> Orang Tua Sumbu Pendek
> Oleh: Mohammad Fauzil Adhim (Suara Hidayatullah)
>
> Tiba-tiba, saya marah kepada anak saya. Saya
> membelalakkan mata lebar-lebar, dengan wajah
> menegangkan dan suara yang menakutkan. Untunglah istri
> saya segera bertindak.
>
> Ia panggil anak saya baik-baik, mengajaknya bicara
> empat mata tanpa amarah yang meluap-luap, lalu
> menasehatinya dengan lembut dan tegas. Anak saya yang
> usianya belum mencapai lima tahun itu memerah matanya,
> merebahkan badannya di pangkuan ibunya tanda bahwa ia
> menyesal -bukan kesal.
>
> Entah apa yang dikatakan oleh ibunya, seperti nyaris
> berbisik, tetapi anak saya segera keluar menemui saya.
> "Bapak, aku sayang sama Bapak. Aku minta maaf, ya?"
> katanya.
>
> Saya pegang tangannya lalu saya pangku. "Iya, Nak.
> Bapak juga minta maaf. Tadi bapak salah. Bapak nggak
> boleh marah seperti itu," kata saya menanggapi, sambil
> diam-diam merasa malu.
>
> Ya, saya tidak boleh marah dengan cara yang buruk.
> Memarahi anak memang boleh jika benar-benar
> dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah.
> Memarahi tidak selalu karena marah, meski acapkali
> orangtua memarahi anaknya karena emosi yang
> meluap-luap, saat hati dan pikiran sama-sama keruh.
> Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang
> terkontrol, jernih dan tenang.
>
> Lalu, seperti apa marah dengan cara yang buruk? Dan
> bagaimana pula seharusnya bila kita harus memarahi
> anak?
>
>
> SUMBU PENDEK
>
> Ada beberapa hal buruk yang sering dialami orangtua
> semacam saya. Mereka cepat tersulut emosinya karena
> ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka
> cepat melampiaskan kemarahan hanya karena
> kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan
> terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak
> menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras,
> membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera
> menghujaninya dengan kata-kata makian dan umpatan.
>
> Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan
> belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula
> orangtua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap
> yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan. Orangtua
> semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat
> terbakar tanpa sempat berpikir.
>
> Sebagian orangtua sumbu pendek menganggap tindakan
> yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan
> terbaik untuk memberi pelajaran pada anak.
>
> "Biar anak tidak kurang ajar," kata seorang ibu,
> "Mereka harus diajari sopan santun." Sayangnya, banyak
> yang merasa mengajarkan sopan santun tanpa pernah
> menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan.
> Mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan
> memarahinya habis-habisan ketika anaknya berbuat yang
> tidak sesuai dengan keinginannya.
>
> Padahal, ada kaidah yang mengatakan, "Qubhunal 'iqab
> bila bayan."
> Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi
> penjelasan.
>
> Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti
> memukuli atau membentak-bentak sambil menyanyikan lagu
> cercaan, "Bodoh itu. Awas, kalau kamu melakukan lagi,
> saya jewer kamu. Ayo, kamu ulangi lagi nggak? Awas kau
> nanti! Kalau kamu lakukan lagi, saya lempar kamu."
>
> Menghukum dengan memberi penjelasan berarti, kita
> menunjukkan kepada anak apa yang baik, apa yang
> sepatutnya dilakukan, dan sesudahnya menunjukkan apa
> yang tidak baik untuk dikerjakan. Kita tunjukkan
> kepada anak konsekuensinya jika anak mengerjakan yang
> buruk dan salah. Atau, kita jelaskan kepada anak
> dengan cara yang lembut dan tegas kesalahan yang baru
> saja ia lakukan.
>
> Sikap yang reaktif atau bahkan impulsif dalam
> menghukum anak akan menjadikan anak belajar menganggap
> kekerasan sebagai hal yang biasa. Tidak menakutkan.
> Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman
> orangtua, asal keinginannya terpenuhi. Alhasil, jika
> Anda sering sekali memarahi anak -apalagi kalau sulit
> ditebak apa yang membuat Anda memarahinya- jangan
> salahkan siapa-siapa kalau anak menganggap Anda
> sebagai macan kertas. Jangan kaget kalau ibunya
> marah-marah, tetapi anaknya yang kelas empat SD
> berkata, "Tuh, ibu lagi kumat."
>
> Sekalipun memarahi dengan cara ini memang bisa
> menghentikan perilaku negatif anak, tetapi bukan
> karena sadar. Anak berhenti melakukan semata-mata
> karena takut kepada orangtua. Sewaktu-waktu ketakutan
> itu memudar, atau merasa tak terjangkau oleh
> pengawasan dan kemarahan orangtua, atau pun merasa
> sudah punya kekuatan untuk berkata tidak, anak tidak
> lagi patuh kepada orangtua. Sebaliknya, anak bahkan
> bisa melawan orangtua.
>
> Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada
> orangtua saat mereka kanak-kanak, tetapi berubah
> menjadi penentang saat remaja. Ada pula yang tetap
> menjaga kepatuhan sampai masa remaja, tetapi hanya di
> hadapan orangtua atau berada dalam jangkauan
> pengawasan orangtua.
>
> Jika ini terjadi pada anak-anak kita, saya tidak dapat
> membayangkan bagaimana nasib kita di akhirat kelak.
> Jangankan di akhirat, ketika uban belum memenuhi
> kepala pun kita sudah bisa sangat kerepotan. Kita
> tidak pernah bisa istirahat, meski cuma sejenak. Kita
> dipaksa mengawasi mereka terus-menerus, padahal kita
> tidak akan pernah punya kesanggupan untuk mengawasi
> mereka secara benar-benar sempurna.
>
> Karenanya, marilah kita memohon kepada Allah penjagaan
> atas hati dan iman anak-anak kita. Sesungguhnya,
> sebaik-baik penjaga adalah Allah 'Azza wa Jalla.
> Selebihnya, marilah kita ingat pesan Rasulullah
> shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan
> oleh Imam Bukhari:
>
> Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. "Ya Rasul
> Allah, berpesanlah kepadaku."
> Nabi saw berpesan, "Laa taghdhab! Jangan marah."
> Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi saw
> tetap berpesan berulang kali pula, "Laa taghdhab!
> Jangan marah." (HR. Bukhari).
>
> Ya, jangan marah. Tetapi alangkah sulitnya menahan
> marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh.
> Lebih-lebih jika tak ada keteduhan jiwa antara suami
> dan istri lantaran kurangnya syukur atau banyaknya
> keluh kesah. Atau boleh jadi keadaan itu tidak terjadi
> di rumah kita, tetapi kita masih sulit mengelola emosi
> sehingga mudah melampiaskan kemarahan secara
> berapi-api. Dan inilah yang dirasakan oleh banyak
> orangtua. Mereka sebenarnya ingin menjadi orangtua
> yang paling lembut, paling sayang dan paling bijak
> kepada anaknya. Mereka tidak ingin kasar dan bertindak
> secara tergesa-gesa, tetapi masih saja sering
> melakukan kegagalan.
>
> Dalam kasus yang terakhir ini, kerjasama antara suami
> dan istri sangat penting peranannya. Mereka perlu
> saling mengingatkan dan saling menyadari keterbatasan.
>
> Berkenaan dengan mengingatkan, ada dua hal penting
> yang perlu kita perhatikan.
>
> 1. Ingatkanlah kekeliruan yang dilakukannya saat ini
> tanpa memojokkan. Tanpa menyalahkan. Teguran yang
> disampaikan dengan baik dan lembut akan lebih mudah
> diterima. Seperti sore itu, istri saya memberi teguran
> dengan empatik tanpa suara yang meninggi, sehingga
> saya segera menyadari kekeliruan atas tindakan saya
> kepada anak.
>
> 2. Terimalah teguran itu dengan lapang. Bukan sebagai
> ancaman atau serangan terhadap harga diri. Sebaik dan
> selembut apa pun nasehat yang diberikan, tapi kalau
> kita menerimanya dengan penuh kecurigaan ("Tumben, kok
> dia bicara seperti itu."), menganggapnya sebagai
> serangan terhadap harga diri ("Kok sepertinya cuma
> saya yang bersalah, padahal dia juga melakukan banyak
> kesalahan."), apalagi kita tanggapi dengan serangan
> balik ("Apa kamu merasa tidak pernah melakukan
> kesalahan?"), maka seluruh upaya yang baik itu akan
> sia-sia.
>
> Komunikasi akan macet dan saling pengertian tidak
> tercapai. Boleh jadi, ini akan memicu komunikasi yang
> bernada saling menyerang dan memaksa. Inilah yang
> disebut coercive communication, salah satu penyebab
> utama pertengkaran dan perceraian.
>
>
> Masih tentang marah. Memarahi anak secara impulsif,
> tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat
> membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut
> terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang
> paling keras sekalipun. Ia merasakannya sebagai ritme
> hidup yang harus dijalani dan karena itu tidak perlu
> dirisaukan lagi. Rasa dongkol dan sakit hati memang
> tetap ada, tetapi tidak membuat anak jera.
>
> Jika ini terjadi, kemarahan orangtua akan
> berkejar-kejaran dengan "kenakalan" anak. Orangtua
> marah sepanjang hari, berteriak setiap saat, dan
> mencubit tanpa henti; sementara anak akan tetap
> melakukan kenakalannya. Bahkan boleh jadi, anak akan
> berusaha melawan sebisa-bisanya.
>
> Keadaan ini akan lebih buruk lagi jika orangtua suka
> marah semata-mata karena mengikuti kata hatinya. Jadi
> benar tidaknya perbuatan anak, ditentukan oleh suasana
> hati orangtua. Hari ini satu perbuatan bisa disambut
> dengan senyuman, atau sekurang-kurangnya dibiarkan
> tanpa teguran, tetapi besok bisa tiba-tiba
> mendatangkan amarah yang menakutkan. Ini menyebabkan
> anak tidak bisa belajar mengambil keputusan yang baik.
> Sebaliknya, ia hanya mengikuti kemana angin bertiup
> atau belajar melawan. Ia tidak punya pendirian yang
> teguh, lemah, mudah terpengaruh atau sebaliknya, ia
> menjadi orang yang sangat keras kepala.
>
> Di sisi lain, tindakan kita yang secara reaktif
> memarahi anak bisa mematikan kreativitas dan potensi
> unggul anak. Saya pernah melakukan kesalahan. Dua
> orang anak saya mengambil cucian yang belum selesai
> dibilas, sehingga pekerjaan justru bertambah. Saya
> segera bertindak. Cucian itu saya ambil tanpa bertanya
> kepada anak. Meskipun tanpa memukul dan atau
> membentak, tetapi anak saya menampakkan tanda ingin
> berontak. Ia dongkol. Ketika itulah saya tersentak.
> Saya dekati mereka dan bertanya, "Cuciannya kenapa
> diambil, Nak?"
>
> "Aku mau bantu. Biar ibu nggak capek," kata Husain.
> "Aku hati-hati kok ngambilnya, Pak," kata Fathimah
> menambahkan, "Aku mau bantu Bapak."
>
> Ya... Allah, maksud yang baik tetapi saya sikapi
> dengan buruk. Dan alangkah sering kita melakukan yang
> demikian. Karenanya, begitu menyadari kekeliruan yang
> saya lakukan, saya segera meminta maaf sekaligus
> ucapan terima kasih kepada mereka. Sesudahnya, saya
> beri sedikit penjelasan. Bayangkan kalau kesalahan
> semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi
> kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat
> berkembang!
>
> Benarlah kata Rasulullah. Jangan marah! Jangan marah!
> Jangan marah! Boleh memarahi anak, tetapi bukan untuk
> memperturutkan emosi. Ini butuh usaha yang keras dan
> kesediaan saling mengingatkan antara suami dan istri.
>
> Nah, semoga Allah membaguskan akhlak kita dan
> mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menjaga
> keturunan kita seluruhnya.
>
> Allahumma amin.
>
>
>
>
>
> ===================================================================
>         Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> ===================================================================
>
> Yahoo! Groups Links
>
> <*> To visit your group on the web, go to:
>      http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
>
> <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
>      [EMAIL PROTECTED]
>
> <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
>      http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
> Anda belum unsubscribe milis [daarut-tauhiid]. Tolong segera dilakukan,
sehubungan telah berlakunya Regulasi IT.
> Atau hubungi departemen SIM.
>
>

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke