Assalamu'alaikum wr. wb.,
Carito tarinspirasi dari ota angek pakan lapeh, ditulih akia minggu
patang. Agak panjang, 10 halaman.
Wassalam,
Lembang Alam
PS
(nan kaduo)
Kapatang di kirim sakali kasadoanno, indak tambuih. Kini dikirim
sabagian-sabagian.
SLA
CERPEN: DILEMA
(sambungan)
Santi buru-buru pulang. Kepalanya pusing dan mumet. Tadinya mau minta tolong Salman,
office boy yang bisa nyetir mau dimintai tolong menyetirkan mobil pulang, tapi ah,
nggak enak sama pak Budiman. Dia itu terlalu baik, tapi bagaimanapun tetap harus
jaga-jaga juga. Di pertigaan Raden Saleh Santi kaget waktu mobilnya hampir menabrak
bajaj. Untung masih sempat banting stir, namun tak urung bamper depan nyenggol truk
yang lagi parkir.
"Uh.... sialan....... Ya Allah......kok ada-ada saja". Santi berhenti dan
meminggirkan mobil. Bumper mobilnya penyok tapi untung truknya tidak apa-apa. Tak
urung sopir truknya ngomel-ngomel.
"Ya deh pak, saya minta maaf. Mobil bapak nggak apa-apa kan?"
"Belajar mobil jangan di jalan raya neng. Tuh mobil saya jadi lecet"
"Bukan pak, itu cat mobil saya yang nempel disana. Sekali lagi saya mohon maaf deh"
Orang mulai merubung. Santi tak henti-hentinya berdoa dalam hati. "Ya Allah......ya
Allah....ya Allah......ya Allah".
"Maaf pak saya harus buru-buru nih. Saya minta maaf telah menyenggol mobil bapak"
Sopir truk itu akhirnya kasihan juga barangkali.
"Ya sudahlah neng. Lain kali hati-hati!"
"Ya pak. Terima kasih pak. Maaf, saya permisi"
Sepanjang jalan pulang tak terasa air mata Santi menetes. Waktu dia sampai Bambang
sudah duluan ada di rumah. Wajahnya kelihatan tegang.
"Kok lama amat sih? Kamu kenapa?"
"Nantilah mas saya ceritakan. Ayo kita segera ke rumah sakit saja. Mana
Anto?...Antooo.....nih mama pulang........".
Santi masuk ke kamar Anto diikuti Bambang. Anto tertidur atau seperti orang tidur
namun matanya terbuka separo. Badannya panas. Mungkin lebih 39 derajat. Santi langsung
mau mengangkatnya tapi Bambang mencegahnya.
"Biar saya yang mengangkatnya. Kamu gantiin bajunya saja"
Santi setengah berlari mengambil baju ganti Anto dan buru-buru menukarnya. Anto
mengigau dengan suara lemah.
"Gua nggak mau sama mbak Tutik.......gua nggak mau sama mbak Tutik.......Anto mau sama
mama.....Anto mau sama mama......"
"Anto....ini mama sayang......Antoo.......yok kita ke dokter ya?!". Badan Anto sangat
lemas.
"Tut.......Tutik..... ayo buruan. Kamu ikut ke rumah sakit dan bilang bik Supi kita
segera berangkat".
Anto segera dilarikan kerumah sakit Mitra. Dokter jaga cepat sekali mendiagnosa.
"Anak ini kelihatannya demam berdarah dan sebaiknya langsung di rawat inap" kata
dokter.
"Ha? Harus dirawat inap? Apa nggak bisa dikasih obat dan berobat jalan saja dok?"
Santi bertanya seperti orang bodoh.
"Santi, nggak. Nggak usah nawar-nawar. Kalau dia harus dirawat inap, ya dirawat inap.
Baik dokter, saya akan selesaikan urusan administrasinya. Apa bisa langsung masuk
kamar sekarang dok?" Tanya Bambang.
"Saya rasa bisa. Sebaiknya bapak tanya dan daftarkan di bagian penerimaan di depan".
Anto akhirnya ditempatkan di kamar 212. Dia menjerit-jerit waktu dipasangi infus.
Santi ikut-ikutan menangis, Tuti si baby sitter juga tersenguk-senguk. Bambang tidak
bisa menyembunyikan kesedihannya. Anto memang anak istimewa di rumah.
Santi ingat harus menelepon pak Budiman. Dia piker ya sudahlah, sekalian saja dia
minta izin mengambil cuti untuk menjaga Anto di rumah sakit
"Hallo...hallo Tira, Santi nih, tolong sambungin ke bapak dong, say.......Ya dia
harus diopname nih.........kata dokter sih demam berdarah........ya OK thanks
ya........"
"Hallo pak. .........Saya di rumah sakit......Pak, ini... anak saya ternyata harus
diopname. Aduuh, saya ngambil cuti aja deh pak, boleh nggak pak.......rumah sakit
Mitra...... kamar 212.....Ya mungkin dua atau tiga hari ini.........kata dokter demam
berdarah......... masih panas dan sekarang dipasang infus.......sekarang sih sudah
diam, tadi waktu dipasangin infus treak-treak........ya ya.......ya terima kasih
pak.........ya terima kasih".
****
Anto sudah enam hari diopname. Alhamdulillah dia sudah sembuh dan sudah boleh pulang.
Santi lega rasanya. Sejak Anto masuk rumah sakit hari Senin yang lalu Santi selalu
menjaganya bersama-sama Tuti, baby sitter itu. Santi hanya pulang sebentar-sebentar
setiap hari. Bambang juga ikut berjaga-jaga di rumah sakit sejak pulang dari kantor
sampai jam sebelas setiap malam.
Senin berikutnya Santi mulai masuk kerja lagi. Bisa agak tenang sekarang. Anto sudah
semakin baik dan sudah bisa ditinggal. Laporan tempohari sudah diselesaikan Yanti,
Kadang-kadang dia merasa tidak enak juga karena sudah beberapa kali tidak bisa
menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulainya. Tapi sedemikian jauh selalu saja tidak
ada masalah baik dengan Budiman sang boss maupun Yanti rekan sekerjanya. Mereka ini
sangat baik-baik sekali.
"Ah sudahlah, memang nggak usah di pikirin, disyukurin aja", kata Santi dalam hati.
Bambang menelepon mengingatkan Santi untuk mengundang Budiman dan keluarganya serta
Yanti dan suaminya untuk makan siang Minggu depan. Sebenarnya Santi agak sungkan mau
mengundang Budiman. Entah kenapa. Atau mungkin karena dia boss itu. Mula-mula Santi
mengajak Yanti.
"Eh, kamu ada acara nggak Yan siang-siang minggu depan?"
"Nggak tahu. Nggak juga sih kayanya. Kenapa memang?"
"Mas Bambang menyuruh mengundang kalian dan keluarga pak Budiman santai-santai dan
makan siang di rumah. Bisa nggak Yan?"
"Dalam rangka syukuran Anto sudah sembuh?"
"Ya boleh juga sih dibilang begitu. Tapi nggak ada siapa-siapa. Cuma kita-kita aja.
Bisa dong Yan ya?"
"Aku sih OK saja, tapi nggak tahu misuaku ada acara nggak ya?"
"Biasanya acaranya apa sih?"
"Biasanya sih dia tiap Minggu tennis sama teman-teman sekantornya dan selalu sampai
siang sekali. Itu dunianya bang Ilham, dan hampir tidak bisa diganggu gugat.
Pulang-pulang biasanya sudah jam dua belas. Langsung terkapar. Tapi coba deh ntar aku
tanya dulu."
"Kamu tanyain ya? Tapi mudah-mudahan bisa ya? Aku mau nanya boss tapi nggak enak juga
nih. Dia mau nggak ya?"
"Lho, kenapa memang? Tanya aja. Aku rasa kalau dia ada waktu dia pasti mau."
Tengah mereka ngerumpi, tiba-tiba pak Budiman masuk ruangan itu,
"Bagaimana kabarnya Anto sudah sembuh betul?"
"Sudah pak. Sudah mulai bandel lagi malahan."
"Berapa hari di rumah sakit?"
"Hampir seminggu. Dari hari Senin siang itu, keluar Sabtu kemarin."
"Nggak protes kamu tinggal kerja?"
"Wah, bapak nyindir nih. He he he. Nggak tuh pak."
"Bukan, setelah dikeloni mamanya seminggu kan biasanya jadi keenakan dan nggak mau
lagi ditinggal. Nggak begitu?"
"Ya alhamdulillah pak dia nggak apa-apa. Tadi pagi malah dia yang ngingatin. Mama ayo
jangan bolos terus dong. He he he"
"Ya syukurlah. Untuk info kamu proyek dengan PT Sinar tempohari jadi. Mereka setuju
dengan penawaran kita. Tolong kalian siapkan surat perjanjiannya."
"Syukurlah pak. Walau saya malu, tidak ikut apa-apa dalam mengerjakannya."
"Nggak apa-apa, kita bekerja kan dalam satu team."
"Baik deh pak nanti biar saya siapkan perjanjian kerjanya. Tapi pak, ngomong-ngomong
saya ada yang mau disampaikan nih."
"Oh ya? Ada apa?"
"Bapak hari Minggu bisa datang nggak pak kalau saya undang makan siang di rumah
saya?"
"Oh ya? Dalam rangka apa nih?"
"Nggak dalam rangka apa-apa sih. Suami saya mengajak santai-santai dan makan siang di
rumah. Kalau bapak dan ibu bisa datang. Saya juga mengundang Yanti dan suaminya."
"Kalau dengan ibu, ya berarti saya harus tanya ibu dulu. Nanti deh saya kasih tahu.
Tapi apa ini dalam rangka syukurannya Anto sudah sembuh?"
"Anggap aja begitu pak, tapi benar lho yang kami undang hanya bapak sekeluarga dan
Yanti sekeluarga saja."
"Sekeluarga? Jadi anak-anak saya boleh saya bawa?"
"Boleh dong pak. Ajak dong Alif dan Bayu."
"Iya deh nanti saya tanya istri saya dulu."
****
(bersambung)