> ----------
> From:         Sjamsir Sjarif[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         29 Mei 2000 11:10
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: Kemana Mereka ? Re: [Rantau-Net] MINANG KEKURANGAN ULAMA
        (delete)


Apokah beliau yg satukoh bisa di sebut ulama besar/calon, disini ada juga di
singgung apa itu laptop :-)
http://www.hidayatullah.com/sahid/9911/figur.htm
Prof Dr Azyumardi Azra

(delete bagian atas )

Kemunduran di Ranah Minang

Di masa awal berdirinya republik ini, banyak ulama, cendekiawan dan politisi
dari Sumatera Barat yang menjadi tokoh nasional. Tetapi sekarang ada
kecenderungan mundur. Sebagai orang yang berasal dari ranah Minang, apa
sebab terjadi fenomena tersebut?

Saya kira itu adalah proses-proses yang secara sosiologis yang ada
menghasilkan seperti itu. Tapi tidak berarti orang Minang mundur. Orang
Minang kelihatan maju pada masa awal nasionalisme, pada tahun 1920-an, pada
masa Pujangga Baru kemudian pada masa pergerakan. Karena orang Minang memang
paling duluan dalam meresponi secara positif pendidikan Belanda.

Ada penelitian oleh seorang sarjana Amerika, bahwa pada tahun 1860-an,
Belanda mendirikan sekolah nagari atau volk scholen, karena mereka
memerlukan pegawai yang bisa membantu mereka dalam menjalankan pemerintahan.
Tetapi ternyata gagal dikembangkan di Batavia dan Semarang, karena ditolak
oleh masyarakat.

Belanda kemudian memindahkan program itu ke Sumatera Barat yang ternyata
direspon positif. Hasilnya, orang Minang mempunyai head start, start yang
lebih dulu dalam bidang pendidikan dibandingkan dengan masyarakat Muslim di
daerah lain. Karena itu muncullah para penulis, pujangga, wartawan dan
politisi dari Minangkabau.

Sekolah nagari yang dimulai 1860-an, pada 1880-an sudah massal di
Minangkabau sampai ke desa-desa. Sedangkan di Jawa resistensinya masih
sangat kuat.

Bukankah soal resistensi terhadap sesuatu yang dibawa oleh Belanda cukup
kuat dari kalangan ulama yang notabene di ranah Minang ketika itu sangat
signifikan perannya?

Tidak ada resistensi yang signifikan dari para ulama, bahkan mereka
memberikan respon yang positif juga dengan mentransformasi pendidikan di
surau menjadi pendidikan sekolah Belanda.

Di satu sisi, dengan demikian menghasilkan banyak pemikir, penulis dan
pujangga baru di Minangkabau. Tetapi di sisi lain, harus kita akui
mengakibatkan kemerosotan di dalam kaderisasi ulama. Generasi Buya Hamka
saya kira adalah generasi terakhir dari generasi surau yang menghasilkan
ulama. Pasca itu kemudian relatif tidak muncul lagi ulama dari Minangkabau.

Karena itu Abdurahman Wahid atau Gus Dur beberapa tahun lalu mengkritik
sistem pendidikan di Minangkabau yang tidak lagi berorientasi pada
penciptaan ulama. Sehingga kata Abdurrahman Wahid, "Kita sulit menemukan
ulama dari Minangkabau saat ini." Sudah langka. 

Sebagian orang Minang marah-marah pada Gus Dur, menganggap pernyataan Gus
Dur itu tidak benar. Tetapi menurut saya pernyataan Gus Dur benar, karena
kenyataannya memang begitu.

Mungkin juga hal ini karena orang Minang lebih berorientasi pada ekonomi.
Pendidikan Belanda mereka anggap merupakan akses penting untuk mendapatkan
kemajuan ekonomi. Karena itulah mereka lebih tertarik pada sekolah-sekolah
pemerintah kolonial.

Berkaitan dengan itu, kenapa sejak dulu pesantren lebih subur di Jawa
daripada luar Jawa seperti Sumatera?

Itulah kelebihan budaya Jawa yang tertutup. Sehingga menghasilkan ketahanan
yang lebih ajeg. Budaya Jawa tidak serta-merta menerima budaya dari luar
tanpa melalui proses internalisasi di dalam budaya Jawa sendiri.

Konsekuensinya budaya Jawa jadi sinkretik (bercampur), karena yang lama
tetap dipertahankan dan yang baru sebagian diterima. Itulah yang disebut
watak kultur Jawa itu involutif, yakni melingkar ke dalam. 

Pesantren beruntung dengan adanya budaya involutif itu. Jadi ketika ada
ekspansi pendidikan kolonial, pesantren tetap bertahan dengan eksistensinya.
Kalaupun diterima hal-hal yang baru, itu sangat terbatas, tanpa
menghilangkan karakter dari pendidikan pesantren itu sendiri.

Karena itu berbeda dengan lembaga surau yang kemudian ambruk, pesantren
tetap bertahan dan tetap produktif dalam melahirkan kader-kader ulama.
Karena itu pengalaman pesantren sangat menarik bagi masyarakat Minangkabau,
sehingga sekarang ini mereka mengadopsi sistem dan nama pesantren.

 

Kegemarannya yang utama adalah membaca. Saat Sahid menjumpai Edi di Taman
Ismail Marzuki (TIM) Jakarta nampak lelaki kelahiran Lubuk Alung, Sumatera
Barat ini sedang asyik memborong setumpuk besar buku-budaya sejarah dan
budaya Nusantara, melengkapi perpustakaan pribadi di rumahnya. 

Dari 'kerakusannya' membaca buku itulah lahir berbagai buku, makalah dan
tulisan kolomnya di berbagai media massa. Produktivitasnya lumayan
mengagumkan. Sudah puluhan buku dan karya ilmiah yang ia hasilkan selama
kini. Dua bulan silam, tidak tanggung-tanggung, ia meluncurkan sekaligus
enam buku buah karyanya.

Menikah dengan Ipah Farihah, teman kuliahnya asal Banten. Dari pernikahan
dengan aktivis Korps HMI-wati ini hadir empat putra-putri tercinta:
Raushanfikr Usada, Firman Al Amny Azra, M Subhan Azra dan Emily Sakina Azra.

 

Belum lama ini Anda meluncurkan enam judul buku sekaligus. Apa kiat Anda
sehingga demikian produktif menulis?

Pertama, saya bisa menulis di mana saja, tidak tergantung dengan mood.
Seperti Anda lihat di hadapan Anda, saya sedang menyiapkan sebuah makalah
untuk sebuah konferensi yang diselenggarakan Indonesia Net di Bali, akhir
bulan Oktober ini. Saya juga sedang menyiapkan sebuah makalah untuk sebuah
work shop di Belanda.

Keenam buku itu kebanyakan berupa kumpulan makalah saya yang belum
diterbitkan.

Jadi Anda bawa laptop (komputer jinjing) ke mana-mana?

Tidak, saya tulis dengan tangan saja. Saya tidak menggunakan laptop karena
hurufnya di layar terlalu kecil, begitu juga papan ketiknya terlalu sempit,
sehingga tidak bebas geraknya.

Jadi makalah dan tulisan kolom saya tulis dengan tangan dulu, baru kemudian
saya salin ke komputer, atau kadang saya ketik langsung ke komputer.

Saya tidur jam sembilan malam tanpa shalat isya terlebih dulu, saya tunda ke
belakang karena itu lebih afdhal kan. Saya bangun jam tiga pagi, shalat
tahajud lalu menulis sekitar sejam. Kira-kira jam empat saya senam sedikit
kemudian shalat shubuh. Setelah itu menulis lagi hingga pukul setengah
tujuh, selesai satu kolom. Saya tiba di kantor pukul setengah delapan sampai
jam empat sore, baru kemudian pergi mengajar ke pasca sarjana IAIN.

Lantas waktu membaca bukunya kapan?

Saya baca di mana saja yang memungkinkan, baik di dalam perjalanan, atau di
rumah sambil menonton berita tv. Saya selalu berusaha ingat suatu masalah
bagaimana kerangka teorinya. Saya punya kerangka teori tertentu lalu saya
bandingkan dengan kerangka teori orang lain. Misalnya saja buku ini (ia
menunjukkan sebuah buku karangan ilmuwan politik Robert Heffner, red),
argumen pokok saya sama dengan Heffner. Bahwa selama ini orang Islam
dikritik, katanya orang Islam tidak memberikan sumbangan dalam proses
reformasi dan demokratisasi. Orang Islam dituding hanya berorientasi
kekuasaan, antara lain dengan menuding ICMI. Nah, kerangka itulah yang saya
tangkap dalam membaca buku.

Para pendidik kita kerap memprihatinkan kemampuan para pelajar dalam dunia
tulis menulis. Bagaimana solusinya menurut Anda?

Pertama, anak didik kita harus diperbanyak bacaan seusai tingkat usia
mereka. Bacaan sastra harus diperbanyak. Kemudian mereka disuruh membuat
book report-nya dari bacaan mereka itu. Tapi jangan disuruh meringkas,
melainkan disuruh mengabstraksikan atau mengungkapkan kembali apa yang sudah
dia baca. Syukur-syukur kalau mereka juga dapat menyampaikan kritiknya.

Mereka juga harus banyak latihan mengarang. Sekarnag ini kan jarang. Saya
tanya anak saya, pernahkah dilatih mengarang oleh gurunya, ternyata tidak.
Jadi mereka tidak berkembang imajinasinya. Mereka terlalu banyak diajarkan
verbalisnya, semuanya dengan kata-kata lisan.

Bagaimana Anda menularkan kegemaran membaca dan menulis? 

Saya sering mengajak mereka ke toko buku. Terutama bila mereka berulang
tahun, saya persilakan ia ambil berapa saja yang mereka suka. Kalau di hari
biasa maksimal saya belikan empat buku, pada hari ulang tahun mereka boleh
sampai dua puluh buku.

Begitu juga bila prestasi belajarnya mereka baik, juga saya hadiahkan buku.
Begitulah saya menumbuhkan kebiasaan membaca (reading habit) di keluarga
saya.

Copyright� Suara Hidayatullah, 1999

> ----------
> From:         Sjamsir Sjarif[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         29 Mei 2000 11:10
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: Kemana Mereka ? Re: [Rantau-Net] MINANG KEKURANGAN ULAMA
> 
        delete

LAPAU RantauNet di http://lapau.rantaunet.web.id
Isi Database ke anggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
=================================================
Subscribe - Mendaftar RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages: subscribe rantau-net email_anda

Unsubscribe - Berhenti menerima RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi emai / Messages: unsubscribe rantau-net email_anda
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke