Pak Ridwan, thank's ya atas forward-annya. Bisa sebagai masukan informasi dan wacana. 
Cuma sepertinya si penulis ini sedikit gegabah dan ceroboh dlm memberikan analisanya 
sehingga saya meragukan keakuratannya. Ada dua hal yg mengindikasikan ke arah sana : 

1. Mega menyusup ke PKS, lewat Anis Matta lagi.
2. Dewan Syuro PKS "dipaksa" utk merekomendasikan Wiranto.

Disamping rekomendasi baru akan dikeluarkan pd 1 juni nanti, juga si penulis kurang 
memahami kesolidan dan integritas para petinggi PKS. Bagi para petinggi PKS, misi 
keumatan jauh lebih penting dari sekedar rebutan posisi. Jadi sangat lucu jika hanya 
masalah rebutan posisi saja, para petinggi PKS pun terlibat dlm skenario-skenario itu. 
Saya jadi senyum-senyum sendiri.

wallahu alam,
Ronald

Oh ya, tgl 6 nanti Pak Ridwan jangan lupa ke lap tenis ya...

---------- Original Message ----------------------------------
From: "RM Risan" <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: "Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak  1993)" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Date:  Fri, 28 May 2004 13:40:44 +0700

>
>
Silahkan dibaca. 
Alam takambang menjadi guru 
 
 
-------Original Message-------
 
Subject: FW: SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
 
Dear all 
.. 

Believe it or not... 

SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI 

Salah seorang petinggi PDIP yang kecewa karena gagal menjadi anggota 
DPR RI 
bercerita panjang lebar soal skenario Mega. Berikut ini 
penuturannya : Dalam 
rapat DPP PDIP hampir semua peserta rapat tertawa terbahak-bahak 
ketika 
membaca hasil survey LSI yang mengunggulkan SBY sampai 58%. Terlihat 
tawa 
bahagia disana ketika tahu scenario mengunggulkan SBY dikerjakan 
dengan baik 
oleh LSI. 

Kalau mau sedikit berpikir, memang aneh gerakan tim Mega ini, walau 
nampak 
kasat mata, tapi tidak ada satupun media massa yang mau memberitakan 
betapa 
Mega begitu piawai mengobok-obok konstelasi politik dimana-mana. 
Golkar 
dibuat pecah berantakan dengan memunculkan faksi; AT, faksi Kalla, 
dan faksi 
Palloh. Keluarga besar NU dibuat cerai berai dengan munculnya kelompok 
Hasyim, kelompok Gus Solah dan tentu saja the joker, Abdurahman Wahid. 

Kalau mengikuti Koran dan TV misalnya, hampir-hampir semua pembicaraan 
menguliti sepak terjang SBY, Wiranto dan AR. Banyak media yang berubah 
menjadi partisan, terutama TVRI. Tahu tidak, kalau direktur TVRI 
mendadak 
diganti dengan orang Mega? Anehnya, tidak ada sedikitpun yang mencoba 
mengamati gerakan Mega. Padahal gerakan Mega, dirancang oleh puluhan 
akademisi dan purnawiraan militer. 
Jauh sebelum Mega Presiden dibentuk, lembaga kajian untuk memuluskan 
Mega ke 
Istana sudah dirancang rapi. 

-------------- cut ------------------------
 

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke