To: [EMAIL PROTECTED] 
From: "Ferry Hadary" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Tue, 18 May 2004 19:55:35 -0700 (PDT) 
Subject: [daarut-tauhiid] Indahnya Cinta Pertama 

Indahnya Cinta Pertama
Author: Abu Aufa

Lunglai...
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di 
dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat 
di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah.
Tak lama, sosok mungil itu ada di dalam dekapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan 
kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat
matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hati tercinta. 
Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.
Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam, pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium 
dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Yang dirindukan pun sedikit 
menggeliat. SubhanaLlah, betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Allah. Mata kecilnya memang 
belum bisa melihat dengan sempurna, namun nalurinya berkata, dirinya berada di tangan 
seseorang yang sangat mencintainya.
Elusan lembut dan sapaan yang sering terdengar saat masih di dalam rahim, kini dapat 
dirasakan. Aura cinta pun memancar dari kedalaman hati seorang ibunda, menyelimuti 
sang buah hati yang baru saja menyapa dunia dengan lengkingan tangisannya.

Indah, bahkan teramat indah...
Cinta ibunda memang cinta yang paling indah. Cinta itu selalu ada di sisi mereka, dan 
tiada pernah ragu untuk dilimpahkannya. Mereka-lah yang tak pernah kenal lelah menjaga 
dan membesarkan kita semua. Bahkan ketika kita belum mengenal sepatah kata, ibunda jua 
yang mengajarkan tentang makna kasih sayang dan cinta.
Adakah cinta yang dapat menyaingi cinta seorang ibunda? Betapa dengan kasihnya, masa 
kehamilan dilewati dengan keikhlasan dan kesabaran. Perasaan mual, pusing, ditambah 
dengan membawa beban di perutnya yang semakin hari semakin berat, hingga saat antara 
hidup dan mati ketika melahirkan, tak akan dapat tergantikan oleh cinta-cinta lain 
yang penuh kepalsuan. 
Ibunda pun bagaikan pelabuhan cinta bagi anak-anaknya. Kerelaan mereka untuk sekedar 
disinggahi, lalu ditimbun dengan segala resah dan gundah, bahkan amarah, hanya dibalas 
dengan senyum kesabaran. Tak heran, seorang ibunda sanggup memelihara sedemikian 
banyak anak yang dilahirkannya, namun belum tentu satu anakpun bersedia menjaga 
dirinya hingga beliau tutup usia.

Aaah...
Rasanya kita semua pernah mengalami jatuh cinta. Dan cinta pertama itu selalu terhatur 
pada seseorang yang selalu berada di samping kita, tempat curahan suka dan duka. 
Ketika lapar, dengan tangannya ia menyuapkan makanan, diberikannya air susu dengan 
tulus saat kita haus, hingga diajarkannya berakhlak mulia bagaikan RasuluLlah 
SallaLlaahu Alayhi Wasallam, uswatun hasanah. 
Ibunda memang bukan hanya madrasah pertama bagi anak-anaknya, tapi mereka-lah cinta 
pertama kita.
Dan apakah ada cinta yang paling indah daripada cinta pertama?

WaLlahua'lam bi shawab.
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Abu Aufa




____________________________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke