Berita Utama (Kompas)
Rabu, 26 Mei 2004


Warga Sumbar Menimbang Presiden

JAUH SEBELUM pasangan calon presiden ditetapkan Komisi Pemilihan Umum,
diskusi politik sudah menjadi kebiasaan masyarakat Minangkabau,
Sumatera Barat. Perbincangan hanya terbatas kedai lapau. Sambil taksi,
naik bendi (delman), angkutan umum, atau nongkrong di pos ronda,
pembicaraan tak lepas dari persoalan wakil rakyat, pemimpin, dan
segala yang berbau politik.


"Berbicara politik sudah jadi rutinitas masyarakat Minang," kata
Syuhendri Datuak Siri Maharajo, penghulu di Nagari Balingka, Kabupaten
Agam, Sumatera Barat (Sumbar).


Dalam pandangan orang Minang, pemimpin hanya simbol. Pemimpin yang
sebenarnya adalah kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Dengan filosofi
adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, pemimpin akan
dihormati dan dihargai apabila tingkah lakunya sesuai dengan adat dan
agama. Artinya, pemimpin tidaklah kebal hukum.


Jangan heran jika masyarakat berani mengungkap berbagai kasus korupsi
di lembaga legislatif. Atau bagaimana gencarnya masyarakat Sumbar
menuntut pemisahan (spin off) PT Semen Padang karena dalam proses
akuisisi tahun 1995 ternyata ada Rp 581 miliar dana yang "menguap",
termasuk permainan penjualan saham PT Semen Padang kepada pihak asing,
yang dinilai kelewat murah.


Menurut Kamardi Rais Datuak P Simulie, Ketua Lembaga Kerapatan Adat
dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, ada empat kriteria pokok seorang
pemimpin menurut budaya Minangkabau. Pertama, tinggi tampak jauah dan
nan gadang jolong basuo (tinggi kelihatan dari jauh dan yang besar
awal bertemu). Dalam istilah sekarang adalah akseptabilitas.


Kedua, tinggi dek dianjuang, gadang dek diambak (tinggi karena
diangkat, besar karena dipupuk). Artinya, keberadaannya diterima umat,
kaum, dan bangsa. Ketiga, tinggi menyentak rueh (tinggi karena ruas),
artinya ia mempunyai integritas pribadi, berilmu pengetahuan,
berwawasan luas. "Keempat, pemimpin itu didahulukan salangkah,
ditinggikan sarantiang. Maksudnya, pemimpin tidak membuat jarak dengan
rakyat," kata Simulie.


LANTAS, siapa pemimpin yang dibicarakan? Menurut Asril Kota, tokoh
Pemula Olo, Padang, pemimpin bangsa adalah pemimpin rakyat. "Hasil
pemilu legislatif tak bisa jadi pegangan. Justru hasil pemilu
legislatif juga ditentukan dari calon presidennya," katanya.


Mengapa suara Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
merosot di Sumbar? Kalau ditanyakan kepada masyarakat, dengan tangkas
mereka bisa menjawab. "Amien Rais betul tokoh reformis, tapi di Sumbar
kelakuan kader PAN di legislatif bertolak belakang. Amien dalam
kampanye gagah-gagahan dengan pesawat, kampanye capres (calon
presiden) minta sumbangan ke rakyat, seperti iklan di media massa. Ini
tak masuk akal. Satgas PAN juga bukan main overacting- nya," kata
Deddy, warga Batang Kabung.


PAN di Sumbar juga terjebak dalam konflik internal. Konflik ini
dimulai dari kegagalan memenangi pemilihan Gubernur Sumbar periode
2000-2005, diikuti konflik pergantian pengurus di tingkat provinsi dan
di Kota Padang, serta konflik dalam pemilihan Wali Kota Padang.


Menyinggung nama Megawati Soekarnoputri (capres dari PDI-P), misalnya,
warga Sumbar pun memberi penilaian yang senada, kurang berhasil, dan
kurang konsisten. Kasus yang melilit PT Semen Padang tak terlepas dari
peran Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Laksamana Sukardi dan
Presiden Megawati. "Pamor Megawati jatuh gara-gara kasus itu. Anak
kemenakan suaminya (Taufik Kiemas) dilanda gempa bumi, ia tak bereaksi
cepat. Itu sebabnya PDI-P kalah di kampung Taufik Kiemas, di Nagari
Batipuah, Tanahdatar, Sumbar," kata Indra, warga Siteba.


Hamzah Haz (capres dari PPP) juga dinilai masyarakat Sumbar setali
tiga uang. Cuma, ada persoalan internal di tubuh Dewan Pimpinan
Wilayah (DPW) PPP Sumbar yang sebenarnya telah menyebabkan sebagian
besar kader fanatiknya "pindah ke lain hati". "Sejumlah kader
berpengaruh terdepak dari DPW PPP Sumbar sehingga menimbulkan
kekecewaan pendukungnya," kata Indra Sakti Nauli, seorang redaktur
sebuah majalah di Padang.


Begitu juga Wiranto, capres dari Partai Golkar, peraih suara terbanyak
di Sumbar. Ada soal yang mengganjal. "Dalam konvensi Golkar di Sumbar,
Wiranto meraih suara terbanyak. Namun, citra partai Orde Baru belum
hilang. Kasus korupsi di DPRD Sumbar banyak melibatkan orang Golkar,"
kata Syamsiar, pedagang, di Padang.


Bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla yang
dicalonkan sebagai capres dan calon wakil presiden (cawapres) dari
Partai Demokrat? Inilah tampaknya yang hangat dibicarakan sebagai
pemimpin takah (patut dan pantas). Dasrul Djabar, pengusaha di Padang,
mengatakan, dibandingkan dengan calon lain, Yudhoyono hampir tak punya
masalah. Pasangannya, Jusuf Kalla, juga serasi dan memberi harapan.
Apalagi Jusuf adalah sumando urang awak, istrinya orang Minang dan
sudah membangun rumah gadang di Nagari Lintau dan anaknya jadi
penghulu. Tim suksesnya juga melibatkan tokoh Minang, seperti Azwar
Anas dan Hasan Basri Durin.


LANTAS, bagaimana penilaian kalangan cendekiawan? Menurut Saldi Isra,
ahli hukum tata negara dari Universitas Andalas dan Direktur Eksekutif
Pusat Kajian Hukum Wilayah Barat, karena pemilihan presiden langsung
adalah pengalaman pertama, maka sulit menentukan siapa yang menjadi
pemenang di Sumbar. "Apalagi, hampir kelima pasangan (capres-cawapres)
belum dikenal luas, atau memberi kontribusi nyata bagi Sumbar,"
ujarnya.


Kalau ditilik dari basis kultural, Muhammadiyah besar di Sumbar, Amien
Rais punya peluang besar. Namun, apabila dikaitkan dengan pemenang
pemilu legislatif, Wiranto punya peluang besar.


Manurut Saldi, kalau keduanya dibandingkan, Amien Rais sebagai tokoh
reformis lebih populer di Sumbar dibandingkan dengan Wiranto. Namun,
untuk memenangi pemilu presiden, tentu harus ada mesin politik.


"Partai Golkar punya mesin politik yang lebih kokoh dan mapan sampai
ke desa-desa. Sementara, ada faktor lain, seperti suara Partai
Keadilan Sejahtera yang masuk tiga besar di Sumbar akan memberikan
suara ke Amien. Atau Partai Bulan Bintang ke SBY," paparnya.


Saldi menjelaskan, ada faktor lain yang menentukan pemerolehan suara,
yakni bagaimana tim kampanye pasangan capres-cawapres itu bekerja.
Kita lihat saja. (YURNALDI)




===========================================================================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
===========================================================================================
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke