Assalamu'alaikum WW Dari kompas pagi iko... ambo kopikan carito tantang sawahlunto... takana maso ketek-ketek pai ka Sawahlunto malam-malam iyo rasonyo maju bana kok dibandiangkan jo tampek ambo.. Tapi antahlah lah tujuah taun pulo indak maliek Sawahlunto...mudah-mudahan kini labiah maju... Wassalam Z Chaniago - Palai Rinuak http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/08/DAERAH/sawa33.htm SUNGGUH banyak julukan untuk Kota Sawahlunto. Mulai dari kota mutiara hitam, kota kuali, Hongkong di waktu malam, kota yang tak punya dataran, kota di lereng dan lembah bukit, kota tua di atas 112,5 kilometer terowongan, sampai kota idaman.Julukan itu muncul bukan tanpa alasan. Pencitraan dari Kota Sawahlunto, memang demikian adanya. Kota dengan tingkat pertumbuhan penduduk tergolong rendah (0,15 persen per tahun) ini, dikelilingi bukit-bukit dan keadaannya sangat sunyi, terasing serta terisolir. Akan tetapi, sejak ditemukannya lapisan batu bara, si mutiara hitam, di Ulu Air di lembah gunung yang tidak berpenghuni di daerah aliran Sungai Ombilin tahun 1868 oleh ahli tambang bangsa Belanda, WH de Greve, maka Sawahlunto menjadi terkenal dan sangat penting. Adanya jalan kereta api yang menghubungkan antara Muarokalaban sampai Pelabuhan Emma Haven (sekarang Telukbayur) di Padang, yang kemudian dilanjutkan dari Muarokalaban ke Sawahlunto tahun 1894, membuka isolasi Sawahlunto dari dunia luar. Ini membuat Sawahlunto berkembang menjadi pusat industri bangsa Eropa di pegunungan pantai barat Sumatera. Sejak itu, Sawahlunto menjadi sebuah kota sangat terkenal di Sumatera. Dengan perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan sarana industri pertambangan, Sawahlunto menjadi kota besar di pantai barat Sumatera setelah Padang waktu itu. Perkembangan Kota Sawahlunto berkait erat dengan perkembangan penduduk yang datang dari berbagai daerah seperti yang berasal dari Jawa, Madura, Ambon, Bugis, Nias, Batak, Cina/Tionghoa yang tidak hanya bekerja di sektor pertambangan, tetapi juga yang bekerja di sektor lain. Oleh karena itu, status Sawahlunto yang mulanya "Nagari", berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch Nomor 32 Tahun 1918 diubah menjadi Gemente-zaman penjajahan Belanda. Perkembangan status Sawahlunto terus berlanjut hingga setelah Indonesia merdeka. Status "Gemente" diubah menjadi "Kota Kecil" dengan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1956. Kemudian dengan UU Nomor 1 Tahun 1957 "Kota Kecil Sawahlunto" kembali berubah lagi statusnya dengan nama "Kotapraja Sawahlunto". Kotamadya Sawahlunto baru terbentuk semenjak 1965, yang didasarkan kepada UU Nomor 18 Tahun 1965. Dan kini, di era otonomi daerah, Kota Sawahlunto yang berada pada ketinggian 250 meter-650 meter di atas permukaan laut, dengan temperatur maksimum 27,9 derajat Celsius dan minimum 22,5 derajat Celsius dan curah hujan rata-rata 2.395 milimeter per tahun, ingin mengembangkan diri dan membangun citra sebagai kota idaman, kota tujuan wisata. "Peluang yang terbuka lebar untuk bisa eksis dan dinamis di era otonomi adalah mengembangkan industri pariwisata. Bekas-bekas lubang tambang yang berusia 100 tahun lebih, dengan teknologi yang baik, faktor keselamatan tinggi, akan kita kembangkan menjadi obyek wisata. Wisata dalam tanah seperti di Kanada dan Australia," kata Wali Kota Sawahlunto, Subari Sukardi. Menurut data di Unit Pertambangan Ombilin (UPO), bekas-bekas lubang tambang berupa terowongan-dengan tinggi dan lebar sekitar 4 x 4 meter-di perut Kota Sawahlunto, dengan total panjang sekitar 112,5 kilometer. Sepanjang 100 kilometer di antaranya tidak aktif, yang mungkin sebagian bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Sedang pabrik pengolahan batu bara dijadikan museum pertambangan. Subari menjelaskan, pihaknya kini serius menggarap potensi wisata tambang ini, apalagi didukung bangunan-bangunan tua bernilai sejarah yang kini masih terjaga kelestariannya. Sawahlunto merupakan kota pertambangan tertua di Indonesia. "Untuk itu, tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan identifikasi potensi pariwisata di Kota Sawahlunto," katanya. *** MESKI Kota Sawahlunto dilaporkan Direktur PT Tambang Batubara Bukit Asam, RA Sunardi, memiliki deposit batu bara tambang dalam sekitar 100 juta ton, namun yang bisa dan siap ditambang segera hanya sekitar 65 juta ton. "Jika 65 juta ton ini ditambang dengan produksi rata-rata 1 juta ton per tahun, maka keberadaan Sawahlunto akan bertahan selama 65 tahun," katanya. Persoalannya, adakah investor yang bersedia berinvestasi untuk tambang dalam ini? Apakah tambang dalam ini cukup ekonomis untuk dieksplorasi? Apa pun kemungkinannya, kata Subari Sukardi, Sawahlunto harus mencari basis ekonomi lain yang dapat menggantikan pertambangan bila kegiatan ini harus berhenti, atau meningkatkan perkembangan ekonomi kota apabila tambang masih dapat dipertahankan. Kondisi alam dan kedudukan Sawahlunto dalam dinamika regional, tampaknya memberi peluang pada pengembangan sektor pariwisata, industri kecil, dan pelayanan regional sebagai basis pengembangan ekonomi alternatif selain pertambangan. Lantas obyek wisata macam apa yang akan dikembangkan Sawahlunto? Menurut Subari Sukardi, terowongan bekas tambang batu bara dan fasilitas yang berada di tengah-tengah Kota Sawahlunto, merupakan potensi wisata yang cukup unik karena letaknya yang berada di pusat kota. Selain faktor nilai sejarahnya yang hanya dimiliki Sawahlunto, potensi ini didukung dengan beberapa bangunan kolonial Belanda yang berdiri bersamaan dengan dibukanya pertambangan batu bara di wilayah ini. "Kegiatan penambangan di kota ini menarik untuk dijadikan saksi sejarah penambangan karena merupakan yang tertua di Indonesia. Sebuah living museum untuk kota tambang tampaknya dapat menjadi suatu obyek wisata yang khas untuk Sawahlunto," paparnya. Selain itu, Kota Sawahlunto juga memiliki karakteristik yang unik sebagai potensi wisata. Skala kota yang sangat manusiawi serta didukung alam Minangkabau yang berbukit dan berlembah asri dan segar, dengan lingkungan alam dan panorama yang menarik dapat dikembangkan menjadi kawasan resort yang bersaing dengan wilayah lainnya di Sumbar. Jalur kereta api-dengan terowongan terpanjang-yang ada di Sawahlunto merupakan potensi tersendiri. Dengan telah ditetapkannya Paket Wisata Nostalgia Kereta Api nanti, berarti memperkecil isolasi Sawahlunto. Di samping potensi alam dan sejarah, dengan keunikan yang dimiliki Sawahlunto dibanding kota lainnya di Sumbar, mungkin arsitektur kota yang semula dibangun kolonial Belanda, arsitektur tradisonal Minangkabau, kebiasaan hidup sehari-hari masyarakat tradisional, upacara adat, kesenian, permainan anak nagari, kerajinan rakyat yang khas, merupakan kegiatan budaya yang dapat menjadi potensi yang mungkin dikembangkan dalam menunjang program pariwisata ini. "Sehubungan dengan program otonomisasi daerah yang akan berlaku di Sawahlunto, untuk dapat mencapai pembangunan pariwisata yang terkontrol dibutuhkan struktur organisasi khusus, lembaga, dan peraturan, dan perhitungan pajak yang melalui proses perencanaan yang terintegrasi dan menyeluruh untuk itu," demikian Wali Kota Subari Sukardi. (Yurnaldi) _________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com. Share information about yourself, create your own public profile at http://profiles.msn.com. Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id Database keanggotaan RantauNet: http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1 ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id ------------------------------------------------------------------------------------------------- WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

