|
Ass.wr.wb.
Kecuali kepada utusannya yang suci, Allah tidak pernah bicara
langsung pada manusia. Tapi melalui "Bacalah atas nama Tuhanmu yg menciptakan.
(..) Yang mengajar dg perantaraan kalam" Dia meninggalkan tanda-tanda. Bagi
yang membutuhkan untuk membaca tanda-tanda, bagi yang tak takut set their eyes
beyond horizon, ini ada wahana untuk untuk mengkaji tanda-tanda tersebut.
Cepatlah hanya tinggal berapa jam lagi!!. Kalau saya lebih suka membaca
intisarinya dari koran atau tabloid.
Wassalam,
Evi
hari Minggu, 14 Mei 2000, jam 09.00 WIB Pram siap hadapi tantangan Front Pemuda Anti Komunis Laporan Asep Salahudin Samboja satunet.com - Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer siap menghadapi tantangan Front Pemuda Anti Komunis, yang diketuai oleh Eggy Sudjana. Tantangan yang dimaksud adalah berdiskusi atau berdebat mengenai ajaran komunisme di Indonesia. Hal ini mencuat kembali setelah Presiden Abdurrahman Wahid menggulirkan gagasannya untuk mencabut Tap MPR no 25/1966 tentang larangan terhadap ajaran marxisme, leninisme, dan komunisme di Indonesia. Menurut Gus Dur, dalam penjelasannya di berbagai kesempatan, termasuk di rumah pribadi Pramoedya Ananta Toer, yang boleh dilarang adalah organisasi PKI (Partai Komunis Indonesia)-nya, bukan paham komunis itu sendiri. Namun, dalam diskusi terbuka mengenai "Islam, Kapitalisme, dan Komunisme" di Bursa Gagasan, Kuningan, Jakarta Selatan, Eggy Sudjana sudah mengingatkan atau tepatnya mengancam Gus Dur, bahwa gagasannya untuk mencabut Tap MPR no. 25/1966 bisa berakibat lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan. Pramoedya sendiri sudah berkomentar cukup banyak mengenai hal ini. Yang terpenting, katanya, bukanlah omongan presiden Gus Dur, melainkan tindakan nyata yang akan diambil oleh MPR, karena lembaga itulah yang memproduksi Tap tersebut. Dalam diskusi atau debat politik yang akan dilakukan di kediaman Pramoedya Ananta Toer, di Jl. Multi Karya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur, pada hari Minggu, 14 Mei 2000, jam 09.00 WIB, Pramoedya akan didampingi oleh Hendardi dan Luhut MP Pangaribuan. "Saya siap menghadapi tantangan Front Pemuda Anti Komunis," kata Pramoedya, yang berkali-kali namanya didaftarkan oleh Toeti Heraty Nurhadi untuk meraih penghargaan nobel di bidang sastra. [tna] |

