Assalamu'alaikum wr.wb.,

Kolom di Panji Masyarakaik (sarago manantian kopi paik);

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Lembang Alam

KOLOM / PANJI NO. 26 TH IV � 18 OKTOBER 2000
 

Cara Lain Memahami Gus Dur
 

Deddy Mulyana

Pakar komunikasi lintas budaya Unpad, dosen tamu di Northern Illinois University

 

Ketika tahun lalu Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden, ada secercah harapan 
bahwa kita akan keluar dari krisis yang  memporakporandakan bangsa. Kini harapan itu 
masih samar, kalaupun tidak meredup. Perilaku politik tokoh itu tidak seindah yang 
kita harapkan. Citra Gus Dur melorot. Sebagian orang menganggap Gus Dur tidak beda 
dengan Soeharto, khususnya keterlibatan dia dalam kasus Bulog dan Brunei. Mengapa bisa 
demikian? Tulisan ini ingin menegaskan bahwa perilaku elite politik itu �alamiah� 
saja. Ucapan dan tindakan Gus Dur saat ini adalah perwujudan perspektifnya dalam 
konstelasi politik di Indonesia.

Menurut Howard Becker et al. (1968), perspektif mengandung: suatu definisi situasi: 
seperangkat gagasan yang melukiskan karakter situasi yang memungkinkan pengambilan 
tindakan; suatu spesifikasi jenis-jenis tindakan yang secara layak dan masuk akal 
dilakukan orang; kriteria untuk penilaian: standar nilai yang memungkinkan orang dapat 
dinilai. Perspektif ini identik dengan apa yang Alfred Schutz (1962,1971) sebut 
�pengkhasan� (typication) untuk menandai individu manusia, motivasi manusia, tujuan, 
dan pola tindakan yang berasal dari persediaan pengetahuan individu yang terendapkan. 
Pengkhasan ini sangat dipengaruhi oleh sistem relevansi, atau lebih khusus lagi, 
berbagai tujuan, maksud, kepentingan, rencana dan harapan yang dianut individu, yang 
semuanya berasal dari atau termasuk ke dalam situasi mereka yang secara biografis 
telah menetap (biographically determined situation), yakni endapan semua pengalaman 
terdahulu manusia yang diorganisasikan dalam pemilikan atas persediaan p!
engetahuan yang ada yang sudah menjadi kebiasaan.

Perspektif muncul berdasarkan komunikasi antaranggota kelompok selama individu menjadi 
bagian dari kelompok tersebut. Lewat komunikasi yang intens dengan sesama anggota 
kelompok, para anggota kelompok berbagi perspektif tersebut dan menggunakannya untuk 
menafsirkan realita apa pun yang mereka temui dalam kehidupan mereka. Setelah 
anggota-anggota kelompok itu berinteraksi dengan sesamanya untuk waktu yang lama, 
setiap kelompok mempunyai perspektif yang berbeda, atau bahkan bertentangan terhadap 
suatu  masalah, bergantung pada tujuan, nilai-nilai yang dianut, dan kepentingan 
pribadi dan kepentingan kelompok tersebut. 

Sejak kecil kita menggunakan perspektif. Tanpa perspektif, kita akan melihat situasi 
yang ada di hadapan kita centang-perenang, ngawur, dan tidak bermakna. Apa yang kita 
tangkap lewat perspektif kita bukanlah realita yang utuh, melainkan aspek-aspek 
tertentu realita yang kita anggap penting, yang mungkin dianggap remeh oleh orang 
lain. Tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada kebenaran mengenai realita yang kita 
ditemukan, atau bahwa semua perspektif itu sama benarnya. Tetapi perspektif memang 
membatasi pandangan kita, dan kita hanya dapat melihat sesuatu sejauh berada dalam 
perspektif kita. Meskipun demikian, perspektif kita dapat berubah, bergantung pada 
kelompok yang kita masuki dan kita jadikan rujukan. 

Perubahan itu berlangsung sejalan dengan pertambahan usia kita, juga sejalan dengan 
perubahan situasi kita dari hari ke hari atau bahkan pada hari yang sama, bergantung 
pada peran yang kita mainkan dalam situasi tersebut. Perubahan perspektif inilah yang 
menjelaskan mengapa ucapan dan tindakan Abdurrahman Wahid kini lain dibandingkan 
dengan sebelum ia menjadi pemimpin bangsa, karena �koordinat perspektif�-nya pun telah 
berubah. Dalam kampanye Pemilu1998, Gus Dur pernah berjanji bahwa ia akan membantu 
rakyat Aceh untuk melakukan referendum bila PKB menang. Kenyataannya, setelah menjadi 
presiden, ia mengingkari janjinya. 

Setiap orang tampaknya mempunyai berbagai perspektif berdasarkan tingkat keumumannya. 
Secara garis besar perspektif ini terbagi tiga: perspektif umum (relatif permanen) 
seperti keyakinan agama, perspektif menengah, dan perspektif khusus (situasional).  
Perspektif menengah dan khusus lebih mudah berubah karena harus disesuaikan dengan 
situasi, untuk menyenangkan khalayak atau mempertahankan kepentingan pribadi. Gus Dur 
tentu punya beberapa perspektif umum tentang hak asasi manusia dan pluralitas, namun 
ia juga memiliki beberapa perspektif menengah yang analog dengan peran sosialnya 
(sebagai presiden, tokoh NU, sahabat, suami, ayah, dsb.) dan perspektif khusus yang 
menuntutnya "bermain sandiwara" alias mencla-mencle dalam situasi tertentu untuk 
memenuhi kepentingan (politik) pribadi atau menyenangkan suatu khalayak. Pada tingkat 
menengah dan khusus inilah Gus Dur sering berganti-ganti perspektif, seperti 
dilukiskan kebijakan dan keputusannya yang serba mendadak atau  mudah berub!
ah selama ia menjadi presiden.

Salah satu perspektif Gus Dur lainnya yang umum, tetap, dan konsisten berkaitan dengan 
cara pandang terhadap organisasi. Puluhan tahun ia menjadi tokoh pesantren dan aktivis 
LSM yang pergaulannya melintasi batas negara, bangsa, ras, etnik, dan agama. 
Pengalamannya mewarnai atau bersinergi dengan kepribadiannya yang cuek, terbuka, 
urakan, ceplas-ceplos, nyeleneh, keras kepala dan sulit menerima saran orang lain, 
impulsif (dan karena itu cepat mengubah keputusan), menggampangkan, dan serba 
informal. Maka gaya kepresidenan Gus Dur tidak bisa tidak adalah seperti yang kita 
saksikan selama ini yang kurang lebih juga mencerminkan sifat-sifat tersebut, oleh 
karena sifat-sifat itu terdapat dalam khazanah perspektifnya. Pendeknya, bagi Gus Dur 
mengelola negara sama saja dengan mengelola pesantren yang tradisional atau mengelola 
LSM. Karena itu muncullah "pengkhasan" ala Gus Dur yang juga �ganjil� terhadap realita 
di sekelilingnya, seperti: "Murid TK" (terhadap anggota DPR), "Ada Biang !
Kerok" (di MPR), "Gitu aja kok repot-repot" (ketika dikritik) atau "Gitu aja kok 
diurusin" (ketika dituduh berselingkuh dengan Aryanti Sitepu).

Dipandang dari sudut ini, Gus Dur justru politikus yang kini paling konsisten dengan 
perspektifnya yang umum (dari satu sisi lain Anda bisa mengatakan ia orang yang paling 
konsisten dengan ketidakkonsistenannya). Walhasil, kita harus rasional. Agaknya hingga 
2004 pun Gus Dur tidak akan banyak berubah. Kita sabar saja sambil berdoa, 
mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan muncul pemimpin bangsa yang 
lebih baik daripada Gus Dur.




------------------------------------------------------------
Free Web-email ---> http://mail.rantaunet.web.id
Minangkabau WebPortal ---> http://www.rantaunet.web.id



Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id
Database keanggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]

[email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
-------------------------------------------------------------------------------------------------
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke