|
Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam
karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang
Narcissus.
Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang
muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi
keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia
jatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempatnya jatuh itu,tumbuh
sekuntum bunga, yang dimanakan narcissius (kembang sepatu
--evi)
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri
ceritanya.
Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi
hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah
berubah menjadi danau airmata yang asin.
"Mengapa engakau menangis?" tanya dewi-dewi
itu.
"Aku menangisi Narcissus," jawab danau.
"Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus," kata
mereka,"sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja
yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat."
"Tapi....indahkan Narcissus?"tanya danau?
"Siapa yang lebih mengetahuinya dari pada
engkau?"dewi-dewi bertanya heran. "Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi
dirinya!"
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya ia berkata: "Aku
menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku
menangis karena, setiap ia berlutut ditepianku,aku bisa melihat,kedalaman
matanya, pantulan keindahanku sendiri."
"Kisah yang sungguh memikat," pikir sang
Alkemis.
_____________
"Betul!!" pikir Evi
Evi
Kita memandang dunia menurut apa yang ingin kita lihat
terjadi, bukan apa yang sesungguhnya terjadi. ---Alkemis
|

