On Mon, 24 May 2004 19:28:47 -0700 (PDT)
 amir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   Siswono Yudo Husodo (1)

           Cawapres Teruji Bersih KKN

Selama menjabat Menteri Negara Perumahan
Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Permukiman
Perambah Hutan (1993-1998), ia telah teruji bersih dari KKN. Ketua Umum
HKTI penerima Entrepreneur Agribusiness Award 2003, ini seorang yang
telah menjalani pergulatan hidup dalam berbagai kegiatan. Mulai dari
pengusaha, politisi, menteri, petani hingga didaulat menjadi
calon presiden independen Pemilu Presiden 2004 oleh sejumlah partai.
Kemudian atas berbagai pertimbangan, ia memilih menerima tawaran
menjadi Cawapres berpasangan dengan Amien Rais sebagai
Capres dari PAN. Ia Cawapres teruji bersih KKN!


Boleh juga ia disebut sebagai sosok unik
dan kontrover-sial. Saat pengganyangan terhadap Bung Karno, ia
adalah mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno.
Tapi pada era Presiden Soeharto, ia malah diangkat sebagai
menteri dalam dua kali kabinet.


Selama menjabat menteri, pada era Orde
Baru yang otoriter dan korup, itu ia teruji mampu tidak terlibat dalam
arus deras KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang bermuara
menyengsarakan rakyat. Ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk
memperkaya diri sendiri dan kerabatnya.


Tidak banyak orang yang mampu seperti itu.
Kebanyakan orang, hanya bisa berteriak antikorupsi pada saat tidak
punya kekuasaan dan kesempatan. Tapi setelah memperoleh
kekuasaan dan kesempatan menjadi pejabat, baik eksekutif maupun legislatif
dan yudikatif, mereka terjerumus bahkan lebih serakah. Mereka
menjadi koruptor baru. Mereka tak tahan uji.


Siswono telah teruji dalam hal ini. Ia
seorang tokoh yang telah pernah berada di deretan puncak kekuasaan
sebagai menteri, dan mampu berperan optimal sekaligus melepaskan diri
dari kemerajalelaan korupsi di sekelilingnya. Hanya saja,
ketika itu, posisinya hanyalah sebagai pembantu presiden. Sehingga tidak
punya otoritas yang cukup untuk memutus mata rantai KKN itu.


Namun untuk diri dan lingkungannya, ia
mempu bertindak bersih dari KKN itu. Contoh konkritnya, sebagai
seorang pengusaha yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Negara
Permumahan Rakyat dan Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah
Hutan, ia melepas diri dari manajemen perusahaannya. Bahkan
perusahaannya, PT Bangun Tjipta Sarana Group, dilarang menjadi rekanan di
instansi pemerintah yang dipimpinnya.


Track record-nya yang praktis tanpa cacat
dan bersih KKN itu telah menjadikan namanya tetap hidup disanubari
publik. Terbukti, kendati ia tidak lagi menjabat menteri, masih saja
ada orang yang memanggil suami Ratih Gondokusumo (notaris) ini, Pak
Menteri. Ayah Mutiara, Savitri, Emeralda (meninggal dunia saat
berusia 11 tahun), Rubyeta dan Pirousi ini dikira dan diperlakukan
masih seperti pejabat.


Menteri Jadi Petani
Padahal belakangan, mantan Ketua Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (1973-1977) dan Ketua Persatuan Pengusaha
Real Estat Indonesia (1983-1986), ini sudah menjadi petani.
Sejak 1999 ia hanya menjadi anggota MPR mewakili petani. Kesibukannya
sudah lebih banyak di pertanian. Tapi banyak orang masih lebih
mengenal dan menganggapnya sebagai pejabat.


Jebolan Teknik Sipil ITB tahun 1968 ini
fasih menerangkan bagaimana mengawinkan domba, bagaimana memilih bibit
domba unggul, dan bagaimana bercocok tanam tembakau dan
sayur-mayur. Kesibukan dan keahlian ini sudah menjadi bagian lain
dari putaran roda hidup calon presiden independen ini.


Ia sungguh jadi petani! Dalam beberapa
tahun terakhir, dia sering bersepeda motor menyusuri jalan
Jakarta-Sawangan, Kabupaten Bogor untuk menengok salah satu peternakan domba
seluas 20 hektar miliknya. Di sanalah ia sering mengisi
akhir pekannya.


Perhatian pria kelahiran Long Iram,
Kalimantan Timur 4 Juli 1943 ini terhadap masalah pertanian makin kuat
setelah tidak lagi berada di birokrasi dan ketika masyarakat tani
memilihnya menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)
sejak 1999. Kendati kesibukannya di seputar pertanian itu
bukan hanya karena ia menjadi Ketua Umum HKTI itu, tapi sudah sejak awal
ia sudah mengelola usaha tani. Sebelum ia bersama rekannya
mendirikan CV Bangun Tjipta Sarana yang kemudian menjadi PT Bangun Tjipta
Sarana, sebuah kelompok usaha dengan bisnis inti konstruksi, ia telah
berdagang bawang putih dan kedelai saat diskors satu setengah tahun
di ITB karena menjadi Wakil Komandan Barisan Soekarno.


Ketika Bangun Tjipta didirikan dengan
modal Rp 7,5 juta, ia hanya mengonsentrasikan di bisnis konstruksi.
Awalnya bisnis yang dimulai dari garasi milik orang tuanya di kawasan
Menteng itu hanya mengerjakan proyek kecil seperti
memperbaiki WC hingga membuat rumah.


Dengan berkembangnya usaha hingga
membangun jalan tol dan kawasan perumahan, ia mulai membuka usaha
pertanian dengan membuka perkebunan kelapa sawit di Kalimantan
Selatan. Selanjutnya diikuti dengan usaha kelapa sawit di Sumatera
Selatan, peternakan sapi di Sumbawa lalu pertanian terpadu di
Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang dan peternakan domba di Sawangan
itu.


Masa kecilnya memang tak terlepas dengan
suasana pertanian. Sewaktu SD dan SMP di Kendal, sebuah kota kecil di
barat Semarang. Daerah itu dikitari sawah yang sangat luas.
Teman-temannya anak petani yang kalau pulang sekolah, lalu menggembalakan
kerbau sambil mamandang keindahan alam yang di sebelah selatan
tampak Gunung Perahu, Gunung Ungaran, Gunung Sindoro, dan Gunung
Sumbing. Ia menyaksikan keluarga petani dengan kesederhanaan, keyakinan,
ketekunan dan kepasrahannya kepada alam. Lingkungan alam yang demikian
itu membekas kuat di hatinya. Tiga bulan sekali kalau tidak
pulang ke kota itu, ia merasa ada kerinduan.


Menurutnya, potensi Indonesia untuk
mensejahterakan petani sangat besar dan luar biasa. ?Tetapi kita
membiarkan petani hidup di bawah kelayakan skala ekonomi,? katanya. Sekitar
tahun 1950-an, petani memiliki sawah paling tidak lima hektar.
Ketika itu petani kalau sunatan sering nanggap wayang kulit sampai
tiga hari tiga malam. Petani itu kaya-kaya. Akan tetapi dengan
perubahan generasi terjadi fragmentasi lahan, dibagi ke anak-anaknya
sehinga petani miskin. Sekarang yang nanggap wayang kulit bukan
lagi penduduk desa tetapi orang kota.


Ia berobsesi mengembalikan kondisi
pertanian ini. Untuk itu, katanya, pembangunan harus lebih seimbang
antara pedesaan dan perkotaan. Sekarang ini tidak ada
pembangunan ke pedesaan yang menarik sehingga mereka pindah ke kota.
Soal skala ekonomi, sekarang petani sudah telanjur memiliki unit yang
sangat kecil.
Menurutnya, jika tidak ada langkah
sistematis dan konsisten dipastikan Indonesia akan semakin
tergantung pada luar negeri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Produksi
pertanian yang kini terus menurun tidak sebanding dengan percepatan
pertambahan penduduk. Hal itu membuat negeri ini jadi incaran asing,
agar semakin tergantung pangannya pada mereka.


Sesungguhnya, Indonesia berpotensi besar
untuk memproduksi hasil pertanian. Indonesia memiliki kekayaan
alam luar biasa sehingga tidak ada alasan menjadi importir pangan
terbesar. Petani di negara lain seperti di Australia dan Amerika
Serikat merupakan orang kaya karena memiliki skala usaha ekonomi yang
besar. Masalahnya di Indonesia skala ekonomi usaha tani
sedekimian kecilnya, sehingga tidak memungkinkan mereka hidup sejahtera.


Petani harus bekerja dengan skala ekonomi
yang mensejahterakan mereka. Misalnya, jangan membiarkan
peternak memelihara ayam 10 ekor karena paling tidak beternak ayam itu
harus 2.000 ekor. Jangan membiarkan beternak domba lima ekor,
paling tidak harus 50 ekor. Kalau petani hanya memiliki sapi satu ekor
sudah pasti tidak sejahtera, bikinlah menjadi 12 ekor. Di
sinilah peranan perbankan untuk membantu mereka sehingga petani
bekerja dengan skala ekonomi yang menjamin usahanya mensejahterakan
mereka.


Pergulatan Hidup
Sebagai seorang yang telah menjalani
pergulatan hidup dalam berbagai kegiatan, mulai dari merintis usaha lalu
jadi pengusaha, menteri, dan mejadi petani, ia melihat dalam hidup
ini tidak ada orang yang tahu tentang masa depannya. Tetapi, dalam
ketidaktahuan itu yang harus dilakukan setiap orang adalah
bekerja sebaik-baiknya dimana dan kemana pun dia berada. Jadi petani
jadilah petani yang baik. Jadi pengusaha jadilah pengusaha yang
baik.


Ketika mahasiswa, gara-gara situasi
politik, antara lain karena dia aktif dalam Laskar Soekarno di Bandung,
kuliahnya di Jurusan Teknik Sipil ITB nyaris terbengkalai karena ia
terkena skorsing. Padahal, tinggal dua mata kuliah saja yang
tertinggal. Lalu, menyadari bahwa dirinya tak lagi mungkin bekerja di
pemerintahan, ia kemudian berdagang bawang putih dan kedelai dari
Malang ke Jakarta, selain bekerja di perusahaan kayu jati dan mebel.


Tentu saja, langkah ini jauh dari harapan
Soewondo, ayahnya, yang menginginkan agar ia mengikuti jejaknya
sebagai seorang dokter. Dr. Soewondo sendiri pernah menjadi wakil
gubernur DKI di zaman Bung Karno. Sementara, Siswono sendiri, waktu
remaja, ingin menjadi pelaut.


Dengan bekal Rp 7,5 juta, pada 1969, ia
mendirikan sebuah CV yang bergerak di bidang pekerjaan bangunan,
yang kemudian ditingkatkan menjadi PT Bangun Cipta Sarana. Usahanya
kemudian kian beragam ke usaha perdagangan atau keagenan alat-alat
berat, sehingga ia pun mendiversifikasikan perusahaannya. Maka
lahirlah PT. Asniaga Sarana. PT. Bangun Cipta Sarana lebih bergerak ke
properti, termasuk kompleks perumahan Kemang Pratama, dan
pemilik jalan tol Cawang-Cikampek, dan tol Bandara
Cengkareng sampai Kebon Jeruk.


Duapuluh dua tahun ia memimpin PT. Bangun
Cipta Sarana. Kemudian selama sepuluh tahun dilepas saat ia
menjabat menter. Selama ia tinggalkan, perusahaan itu jauh lebih
baik. Itu berkat pengaderan yang baik sebelumnya. ?Pada waktu saya
tinggalkan, mereka berdebat untuk mengambil keputusan, karena merasa
level-nya sama, dan putusannya ternyata bisa lebih bagus,?
katanya.


Saat menjabat menteri itu, tidak hanya
manajemen yang dilepas, saham pun tidak dipegang. Sepuluh tahun
benar-benar ia serahkan pada manajemen supaya dikelola dengan baik.
Sebab ia tidak mau ada pertentangan dalam batin. Menurutnya,
paling enak kalau kita hidup sama dengan apa yang kita rasakan dan sama
dengan apa yang kita pikirkan.


Menurutnya, bahayanya ada pendiri dalam
manajemen, menjadikan para staf dan manajemen cenderung mengiyakan.
Cenderung mengikuti, bukan berdebat. Itulah yang terjadi pada
founders almarhum Hasyim Ning, Dasaad, William Soeryajaya, Soedarpo dan
Ciputra.


Maka setelah lengser dari jabatan menteri,
ia kembali memimpin dua grup perusahaannya, yakni di Bangun Cipta
Sarana, dan Artha Guna Cipta Sarana (bergerak dalam investment
company dan pemilik Jakarta Design Center, Apartemen Semanggi, serta
tambak ikan di Jawa Tengah dan kebun kelapa sawit di Sumatera
Selatan), tidak dalam posisi direktur utama tapi dalam posisi Presiden
Komisaris.


Ketika terjadi krisis ekonomi, ia
bersyukur grup usahanya tidak mempunyai pinjaman dalam dolar. Sehingga
perusahaannya selamat dari badai krisis ekonomi itu. Tentang
kebijakan tidak meminjam dolar tersebut, ia merendah bukan karena ia
pintar, tapi lebih karena perlindungan Tuhan. Dalam bisnis itu ada
yang masuk dalam perhitungan dan ada juga yang disebut
luck, keberuntungan. Orang Cina bilang, hoki. Di samping itu, ada
perlindungan Tuhan.


Ia memberi contoh nyata ketika, saat
mengerjakan proyek tol Cawang-Cikampek, hampir saja mereka
mengganti pinjaman rupiah dalam bentuk dolar. Ketika itu, semua orang
menganjurkan meminjam dalam bentuk dolar, karena bunganya lebih
rendah. Direksi sudah mau pinjam dollar, bank pun sudah setuju. Tapi ia
memberi berbagai pertimbangan kepada direksi, dan akhirnya tidak jadi.
?Karena itu kita jadi selamat,? katanya.


Ia mengakui dalam perjalanannya menjadi
pengusaha tidak selamanya berjalan mulus. Ia menjadi pengusaha
selama 20 tahun, sejak 1968 sampai sebelum menjadi menteri tahun 1988.
Setelah itu selama 10 tahun menjadi menteri. Lalu kembali lagi
menjadi pengusaha. Tidak selamanya berjalan mulus. Pernah juga
hampir bangkrut. Satu hal yang bisa ia petik pelajaran dari segala
peristiwa itu adalah setiap pukulan selama tidak membuat Anda mati,
maka akan membuat Anda berkembang. Jadi betapa pun beratnya
jangan takut untuk menghadapi kesulitan. Kesulitan itu yang biasanya
membuat seseorang akan sukses.


Bedanya orang yang sukses dengan yang
gagal adalah orang sukses setiap kali mendapat pukulan dia maju
menghadapinya. Orang yang gagal adalah setiap kali menghadapi
pukulan dia minggir. Jadi, para pengusaha sukses, seperti Soedono Salim,
William Soeryajaya, Arifin Panigoro, dan pengusaha yang lebih besar
lagi di luar negeri juga mereka mengalami naik dan turun, seperti
juga di bidang politik. Up and down adalah bagian dari kehidupan.
Jangan sampai orang karena terkena pukulan lalu minggir. Itu salah!


Demikian juga ketika ia berada dalam
birokrasi. Ia duduk di birokrasi selama 10 tahun sebagai menteri.
Di situ ia merasakan betul menjadi menteri di negara seperti
Indonesia ini adalah peluang bagi seseorang untuk memberikan pengabdian
yang luar biasa besarnya. Karena peranan dan kekuasaan menteri itu
besar sekali dalam mewarnai perkembangan masyarakat.


Jadi, menurutnya, sangat sayang kalau ada
menteri yang tidak memanfaatkan peluang yang diberikan
sejarah ini untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi perubahan,
melakukan penyempurnaan-penyempurnaan. Sebab
kewenangan menteri itu luar biasa. Memimpin suatu departemen dengan
disediakan anggaran yang mencapai trilyunan rupiah.


Maka, katanya, bayangkan saja kalau anda
memegang trilyunan rupiah, tapi tidak berbuat sesuatu yang berguna
bagi masyarakat. Yang dilakukan bukan membuat perbaikan
kepentingan masyarakat, tapi habis dikorup kan kacau itu. Menjadi menteri
adalah kehormatan yang sangat tinggi sekaligus di dalamnya melekat
tanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
bangsa dan negara. Peluang untuk melakukan perbaikan dan perubahan
itu begitu besar.


Sebelum menjabat menteri, ia tidak pernah
membayangkan peranan menteri seperti itu. Tapi setelah menjadi
menteri, baru ia sadar bahwa ternyata jabatan itu memberikan
peluang yang luar biasa untuk berguna bagi masyarakat dan negara. Maka
waktu ia menjadi Menteri Negara Perumahan, ia mengeluarkan
kebijakan rumah sangat sederhana. Karena rakyat tidak mampu memiliki, lalu
kredit pemilikan rumah dengan bunga yang murah, membangun
Tabungan Perumahan Pegawai (Taperum) dan berbagai kebijakan termasuk
peremajaan pemukiman nelayan, peremajaan pedesaan tertinggal
dan sebagainya. Kemudian, ketika menjadi menteri transmigrasi ia
mengembangkan sapi di Marauke dan pulau-pulau lain.


Ketika diangkat menjadi Menteri Negara
Perumahan Rakyat pada Maret 1988, banyak orang terpereranjat.
Pasalnya, dengan menjadi menteri berarti ia akan meninggalkan bisnisnya
yang sedang berada di puncak. Konsekuensi logis dari kebersediaannya
menjabat menteri adalah harus melepaskan semua jabatan penting di
beberapa perusahaan. Sebagai Direktur Utama di PT Bangun Tjipta, serta
jabatan komisaris Utama di 9 perusahaan ia tinggalkan.


Dan ternyata keputusannya untuk menerima
jabatan Menteri Negara Perumahan Rakyat mendapat dukungan dari
para pelaku bisnis properti. Karena dengan melihat latar belakangnya
yang sangat sesuai dengan jenis pekerjaan pada kementerian itu.
Sejak tahun 1970 dengan bendera CV. Bangun Tjipta, ia telah mulai
mengembangkan proyek-proyek perumahan, building
contractor dan developer. Hingga tahun 1972, bentuk perusahaan Bangun
Tjipta berubah dari CV ke perseroan, dan sejak itu pula ia mulai
mengembangkan proyek-proyek besar lain di sektor properti. Beberapa
proyek yang pernah ditanganinya, antara lain Jakarta Disain
Center (JDC) dan Perumahan Kemang Pratama.


Di samping karir bisnis, insinyur Teknik
Sipil ITB Bandung ini juga berkibar di jalur organisasi dan politik.
Ia pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
juga sebagai Ketua Umum Persatuan Pengusaha REI. Ia juga menjadi
anggota MPR RI dari tahun 1982 hingga 1998. Bahkan setelah jabatan
Menteri Perumahan Rakyat, periode 1993-1998 ia dipilih lagi menjadi
Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan. Dan sekarang ini
ia dipercaya oleh para pengembang anggota REI menjadi Anggota
Dewan Pembina DPP REI dan Ketua Komite Restrukturisasi Utang
Pengembang.


Kontroversi dan Teruji
Ia boleh juga disebut sebagai sosok
kontroversial. Saat pengganyangan terhadap Bung Karno, dia
adalah mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno.
Tapi pada era Presiden Suharto, ia diangkat sebagai menteri dalam
dua kali kabinet. Namun, dengan posisinya itu, tak membuatnya
ragu-ragu menolak rencana penggusuran rumah susun yang dicanangkan
keluarga Cendana, Titiek Prabowo dan Sudwikatmono, yang sudah
berbekal ?instruksi sakti? Presiden Suharto.


Selama menjadi menteri pun, Siswono yang
mantan aktivis mahasiswa itu justru makin memperlihatkan sikap
dasarnya, yaitu berpihak pada kebenaran dan keadilan. Sikap itu
membuatnya makin erat dengan label kritis. Ia dianggap anggota kabinet
perkecualian bersama Sarwono Kusumaatmaja. Walaupun oleh para pendukung
rezim Soeharto, sikap Siswono dinilai tidak pas, karena ia
pejabat pemerintah.


Selama menjabat menteri, ia tergolong
bersih dari KKN. Padahal peluang untuk itu cukup besar. Bahkan saat
menjabat Menteri Transmigrasi, ia melarang perusahaanya
menjadi rekanan. Padahal sebelumnya PT Bangun Cipta adalah rekanan
di Departemen Transmigrasi, dan sudah beberapa kali
membuka lahan untuk transmigrasi. Pejabat yang bersikap seperti itu sangat
langka, terutama pada era Orde Baru. Bahkan banyak yang justeru
mengandalkan fasilitas. Sementara ia pun bisa menghindari
pemberian fasilitas, termasuk pada keluarga Cendana.


Apa mungkin ia bisa menolak Cendana?
Menurutnya, Pak Harto itu kalau kita jelaskan dengan baik, dengan argumen
yang kuat, bisa menerima. Tetapi, yang terjadi, terlalu banyak
pejabat yang menjilat. Pejabat yang mencari muka, itu yang terjadi.


Ia memberi contoh, ketika tahun kedua ia
menjadi Menteri Perumahan Rakyat. Ada sebuah surat yang
ditandatangani oleh Titik Prabowo sebagai direktur utama, dan Sudwikatmono
sebagai Preskom. Mereka meminta rumah susun Kebon Kacang
di-ruislag seluas tiga hektar. Mereka ingin menggabung dengan bangunan
bank yang sudah ada di Jalan M. Husni Thamrin. Lalu ia menghadap
presiden, dan beliau mengatakan, ?Rumah susun yang di Kebon Kacang
planologinya diubah.?


Wah! Lalu, ia membuat laporan lengkap
dengan berbagai alasan. Di antaranya, bahwa rumah susun Kebon Kacang
itu baru diresmikan tahun 1983, jadi baru berusia tujuh tahun. Kalau
dalam waktu tujuh tahun ada peruntukan yang diubah, nanti akan
timbul kesan bahwa pemerintah tidak well planner, program pemerintah itu
tidak berjalan dengan baik. Selain itu, di rumah susun itu ada
prasasti yang ditandatangani oleh presiden. Lagi pula
perubahan peruntukan itu tidaklah menguntungkan untuk masyarakat
bawah, kecuali kalau presiden mempunyai rencana lain. Maka ia
menyarankan untuk tidak dilakukan penggusuran.


Menerima laporan itu, Presiden Soeharto
terlihat kaget, karena biasanya tidak ada yang mau begitu.
Biasanya, kalau presiden sudah omong, semua selalu mendukung, apalagi
keluarganya yang maju. Karena orang itu tidak punya kepercayaan diri
untuk memperoleh suatu kedudukan.


Beberapa saat Presiden Soeharto diam.
?Saya juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan. Mungkin dia menilai,
saya aneh. Tapi akhirnya presiden setuju untuk tidak dilaksanakan
penggusuran. Jadi, saya plong!? kenang Siswono.


Sementara pejabat lain waktu itu lebih
suka menurut saja. Maka Siswono pernah menyebut banyak pejabat era
itu yang sakit. Tapi, menurutnya, dalam empat tahun reformasi,
lebih parah lagi sakitnya. Waktu itu, kondisi belum separah ini.
Orang masih pesta mabuk, mabuk sukses. Kelakuan pejabat-pejabat kita juga
tidak memikirkan kepentingan rakyat, lebih mementingkan
diri sendiri. Waktu Thailand merosot, kita masih bisa mengatakan
fundamental ekonomi kita kuat. Saya kesal waktu itu. Saya katakan, kita
ini sakit, pejabatnya sakit, rakyatnya juga sakit.


Bagaimana rakyat tidak sakit? Di setiap
jalan polisi ambil uang, dan semua orang melihat tapi diam. Itu kan
suatu penghinaan terhadap aparat negara dan dilakukan oleh aparat
negara itu sendiri, ditonton oleh rakyat dan rakyat mendiamkan.


Ia menyaksikan, ada seorang Dirjen
pensiun. Dia tidak punya apa-apa. Malah banyak orang mengatakan, dia bodoh.
Lima tahun jadi Dirjen, tidak punya apa-apa. Orang jujur jadi
dianggap bodoh. Sementara, ada pejabat eselon dua, punya rumah mentereng,
punya mobil lima, dan anak-anaknya sekolah di luar negeri. Dia
dibilang hebat. Maka, ia menyebut, semuanya sakit.


Ia juga pernah mengkritik Presiden Habibie
tidak hemat. Sebab waktu masih menteri saja sudah beli jet pribadi
seharga 35 juta dollar AS.


Karena itu dari awal, ia sudah mengatakan,
salah satu kunci agar bangsa ini maju harus membangun aparat
yang bersih dari korupsi dan kolusi. Untuk itu, ia menyarankan setiap
pejabat harus me-reclear kekayaannya sebelum menjabat. Baik itu
menteri atau gubenur, bupati, dan dirjen. Setelah menjabat juga harus
melaporkan kekayaannya. Ketika itu, orang jadi ramai. Padahal, di
luar negeri, itu hal yang biasa. Di Malaysia, biasa. Apalagi di
Jepang. Maka ia sangat mendukung terbentuknya KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi).


Kontroversi terus mewarnai langkahnya
dalam munas luar biasa Golkar Juli 1999 untuk pergantian pengurus. Ia
bersama Sarwono, Try Sutrisno dan Edy Sudrajat dituduh sebagai
Soehartois yang anti reformasi. Sementara Akbar Tanjung bersama
Habibie, Feisal Tanjung dan Abdul Gafur adalah kaum anti Soeharto
yang pro reformasi.


Buat orang yang paham, tuduhan itu memang
mirip dagelan. Riwayat Siswono sendiri tak pernah menunjukkan
sebagai Soehartois, apalagi anti-reformasi. Sementara Try Sutrisno
yang berada satu kubu dengannya, setidaknya adalah wakil
presiden hasil ?fait a ccompli? ABRI yang tidak menghendaki wapres pilihan
Soeharto, yaitu BJ Habibie.


Mungkin, begitulah politik, yang bagi
sebagian orang kotor. Tapi Siswono yang sejak muda tak pernah jauh
dari politik, tampaknya tak sempat kehilangan kepribadian. Ia masih
bisa menulis puisi dan cerpen. Bahkan saat jadi menteri, ia ikut
menulis buku Rumah untuk Rakyat. Sebelumnya, saat masih jadi
pengusaha, dia tuangkan konsepnya perihal hubungan etnik Tionghoa
dengan penduduk setempat dalam buku laris Warga Baru: Kasus Cina di
Indonesia.


Setelah kerusuhan Mei 1998, buku yang
terbit tahun 1985 itu, sempat jadi best-seller. Mengenai peristiwa 13
dan 14 Mei itu, ia tidak percaya kalau kerusuhan itu spontan. Ia
percaya peristiwa itu sengaja disulut, dan reaksinya di luar
dugaan, yang akhirnya menjadi spontan. Sulit ia membayangkan terjadi
peristiwa yang sebegitu brutalnya, termasuk pemerkosaan dan
penjarahan bisa terjadi secara spontan.


Kalau melihat peristiwa-peristiwa yang
lalu, yang terjadi hanya perusakan dan pelemparan batu.
Rasa-rasanya, itu batas spontan yang bisa diterima. Tapi, setiap kali kita
melihat masalah Cina, selalu dikaitkan dengan huru-hara. Mulai dari
Situbondo, Tasikmalaya, Solo, Pekalongan, Cirebon, Medan, selalu
dikaitkan dengan huru-hara. &#9658;tsl, dari berbagai sumber.


=====
--------------------------
[EMAIL PROTECTED]
--------------------------

===========================================================================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
===========================================================================================
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke