ass.wr.wb http://www.sabili.ku.org/fokus%20111120-a.htm Boikot Produk Yahudi Perjuangan bangsa Palestina masih sangat panjang. Kebiadaban Israel atas Muslim Palestina masih berlangsung. Kini, Yahudi sudah berani terang-terangan berbisnis di Indonesia. Djoko Susilo (Fraksi Reformasi) mengungkap "selingkuh" PT Pindad dengan Israel. Nun jauh di sana, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi berfatwa: Boikot produk AS dan Yahudi! Bagaimana di sini? Usai Jum'atan, jamaah shalat Jum'at Masjid Umar bin Khattab, Qatar, pekan lalu, tak segera beranjak dari masjid. Mereka dengan seksama mendengarkan fatwa mutakhir Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi tentang Palestina. Dialog bersama Qardhawi, ba'da Jum'atan itu, tak sekadar dukungan terhadap intifadhah Palestina. Ulama kharismatik yang karya-karyanya jadi rujukan kaum muslimin itu, juga mengeluarkan fatwa yang berkaitan dengan produk Israel dan Amerika. Menurut Qardhawi, salah satu bentuk dukungan konkret bagi perjuangan rakyat Palestina adalah dengan mengembargo/memboikot total produk Israel dan AS. Ia berfatwa, "Satu real (mata uang Arab-red) yang Anda keluarkan untuk membeli produk Israel dan AS, sama dengan satu peluru yang akan merobek tubuh saudara Anda di Palestina." Selanjutnya, Qardhawi menyatakan keterkejutannya terhadap sebagian umat Islam yang merasa tidak dapat hidup tanpa produk Amerika. "Saya terkejut ketika ada sebagian umat Islam mengatakan tidak mungkin hidup tanpa Pepsi, Coca Cola, Pizza Hut, atau peralatan modern produk Amerika," kata Qardhawi seperti dikutip eramuslim.com. Qardhawi menjelaskan, siapa saja di antara kita yang menganggap enteng masalah pemboikotan produk AS, dan membayar walaupun cuma satu real untuk produk tersebut, itu sama saja dengan memberi mereka satu peluru untuk dipergunakan menembak saudara-saudara kita di Palestina. Qardhawi mendasarkan fatwanya itu pada kenyataan, betapa besarnya bantuan dana AS untuk Zionis Israel, belum lagi Kongres AS yang jelas-jelas mendukung Israel dalam masalah Palestina. Dalam kaitannya dengan jihad untuk Palestina, kata Qardhawi, Al-Qur'an menegaskan bahwa jihad yang dimaksud adalah dengan harta dan jiwa. Jika tidak bisa berjihad dengan jiwa, pilihannya adalah dengan harta. Nah, salah satu bentuk jihad dengan harta, seru Qardhawi, adalah dengan melakukan pemboikotan total terhadap semua produk AS dan Israel. Di sejumlah negara Timur Tengah, demo-demo anti AS dan Israel, memang, terus meluas. Selebaran yang berisi seruan boikot ekonomi AS dan Israel, baik melalui makanan, barang dan perhotelan, di beberapa negara Arab makin menguat, seiring dengan fatwa ulama yang mengharamkan membeli produk AS dan Israel. Seruan itu-senada dengan fatwa Qardhawi-bahkan menyebutkan, bahwa setiap dolar yang digunakan oleh umat Islam untuk membeli barang-barang produk AS atau Israel, sama dengan satu peluru yang akan merobek-robek Muslim Palestina. "Dalam hal ini kita semua bertanggung jawab dan harus memutuskan semua hubungan ekonomi dengan AS dan Israel," demikian antara lain bunyi seruan itu, sebagaimana dikutip naseej.com. Menurut seruan itu, langkah ini-mau tidak mau-harus ditempuh, sebagai sikap yang jelas untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. "Karenanya," demikian seruan itu, "jangan menganggap remeh langkah ini. Mereka itu tidak paham kecuali dengan bahasa uang. Melalui uanglah kita akan menyakitkan mereka. Karena itu, kita harus menggunakan uang sebagai senjata." Selebaran itu tak lupa menyebutkan jenis-jenis makanan dan minuman, restoran, film, bank, nama-nama hotel yang memiliki hubungan ekonomi dengan AS dan Israel. Ketua Umum KAMMI, Fitra Arsil, memandang perlunya aksi boikot ini. "Itu penting. Kita harus mulai berpikir bahwa sumber daya umat Islam yang besar ini jangan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, yang justru kemudian mereka gunakan untuk menghantam Islam," katanya. Untuk itu, lanjut Fitra, fatwa Qardhawi itu patut kita ikuti. Apalagi, ini yang menarik, ujarnya, Qardhawi menyatakan imperialisme yang dilakukan Yahudi justru banyak dibiayai oleh umat Islam. Hal senada disinggung KH Rahmat Abdullah dalam demo tentang Palestina baru-baru ini. Dalam hal ini, Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan (PK) itu menggugat sekaligus menggugah kesadaran kita. "Sudah jelas bahwa setiap produk yang mereka bikin itu selalu menghasilkan keuntungan yang sebagian besar dibelikan peluru untuk menghantam Muslim Palestina," cetusnya. Karena itu, menurut Rahmat, "Saya cuma menggugah kesadaran, apakah perlu fatwa untuk itu ...." Hanya saja, menurutnya, diperlukan sikap yang memang permanen. Fatwa tidak keluar lantaran munculnya kasus. "Dalam Risalah Pergerakan disebutkan: 'Perhatikanlah ekonomi bangsamu, gairahkanlah usaha mereka. Dan jangan kamu konsumsi makanan kecuali buatan negeri muslim-mu,'" tuturnya pada SABILI. Itu bukan pesan emosional sesaat, lanjutnya, melainkan pesan doktrin yang sangat adil, "Karena dari mana kita dapat memodali pembangunan kita kalau tidak dari hemat kita, sedang mereka memodali kemauan kita dengan menjajah kita berabad-abad," tegasnya. Dari negeri jiran Malasyia, PAS-Partai Islam se-Malaysia-di samping menyerukan jihad ke Palestina, juga mengajak menindaklanjuti seruan boikot ekonomi AS dan Israel. Tak hanya PAS yang bersuara vokal dan kritis. ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) pun menyambut ajakan boikot ekonomi itu. Presiden ABIM, Ustadz Ahmad Azam Abdurrahman, mengingatkan bahwa Israel dan AS hanya dapat dilawan dengan kekuatan. "Kekuatan dari berbagai sumber," kata Azam. Dan yang paling mungkin saat ini, menurutnya, adalah gerakan memboikot bisnis yang ada kaitannya dengan Yahudi itu, dan otomatis produk Amerika pun kena embargo. "Selain memboikot produk Israel, juga memboikot barang negara-negara yang mendukung rezim Zionis itu," ujarnya pada SABILI lewat telepon. Kalau di sejumlah negara Timur Tengah yang gegap gempita dengan aksi boikot produk AS dan Israel, di Indonesia baru sampai pada tahap pembicaraan. Dalam diskusi-diskusi yang bertemakan Palestina, hal ini memang disinggung. Hanya saja umumnya beranggapan, di negeri ini belum ada lembaga yang kredibel mengeluarkan fatwa untuk masalah Palestina. "Tak ada lembaga ulama yang cukup kredibel memberikan fatwa untuk persoalanPalestina, khususnya soal boikot terhadap produk Israel," kata Amang Syafrudin, salah seorang pembicara diskusi tentang Palestina, di UI, Depok, Jum'at (27/10) lalu. "Ini tergantung dari keberanian ulama-ulama seperti di NU dan Muhammadiyah, termasuk yang di partai-partai Islam itu," ujarnya lagi. Menurut Ketua PP Persis bidang Tarbiyah, M. Abdurrahman, MA, untuk sampai pada tingkat fatwa, perlu ijtihad, karena masalah ini bersifat internasional dan menyangkut hukum. Tapi ia setuju ajakan untuk memboikot produk AS dan Israel. Meski tidak sampai memandang haram minuman dan makanan semacam Coca Cola dan McDonald's, "Tapi untuk umat Islam, jangan dibelilah!" serunya. "Dengan kita beli satu sen saja dari mereka, berarti kita ikut nyumbang mereka," lanjutnya, "dan setiap sen yang kita sumbang dapat digunakan untuk membunuh bangsa Palestina, juga untuk menekan negara kita." Selanjutnya dosen Unisba ini menyatakan keprihatinannya, lantaran kita, terutama pemerintah Indonesia masih memiliki ketergantungan pada AS. Kita masih dililit utang, sehingga untuk kritis dan vokal terhadap AS sepertinya kegigit lidah. Keperihatinan di atas, masih ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran umat akan masalah yang satu ini. "Jelas sangat sedikit yang menyadari. Yang menyadari pun tak sepenuhnya menyetujui adanya fatwa sebagai salah satu solusi," cetus Amang. Tapi setidaknya, ia melanjutkan, bagi kita yang sudah memiliki keterkaitan hati dengan Palestina, sudah selayaknya menghindari produk-produk Yahudi dan Amerika. Dengan adanya fatwa atau seruan dari Syeikh Qardhawi, paling tidak komunitas tertentu dari umat ini akan mengikuti seruan itu, karena harus diakui, seperti dikatakan Ketua HAMMAS, M. Fajar, kita rata-rata masih mengambil fatwa dari masing-masing kelompok. Sebagian umat, katanya, mengambil fatwanya Yusuf Qardhawi tadi. "Memang, kita jarang sekali mengambil fatwa dari Indonesia, sebagian kita mengambil referensi luar, termasuk dari fatwa Yusuf Qardhawi," ujarnya. Toh menurutnya, apapun ceritanya kita harus berbuat. Jangan dilihat besar kecilnya, tapi lihat intensitas dan komitmen perlawanannya. Terbukti, paparnya, ketika sejumlah ormas kepemudaan Islam, termasuk HAMMAS, secara intens terus menggempur kedubes AS, toh membuahkan sedikit hasil dengan ciutnya mereka, sehingga merasa perlu menutup kedutaannya. "Alhamdulillah, cukup berhasil, artinya penutupan kedubes AS lantaran kerja rutin kita yang intens dengan aksi-aksi," akunya. Pertanyaannya kemudian, mengapa demo-demo intens di kedubes AS itu tak diikuti dengan aksi-aksi boikot produk AS dan Israel? Malah sampai ada yang bertanya, efektifkah tindakan itu? Bagi Ridwan Saidi, jangan bicara efektivitasnya dulu, tapi kedepankan dulu solidaritasnya. "Dulu orang bakar mobil Fiat waktu Sidi Mochtar digantung di Tripoli oleh penguasa Itali," ungkapnya. Karenanya, menurut Ketua Umum Partai Masyumi baru itu, boikot terhadap produk AS-Israel yang ada di Indonesia, sebagaimana fatwa Qardhawi, adalah suatu kemestian. "Mesti dong, di sini kan juga ada jaringan hotel-hotel yang mereka punya. Begitu pula di bisnis pariwisata, perbankan .... Soros secara terbuka juga ada di Bentoel dan SCTV," tuturnya. Memang, pialang kondang George Soros, si Yahudi tengik itu, kini-sejak Gus Dur berkuasa-sudah terang-terangan berbisnis di Indonesia. Pertama, Soros masuk grup Rajawali, dengan cara membayarkan utang PT Bentoel dan PT Tresno. Ia mengambil alih 75% saham PT Bentoel Prima melalui PT Transindo Multi Prima. Utang senilai 2,14 triliun itu dibayarkan ke BPPN. Jadi, bagi perokok, terutama yang senang produk rokok Bentoel, secara tak langsung sudah nyumbang Israel. Tak berhenti sampai di situ. Soros pun masuk televisi. Sebuah konsorsium yang dipimpin PT Bhakti Investama Tbk-perusahaan yang 14,5% sahamnya dikuasai oleh Quantum Fund milik Soros-menggandeng PT Mitrasari Persada, sebagai pemegang saham mayoritas PT Surya Citra Televisi (SCTV). Utang-utang televisi swasta itu diambil alih konsorsium ini. Soros pun merambah ke dunia pariwisata lewat PT Pengembangan Pariwisata Lombok. Sedang di PT Telekomindo Prima Bhakti-perusahaan yang membawahi bisnis telekomunikasi-Soros mengambil alih saham 60% operator GSM Exelcomindo dan 89% saham Multisaka. Di bisnis media-selain di SCTV-perusahaan itu mempunyai saham 30,1 di RCTI dan 20% di Indonusa. Yang mengagetkan lagi adalah ketika pemerintah berniat melepaskan sahamnya sebanyak 51% di PT Telkom dan Indosat pada Soros. Untungnya mendapat penolakan keras dari Dirut PT Telkom-waktu itu-AA Nasution. Yang mengejutkan adalah di bisnis senjata. Saat rapat dengar pendapat Komisi I DPR-RI dengan Panglima TNI dan seluruh Kepala Staf TNI, Selasa (24/10) lalu, Djoko Susilo (Fraksi Reformasi) mempertanyakan soal kebenaran "selingkuh" PT Pindad dan TNI Angkatan Darat (AD) dengan pemerintahan Zionis Israel. Menurut Djoko, yang ditujukan kepada Panglima TNI Laksamana Widodo, saat komisinya melakukan kunjungan kerja ke Pindad belum lama ini, didapatkan informasi dari salah satu direksi PT Pindad, bahwa selama ini-setidaknya sampai 1998-PT Pindad melakukan kerja sama pembuatan senjata dan amunisi dengan pemerintah Zionis Israel. Bahkan, katanya, sebagaimana informasi sumber di Pindad tadi, ketika itu setiap TNI AD membeli senjata ke Pindad harus memperoleh lisensi dahulu dari pemerintah Israel. Menjawab pertanyaan Djoko Panglima mengaku belum menerima laporan tentang itu. "Mungkin bisa ditanyakan secara langsung kepada Kepala Staf Angkatan Darat. Karena Pindad selama ini berkoordinasi dengan AD," katanya. Sayang, Djoko tak mau menyebut siapa salah seorang direksi di PT Pindad yang dimaksudnya. Yang jelas, katanya pada SABILI, "Maksud saya mengungkap ini sebagai suatu peringatan bagi kita semua, bahwa agen-agen Zionis itu sudah lama masuk dan menyebar ke wilayah Indonesia. Yang lebih berbahaya, justru agen-agen Zionis Yahudi Melayu banyak berkeliaran di semua level pemerintahan, legislatif, yudikatif dan lembaga bisnis. Bahkan di BPPN, konsultan asingnya adalah agen Yahudi," ungkapnya. Jadi apapun ceritanya, yang jelas Zionis Yahudi sudah mengobok-obok negeri ini, termasuk dalam bisnis. Delegasi dagang Israel sendiri sudah menginjakkan kakinya ke bumi Nusantara. Itu terjadi di akhir Desember 1999 dan awal januari 2000 lalu. Akbar Tandjung waktu itu bahkan sempat menyatakan, jika antara pebisnis Yahudi itu terjadi perjanjian formal dengan pemerintah Indonesia, berarti pemerintah tidak mengindahkan aspirasi rakyat. Tapi bagaimana dengan terang-terangannya Soros berbisnis di Indonesia? Itu baru seorang Soros. Bagaimana pula jaringan bisnis Yahudi lainnya yang juga mengepung Indonesia? Lihat saja jaringan bisnis multilevel marketing macam Amway. Jaringan bisnis yang berpusat di Eden, Michigan, AS, itu sudah jadi rahasia umum bahwa di belakangya adalah Yahudi, sebagaimana dikatakan Amang Syafrudin. Amway yang menyebar di 87 negara dengan sejumlah cabangnya, dalam menjalankan roda bisnisnya, bekerja sama dengan Network Twenty-one. Untuk diketahui, tercatat perusahaan yang saat ini menggalang kerja sama dengan Amway, di antaranya adalah Astra, Citibank dan Pierre Cardin. Takutkah Amway kalau produk-produknya diboikot? Jeffry Kusnadi dari Network Twenty-one,keberatan kalau Amway dikaitkan dengan politik. "Amway tidak terlalu mengurusi politik, melainkan pure economic, dan setiap anggotanya tidak pernah mendengar sikap Amway dalam hal politik," akunya. Dan, sejauh ini, menurutnya, tak pernah ada masalah, kendati ketegangan antara Indonesia dengan Amerika sudah beberapa kali terjadi. Tapi begitulah, memang. Sensitivitas umumnya kaum muslimin boleh dibilang kurang. Ini memang ironis. Meski diberitahu Amway ada hubungannya dengan Zionis, mereka tetap saja tak peduli. Dalam sebuah pertemuan Amway di bilangan Senayan, bahkan SABILI pernah menjumpai seorang mantan pejabat di Depag-suami-istri- terlibat dalam jaringan bisnis Yahudi-Amerika ini. Belum lagi di jaringan bisnis makanan dan minuman macam Mc Donald's, Dun Kin Donut's, KFC, Pizza Hut, Pepsi, Coca Cola, dan sebagainya. Peminat 'fanatik'nya justru orang-orang Islam. Tak heran, Syekh Qardhawi pun menyatakan keterkejutannya saat mendengar sebagian umat Islam tidak siap hidup tanpa mengkonsumsi Pepsi, Coca Cola, Pizza Hut, dan sebagainya, termasuk peralatan modern buatan Amerika. Di bidang sosial, Zionis Yahudi juga memainkan "kartu"nya. Mereka membentuk sebanyak mungkin organisasi-organisasi-yang di atas permukaan bergerak di bidang sosial. Sebut misalnya, Lions Club dan Rotary Club. Celakanya, banyak kalangan Islam yang kepincut aktif di organisasi ini, yang di atas permukaan, memang, tidak menunjukkan keyahudiannya. Kegiatan organisasi ini, antara lain, mengadakan pertukaran pelajar. Jadi wajar saja, ketika Muslim Palestina ditembaki, dibantai dan dihabisi, sebagian besar kaum muslimin sesungguhnya bersikap biasa-biasa saja. Ironisnya lagi, kegeraman dan kemarahan umat Islam atas kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina, ternyata tak diikuti pemerintahan Gus Dur. Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya (Habibie, Soeharto bahkan Soekarno) yang mendukung perjuangan bangsa Palestina, Gus Dur malah bilang pada Ketua Parlemen Palestina, Prof. Dr. Saleem Al-Zanoon, bahwa dalam hal konflik Palestina-Israel, Indonesia bersikap netral alias tidak memihak. Penyataan itu membuat Saleem prihatin dan jengkel. Menurutnya, Gus Dur langsung menyampaikan pernyataan itu pada delegasi Palestina di IPU. Toh, bagi Saleem, pernyataan Gus Dur itu tak jadi masalah serius, selama rakyat Indonesia tetap mendukung perjuangan Palestina. Selanjutnya dia mengeritik keanggotaan Gus Dur di Yayasan Shimon Perez. Padahal, ungkapnya, yayasan yang didirikan mantan Menlu Israel-dimana Gus Dur juga salah seorang anggota pendirinya-itu mencari dana dengan cara meminta sumbangan dari semua komunitas Yahudi di seluruh dunia. "Sebagian dana yang dikumpulkan itu lalu dipakai untuk membeli senjata bagi para teroris Israel," papar Saleem. Nah, jelas kan? Masihkah kita ragu bahwa sebagian keuntungan bisnis Yahudi dan Amerika pun digunakan untuk membunuhi Muslim Palestina? Benarkah kita tak mampu untuk tidak mengkonsumsi produk, makanan dan minuman mereka? Sejumlah ormas kepemudaan Islam seperti HMI, PII, KAMMI dan HAMMAS menyatakan dukungan terhadap fatwa atau seruan yang dinyatakan Yusuf Qardhawi. "Saya pikir, itu bagus. Saya sepakat saja, dalam rangka menunjukkan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina," tutur Ketua HMI, Fachruddin. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah-langkah yang lebih konkret, agar tekanan-tekanan politik umat Islam secara efektif juga memberikan dampak, bukan sekadar demonstrasi satu-dua hari, tanpa ada tindak lanjutnya. Sesungguhnya, kata Ketua umum PII, Abdi Rahmat, ada tidaknya konflik Palestina-Israel, sebagaimana Rahmat Abdullah, mestinya tetap saja kita tak mengkonsumsi Mc Donald's, KFC, dan sebagainya. "Karena, dengan mengkonsumsi itu semua, berarti kita masuk dalam hegemoni mereka," tandasnya. Jadi, bagi Abdi, bukan hanya lantaran tragedi pembantaian terhadap Muslim Palestina, lantas kita memboikot mereka. Nah, dengan adanya kebiadaban Israel atas bangsa Palestina, maka dorongan kita untuk tidak mengkonsumsi produk-produk mereka, mestinya makin mengental. Untuk itu, kita tunggu saja aksi-aksi para aktivis Islam itu. Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id Database keanggotaan RantauNet: http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1 ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id ------------------------------------------------------------------------------------------------- WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

