EDITORIAL MEDIA INDONESIA :
Korupsi Paling Kompak Anggota Dewan Sumbar

INILAH korupsi paling kompak. Dilakukan oleh 43 orang dari 55 wakil rakyat Provinsi Sumatra Barat. Pengadilan Negeri Padang pun memvonis 24 hingga 27 bulan penjara terhadap orang-orang parlemen itu. Mereka terbukti melakukan korupsi dana APBD senilai Rp5,9 miliar.

Inilah keputusan berani, tegas, dan tentu saja melegakan bagi para pendamba penegakan hukum. Karena itu, kita mengapresiasinya.

Vonis itu agaknya menjadi warta paling memalukan dalam sejarah perjalanan wakil rakyat kita selama ini. Sebab, ini justru dilakukan oleh para anggota dewan yang dipilih pada era reformasi. Sebuah era yang kita isi dengan semangat untuk mengganti rezim lama yang otoriter dan korup.

Selain vonis terhadap para wakil rakyat provinsi, yang tidak kalah dahsyat dan kini masih dalam proses persidangan, adalah dugaan korupsi terhadap 45 anggota DPRD Kota Madya Padang. Jumlah uang rakyat yang mereka tilap pun lebih besar lagi dari "kakaknya", yakni Rp10.4 miliar.

Artinya, jika nanti mereka terbukti bersalah seperti yang dilakukan para anggota DPRD provinsi, akan ada 45 orang lagi anggota dewan yang bakal menjadi orang bui. Luar biasa! Betapa buruk moralitas dan tanggung jawab mereka sebagai wakil rakyat. Alih-alih membela kepentingan rakyat, malah mengembat uang rakyat.

Kita memang sungguh kaget karena korupsi kolektif terbesar itu justru terjadi di Sumatra Barat. Provinsi yang masyarakatnya dikenal memegang teguh nilai-nilai adat dan agama. Adat basandi sara, sara basandi kitabullah adalah sebuah bingkai kultural dan keagamaan yang padu, yang menjadi pegangan masyarakat Minang.

Tetapi, selain kaget, vonis terhadap para anggota Dewan juga menyemaikan harapan. Harapan bahwa hukum ternyata masih bisa ditegakkan. Harapan bahwa masa depan Indonesia ternyata belum habis. Harapan bahwa memberantas korupsi itu bisa. Asal ada iktikad dari para penegak hukum itu sendiri. Sebab, kuncinya memang ada pada mereka.

Keberanian menegakkan hukum di Sumatra Barat, mestinya menjadi spirit polisi, jaksa, dan para hakim di tempat-tempat lain dalam memberantas korupsi. Siapa tahu di provinsi lain korupsi anggota legislatifnya lebih gila-gilaan. Tetapi, karena para penegak hukum bermain mata dengan para koruptor, kasus-kasus korupsi pun menguap laksana buih-buih lautan ditiup angin. Menghilang ....

Yang juga patut ditiru dari masyarakat Minang --kecuali anggota legislatifnya-- bahwa mereka sepenuhnya menyerahkan persoalan hukum kepada pengadilan. Kepada mereka yang dipercaya untuk menegakkan hukum. Sepanjang yang kita pantau, mereka tidak melakukan dukung-mendukung yang sering dilakukan oleh para broker politik seperti di daerah lain, yang ujung-ujungnya adalah teror terhadap pengadilan.

Law enforcement (pelaksanaan hukum) memang butuh keberanian dan kesungguhan. Dan, para penegak hukum di Sumatra Barat telah menunjukkan kesungguhan itu!

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke