Assalamu'alaikum WW Ambo sapandapek jo Kanda Riri , baraso filosofi dasar pendidikanlah nan jadi titik tolak dari masalah iko, dan kito indak talalu larik dalam "romantisme" maso saisuak. Dari Media Indonesia ambo kopikan, sebagai pembandiang...http://www.mediaindo.co.id/detail_news.asp?id=2000062800353749 Mempertimbangkan Paradigma Baru bagi Pendidikan Media Indonesia - Opini (6/28/00) Oleh Indra Djati Sidi Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas MUNCULNYA berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia, fenomena kekerasan, realitas multibudaya-etnik dan agama, lingkungan hidup, perdamaian dunia, dan penyalahgunaan narkotik serta persaingan yang tidak sehat antarpelajar, membuat para ahli pendidikan berpikir keras mencari sistem pendidikan yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Di Tanah Air, kondisi pendidikan lebih memprihatikan lagi, karena beberapa infrastruktur pendidikan masih banyak yang belum terpenuhi, termasuk SDM para pengelola dan guru. Karena itu dari beberapa masalah yang berkaitan dengan pendidikan ini, yang paling menonjol dan urgent> untuk dibicarakan secara serius dan terbuka, adalah persoalan metode pengajaran, yang tentunya sangat berkaitan dengan kualitas guru. Tentu saja persoalan metode pengajaran tersebut berkaitan erat dengan suatu paradigma dan visi pendidikan yang diharapkan lebih cocok dengan tuntutan zaman. Berbicara tentang paradigma, visi dan metode pengajaran akan dengan sendirinya menuntut peningkatan dan penyesuaian kualitas SDM para pengelola, guru, juga pada akhirnya para siswa. Sehingga mereka itu menjadi lebih aktif, kreatif, mandiri, dan berpikir problem solving. Tentu saja gagasan ini masih sangat permulaan, meski memang sudah banyak para ahli mendiskusikannya secara parsial, baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak orang sudah mengetahui, bahwa potensi yang dimiliki oleh otak manusia sungguh luar biasa. Tapi sayangnya potensi itu hanya tinggal potensi. Sebagian besar manusia belum bisa menggunakan dan memanfaatkan kehebatan potensi otak yang dimilikinya. Orang secerdas Einstein saja, konon baru berhasil mengaktualkan potensi otaknya sebesar 20%. Yang juga, sangat disayangkan, sebagian besar kita tidak mengerti dan tidak mengetahui cara memotivasi potensi yang terkandung di otak. Fatalnya lagi, potensi tersebut tidak saja tidak termotivasi melainkan malah diplester rapat-rapat sehingga potensi tersebut tidak bisa mengaktual. Sebagian besar metode dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru tampaknya lebih banyak menghambat daripada memotivasi potensi otak. Sebagai misal, seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang harus mau mendengarkan dan menerima seluruh informasi serta mentaati segala perlakuan gurunya. Dan yang lebih parah lagi bahwa semua yang dipelajari di bangku sekolah itu ternyata tidak integratif dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang realitas sehari-hari yang mereka saksikan bertolak belakang dengan pelajaran di sekolah. Budaya dan mental semacam ini pada gilirannya membuat siswa tidak mampu mengaktivasi kemampuan otaknya. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran dan tergantung pada orang lain. Budaya dan mental para pelajar seperti itu juga berkorelasi dengan budaya dan mental masyarakat secara luas. Yaitu bahwa masyarakat kita belum bisa berpikir mandiri sehingga budaya `mohon petunjuk` menjadi hiasan keseharian yang wajar. Kita memang tidak bisa memastikan, apakah budaya tersebut bermula dari sekolah, atau sekolah justru yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat luar sekolah. Yang pasti semuanya saling mendukung untuk menyuburkan dan terus memelihara budaya-budaya tersebut. Dari mengajar ke belajar Tampaknya para ahli pendidikan perlu merumuskan kembali paradigma dan visi pendidikan kita. Saya mencoba mengusulkan sebuah gagasan berkenaan dengan paradigma dan visi pendidikan yang diharpakan lebih cocok lagi tantangan zaman sekarang ini. Gagasan ini sebenarnya pernah dibahas oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) dalam World Education Forum belum lama ini. Pertama, kita hendaknya mengubah paradigma teaching (mengajar) menjadi learning (belajar). Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi `proses bagaimana belajar bersama antara guru dan anak didik`. Guru dalam konteks ini juga termasuk dalam proses belajar. Sehingga lingkungan sekolah, meminjam istilahnya Ivan Illich, menjadi learning society> (masyarakat belajar). Dalam paradigma ini peserta didik tidak lagi disebut pupil (siswa), tapi learner (yang belajar). Paradigma learning juga jelas terlihat dalam empat visi pendidikan menuju abad ke-21 versi UNESCO. Keempat visi pendidikan versi UNESCO ini sangat jelas berdasarkan pada paradigma learning, tidak lagi pada teaching, yaitu (1) learning to know (belajar mengetahui). Ini berarti pendidikan berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional sehingga learner berani menyatakan pendapat dan bersikap kritis serta memiliki semangat membaca yang tinggi. (2) Learning to do (belajar berbuat/hidup). Aspek yang ingin dicapai dalam visi ini adalah keterampilan seorang anak didik dalam menyelesaikan problem keseharian. Dengan kata lain pendidikan diarahkan pada how to solve the problem. (3) Learning to live together (belajar hidup bersama). Di sini pendidikan diarahkan pada pembentukan seorang anak didik yang berkesadaran bahwa kita ini hidup dalam sebuah dunia global bersama banyak manusia dari berbagai bahasa dengan latar belakang etnik, agama dan budaya. Pendidikan akan nilai-nilai semisal perdamaian, penghormatan HAM, pelestarian lingkungan hidup, dan toleransi, menjadi aspek utama yang mesti menginternal dalam kesadaran learner. Dan (4) learning to be (belajar menjadi diri sendiri). Visi terakhir ini menjadi sangat penting mengingat masyarakat modern saat ini tengah dilanda suatu krisis kepribadian. Orang sekarang biasanya lebih melihat diri sebagai what you have, what you wear, what you eat, what you drive, dan lain-lain. Karena itu, visi pendidikan hendaknya diorientasikan pada bagaimana seorang anak didik di masa depannya bisa tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki harga diri dan tidak sekadar memiliki having (materi-materi dan jabatan-jabatan politis). Keempat visi pendidikan tersebut bila disimpulkan akan diperoleh kata kunci berupa learning how to learn (`belajar bagaimana belajar`). Sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik yang bersifat pemenuhan aspek kognitif saja, melainkan juga berorientasi pada bagaimana seorang anak didik bisa belajar dari lingkungan, dari pengalaman dan kehebatan orang lain, dari kekayaan dan luasnya hamparan alam, sehingga mereka bisa mengembangkan sikap-sikap kreatif dan daya berpikir imajinatif. Bertumpu pada dialog Gagasan kedua yang coba saya lontarkan --masih dalam konteks learning-- adalah berkenaan dengan metode pengajaran yang tidak lagi mementingkan subject matter (seperti terlihat dalam Garis-Garis Besar Program Pelajaran, GBPP, yang rigid) daripada siswa sendiri. Sebab, jika metode pengajaran masih terlalu mementingkan subject matter daripada siswa, akibatnya siswa sering merasa `dipaksa` untuk menguasai pengetahuan dan melahap informasi dari para guru, tanpa memberi peluang kepada para siswa untuk melakukan perenungan secara kritis. Pada gilirannya kondisi semacam itu melahirkan proses belajar-mengajar menjadi satu arah. Guru memberikan berbagai pelajaran dan informasi menurut GBPP, sedang siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan dan menghafal secara mekanis apa-apa yang telah disampaikan oleh guru. Lebih lanjut motode pengajaran semacam ini mengakibatkan para siswa menjadi tidak memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat, tidak kreatif, dan mandiri, apalagi untuk berpikir inovatif dan problem solving. Suasana belajar yang penuh keterpaksaan itu berdampak pada hilangnya upaya mengaktiviasi potensi otak, sehingga potensi otak yang luar biasa itu belum pernah berhasil mengaktual. Untuk mengaktiviasi potensi otak itu suasana belajar harus menyenangkan, kesadaran emosional juga tidak boleh dalam keadaan tertekan. Suasana belajar yang terakhir disebutkan itulah yang akan membuat otak kanan terbuka sehingga daya berpikir intuitif dan holistik yang luar biasa itu akan terangsang untuk bekerja. Dengan demikian sebuah metode yang lebih cocok bagi para siswa di masa sekarang ini adalah mutlak mesti ditemukan, untuk kemudian diterapkan. Apa pun nama dan istilah metode tersebut tidak jadi soal, asalkan ia lebih menekankan peran aktif para siswa. Guru tentu saja tetap dianggap lebih berpengalaman dan lebih banyak pengetahuannya, tapi ia tidak pemegang satu-satunya kebenaran. Sebab, kebenaran bisa saja datang dari para siswa. Karena itu, metode tersebut mesti bertumpu pada dialog sehingga para siswa dituntut untuk berpendapat dan menyampaikan komentar-komentarnya terhadap berbagai materi pelajaran dan informasi yang ada. Juga suasana belajar harus menyenangkan dan tawaran kepada kegiatan ekstrakurikuler harus dibuka seluas-luasnya. Dalam metode ini seorang guru mesti lebih berfungsi sebagai fasilitator, yang mengaja, merangsang, dan memberikan stimulus-stimulus kepada para siswa agar menggunakan kecakapannya secara bebas dan bertanggung jawab. Bahwa kemudian bagi guru maupun siswa harus sama-sama bersedia mendengar pendapat orang lain, sekalipun mungkin pendapat orang lain tersebut kurang tepat. Dengan begitu kita memulai mengembangkan budaya mendengar. Demikian beberapa hal pokok yang berkaitan dengan pendidikan, yang menurut hemat penulis, semua itu tidak bisa dibiarkan begitu saja sehingga sejarah generasi bangsa ini berjalan tanpa rencana dan strategi.*** ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com LAPAU RantauNet di http://lapau.rantaunet.web.id Isi Database ke anggotaan RantauNet: http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1 ================================================= WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id ================================================= Subscribe - Mendaftar RantauNet Mailing List, kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages: subscribe rantau-net email_anda Unsubscribe - Berhenti menerima RantauNet Mailing List, kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi emai / Messages: unsubscribe rantau-net email_anda ================================================= WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

