sistem bikameral) dan
terbentuknya DPD. "DPR dan DPD adalah dua lembaga legislatif yang
terpisah dan analog dengan Kongres bagi DPR dan Senat bagi DPD. Dengan
diciptakannya sistem dua kamar tersebut, maka sistem  keanggotaan ganda
seperti sekarang, yakni di mana anggota DPR juga sekaligus menjadi
anggota MPR, hilang, dan Fraksi Utusan Daerah dilebur ke dalam DPD
dengan sistem pemilihan yang disesuaikan dengan sistem pemilihan DPD,"
kata Mochtar menjelaskan. "Pemisahan menjadi dua kamar ini praktiknya
seperti yang  berlaku di negara penganut sistem federal seperti di
Amerika Serikat, Kanada,  Australia, India, dan beberapa negara lain."

Lebih dari itu, sebagai anggota MPR Utusan Daerah Sumbar, sejak 1999
sampai
sekarang dan selama 30 bulan di antaranya (Oktober 1999-Maret 2002)
duduk di
Badan Pekerja MPR mewakili Fraksi PBB dan kemudian Fraksi Utusan Daerah,
ia
juga dikenal sebagai pencetus konsep lepasnya TNI-Polri dari politik
praktis.

Sampai akhirnya ia digelari "hulubalang" oleh teman-temannya di MPR
karena
analogi yang dipakainya terhadap hulubalang (dubalang) di Minangkabau
yang
tidak turut naik ke balairung dan tidak ikut dalam politik praktis,
tetapi menjaga keamanan di sekitar kampung dan nagari.

"Kalau TNI-Polri masih tetap berpolitik praktis, bukan saja memberi
peluang dan
melegitimasi mereka untuk terus mencampuri urusan politik kenegaraan
seperti
selama ini, tetapi bertentangan dengan prinsip demokrasi yang menekankan
pada
rule of law yang berlaku sama untuk semua, kesetaraan, namun juga
kesediaan
berbeda pendapat. Ini semua tidak ada dalam kamus militer," katanya
memaparkan.

"Dalam bahasa prosais untuk membungkus ketajaman pisau yang saya
pakaikan,
saya katakan salah satu penyebab kegagalan Orde Baru adalah akibat ikut
naiknya
para "hulubalang" ke balairung. Mereka tidak hanya ikut, bahkan terus
duduk ke
anjungan untuk memimpin dan mengendalikan proses pengambilan keputusan
dengan gaya dan cara militer," kata Mochtar Naim.

Banyak ide lain, termasuk aktivitasnya mengegolkan konsep otonomi daerah
dan
bersikap kritis terhadap praktik yang berlaku. Semua itu ia tuangkan
dalam buku
Suara Wakil Rakyat (Penerbit CV Hasanah, 2002, 326 halaman). Buku
tersebut ia
bagikan gratis kepada berbagai pihak, yang baginya merupakan laporan dan
pertanggungjawaban tertulis kepada rakyat. Boleh dikata, Mochtar Naim
adalah
satu-satunya dari 700 anggota MPR yang memberikan laporan
pertanggungjawaban.

Menyelesaikan S2 dan meraih gelar MA di McGill University (1960),
kandidat
doktor di New York University (1960-1964), dan kemudian meraih gelar PhD
dari
University of Singapore dengan disertasi cukup dikenal, yakni Merantau:
Minangkabau Voluntary Migration (1974), Mochtar Naim dari segi umur
memang
tidak muda lagi, tetapi memiliki stamina dan kegairahan kerja yang
jarang anak muda  bisa menandinginya.

Prinsip suami Asma M Naim dan ayah empat anak serta kakek dari delapan
cucu ini
mudah-mudahan tetap tidak berubah seperti selama ini: sederhana, jujur,
dan teguh dalam pendirian. Itu yang bisa kita lihat dari rumahnya yang
sederhana, kamar kerja  yang menyatu dengan kamar tidurnya, rumah
tinggalnya yang tidak memiliki garasi  mobil, dan keberaniannya menolak
masuk Golkar ketika Orde Baru berkuasa sehingga dia dipaksa berhenti
sebagai dosen di Universitas Andalas. (YURNALDI)
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke