Assalamu'alaikum WW

Dari urang tuo-tuo dikatokan baraso urang minang itu agah ciluah ,"tahimpik 
nak diateh , takuruang nak dilua " tapi kini kaadaan itu digugat pulo dek 
lah takuruang dilua...

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak

http://www.republika.co.id/2005/02/17629.htm

Orang Minang Kini 'Terkurung di Luar'


PADANG -- ''Orang Minang kini terkurung di luar.'' Begitu menurut sejarawan 
Dr Mestika Zed. Ini, bisa terjadi, karena tradisi intelektual Minangkabau 
kian hari kian merosot dan tumpul.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Tak lain karena mereka tidak konsisten dengan 
komitmen kultural yang dibangun pendahulunya. Mestika Zed, mengemukakan hal 
itu, ketika peluncuran buku bertajuk Sejarah Masa Depan; Percikan Pemikiran 
Soedjatmoko, di Padang, Ahad (30/4).

Peluncuran buku karya Budi Putra ini, merupakan bagian dari rangkaian HUT 
pertama Harian Mimbar Minang, sebuah surat kabar yang didirikan oleh 
koperasi. Kata pemiliknya, Irman Gusman, inilah koran pertama milik koperasi 
di Indonesia.

Bahwa orang Minang, 'terkurung di luar,' bukan hanya disuarakan oleh Mestika 
Zed. Tapi, jauh sebelumnya, sastrawan Taufik Abdullah sudah mensinyalirnya. 
Malah menurut Taufik, Minang dewasa ini, adalah sebuah habitat yang 'hening 
tapi hiruk-pikuk'. Mestika yang dosen Universitas Negeri Padang (UNP)dan 
Universitas Andalas, Padang itu, memiliki keprihatinan yang sama dengan 
Taufik. Katanya, orang Minang sedang berhadapan dengan 'dakwaan kultural' 
ketika masyarakatnya sedang berada di persimpangan jalan. Orang Minang, 
kemudian menjadi tawanan bagi dirinya sendiri. Mereka hanyut dengan kejayaan 
masa lalu, karena memang hanya itulah yang bisa dilakukan.

Seharusnya, kata Mestika, kejayaan masa lalu bisa dijadikan pelecut bagi 
membangun kemuliaan masa depan. Tapi, seperti dikatakan Prof Mursal Esten, 
kekuatan intelektual dan budaya Minang, tidak akan pernah muncul lagi, jika 
daerah ini, tidak diberi kepercayaan untuk melaksanakan otonomi pendidikan.

Berbicara kepada Republika di tempat yang sama, Ketua STSI Padangpanjang ini 
menyebutkan, kebijakan pendidikan nasional yang serba seragam dan terpusat, 
telah menimbulkan kesenjangan di tengah-tengah masyarakat. ''Yang nomor satu 
itu selalu Jakarta dan pulau Jawa, sementara daerah selalu nomor 
berikutnya,'' paparnya. Karena itu, menurut Mursal, otonomi pendidikan, 
sesuatu yang tak bisa lagi ditawar.

Dalam orasi ilmiahnya, Mestika Zed, menuturkan, buku atau kitab, bagi bangsa 
Indonesia belum dijadikan indikator peningkatan SDM. Indikasi kemajuan SDM 
lebih sering diukur dengan jumlah lembaga pendidikan, tamatannya, nilai 
formal semisal NEM (Nilai Evaluasi Murni), IP (Indeks Prestasi), jumlah 
doktor, profesor dan sebagainya. Malah peningkatan SDM dengan suka cita 
diukur pula dengan penggunaan komputer, kemampuan bahasa asing. ''Tapi amat 
sedikit yang mengukur peningkatan SDM dari produk buku yang diterbitkan,'' 
ujarnya.

Hal yang lebih celaka lagi, dikemukakan oleh Mestika. Menurut dia, di 
fakultas tempat ia mengajar, tiap jurusan punya televisi, tapi tidak ada 
perpustakaan. ''Kalau pun ada, tidak terurus dan merana,'' katanya. Namun 
Mestika mungkin lupa, untuk memiliki sebuah pesawat televisi, tak perlu ada 
perpustakaan dulu.

Memungut data-data dari penelitian Gibbs dalam bukunya Scientific American 
(1995), ternyata untuk urusan pertambahan buku, Indonesia hanya 0,010 
persen. Bandingkan dengan Amerika yang 30,81 persen, Jepang 8,224 persen, 
Inggris 7,93 persen, Jerman 7,184 persen, Prancis 5,302 persen. India 1,643 
persen, Singapura 0,179 persen, Thailand 0,084 persen, Malaysia 0,0664 
persen. Angka itu sangat memprihatinkan.

Tapi, menurut Mestika, ke depan bisa lebih baik, jika daerah bergiat 
mencetak buku. Saat ini, di Padang telah muncul penerbit Citra Budaya 
Indonesia (CBI) dan terakhir penerbit Pustaka Mimbar Minang.

HUT pertama Mimbar Minang juga diwarnai orasi oleh Direktur Eksekutif 
Yayasan Soetjadmoko, Murdianto. Tak hanya itu, harian ini juga menyerahkan 
award kepada sejumlah pengusaha kecil dan menengah. Mereka yang menerima 
award itu: Suparman, pemilik rumah makan (Padang), Nelson Septiadi, penyalur 
(Bukittinggi), dan Koperasi Pasar Abuan Ikatan Pedagang Tetap (AIPT) 
Padangpanjang. ''Kami memang memberikan perhatian pada sektor ekonomi kecil 
dan menengah,'' cetus Pimred Mimbar Minang, Hasril Chaniago.

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

LAPAU RantauNet di http://lapau.rantaunet.web.id
Isi Database ke anggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
=================================================
Subscribe - Mendaftar RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages: subscribe rantau-net email_anda

Unsubscribe - Berhenti menerima RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi emai / Messages: unsubscribe rantau-net email_anda
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke