----- Original Message -----
Sent: Tuesday, May 09, 2000 8:43 AM
Subject: [padhang-mbulan] Kitab : Fatima Mernissi, Teras Terlarang

Fatima di Mata Mernissi

Resensi: Sebuah otobiografi tentang masa kecil Mernissi, seorang feminis
muslim asal Maroko. Sarat makna dan enak dibaca.

Fatima Mernissi, Teras Terlarang: Kisah Masa Kecil Seorang Feminis Muslim,
Pengantar: Nurul Agustina, Bandung: Mizan, 1999, Cet. I, 271 halaman

Karya-karya Fatima Mernissi, cendekiawan muslim asal Maroko, memang selalu
menarik untuk dibaca. Selalu ada hal baru yang dikemukakan. Dalam
menggunakan bahasa, ia selalu tampil dalam kemasan bahasa yang terus terang
tapi tak kehilangan daya pikatnya. Namun terkadang ia agak sembrono dalam
menggunakan sumber-sumber otoritatif. Contohnya adalah kritiknya terhadap
Abu Hurairah yang berkonflik dengan Aisyah. Dalam bukunya Women in Islam,
Mernissi seolah-olah melukiskan Abu Hurairah sebagai seorang yang banci,
padahal ia pernah berkeluarga.

Nuansa seperti itu tak tampak dalam buku ini. Meski sedikit disinggung
tentang skandal cinta dengan seribu harem (selir) seorang khalifah yang
paling dihormati di dunia Sunni, yaitu Harun Al-Rasyid, namun sumber ini
tetap bisa dipertanggungjawabkan. Feminis lain seperti Nadia Abbot dan
Leila Ahmed juga menyimpulkan hal yang sama tentang kelakuan para khalifah
tersebut.

Buku yang judul aslinya Dreams of The Trespass: Tales of Harem Girlhood
(1994) ini tampil begitu khas. Yang paling menonjol dari buku ini adalah
gaya penuturan Mernissi yang sama sekali berbeda dengan buku-bukunya yang
lain. Buku ini berisi rekaman kisah masa kecil Mernissi--Fatima nama
panggilan Mernissi dalam buku ini--yang ditulis ketika ia dewasa. Ini
adalah semacam otobiografi Mernissi tentang dirinya dan orang-orang di
sekitarnya: istri-istri kakeknya, bapak dan pamannya yang monogam, ibunya
yang setia dan terkadang manja, saudara-saudara sepupunya, serta kondisi
sosial politik Maroko saat itu yang sedang menghadapi imperialisme Prancis.

Melalui cerita-cerita itu, Mernissi terkesan ingin menunjukkan bahwa dengan
caranya sendiri perempuan telah banyak mengajarkan tentang makna sebuah
kehidupan. Ini terlihat dalam kisah tentang nenek Yasmina, seorang yang
dilukiskan buta huruf dan kampungan, namun memiliki cara berpikir yang
lebih maju dalam memandang kehidupan daripada madunya, Lalla Thor, yang
berpendidikan tinggi dan orang kota. Kemampuan perempuan yang demikian
sering tak dianggap sebagai sebuah intelektualitas oleh kalangan laki-laki.


Hal senada juga tecermin dalam struktur keluarga Mernissi yang sangat
bercorak patriarkal: laki-lakilah yang memiliki kekuasaan penuh. Hampir
semua ruang utama dalam keluarga menjadi ruang laki-laki. Laki-laki juga
yang memiliki akses kepada informasi. Kondisi keluarga Mernissi adalah
sebuah miniatur dari tradisi negara Arab-Islam yang menempatkan perempuan
sebagai harem (sesuatu yang harus dijaga) dan memenjarakannya di dalam
hudud-hudud (batas-batas).

Sebagai sebuah institusi milik laki-laki, harem telah mengorbankan para
perempuan untuk terbelenggu di dalam ruang-ruang kosong sebagaimana
diprotes Chama dalam pentas-pentas teater keluarga besar Mernissi (h. 143).
Lebih lanjut harem telah menyebabkan para feminis muslimah tak bisa menulis
dan melakukan aksi-aksi yang bermakna bagi dirinya sendiri maupun bagi
perempuan-perempuan lain yang membutuhkan pembebasan.

Sisi lain yang ingin diangkat Mernissi adalah corak dan strategi perjuangan
kaum perempuan untuk menembus batas-batas agama dan tradisi ternyata tak
harus dilakukan dengan cara-cara yang normatif dan formal atau konfrontatif
langsung. Tetapi bisa melalui cara penyemaian nilai-nilai lewat
proses-proses kehidupan. Karena itu, dalam buku ini Mernissi tampak selalu
menampilkan nenek Yasmina dan ibunya sendiri yang sangat banyak memberikan
kenyataan hidup yang harus dihadapi sebagai seorang perempuan. Menjadi
seorang perempuan bukan berarti kehilangan segalanya.

Semua perjalanan yang dialami Mernissi pada masa kecil merupakan bekal
utama dia untuk menjadi seorang feminis. Namun selain bekal itu, masih
dibutuhkan keberanian untuk menerobos harem dan hudud. Dengan kedua bekal
itu jadilah Mernissi sekarang sebagai seorang feminis muslimah yang sangat
diperhitungkan. Ia tak hanya berguna bagi keluarga besarnya di Maroko, tapi
juga bagi semua perempuan yang mendambakan kemerdekaan dan penghargaan
sebagai manusia.

Namun, untuk menjadi seorang feminis, haruskah orang melampaui
proses-proses seperti dialami Mernissi? Saya kira tidak demikian. Orang
memiliki sejarah sendiri-sendiri. Tapi yang pasti, seseorang tak akan
pernah menjadi seorang feminis jika tidak berani menerjang dan melampaui
harem dan hudud-hudud--sebagaimana dialami dan dilakukan Mernissi dan
saudara-saudara perempuannya.

Syafiq Hasyim
Peneliti P3M, peminat kajian feminisme dan Islam
BUKU / PANJI NO.50 TH III - 5 APRIL 2000
PANJI Online
fwd by adi.
----------------------------------------------------------------------------
-----------
 Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
----------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke