[EMAIL PROTECTED] wrote :
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Cerita indah, pelepas lelah, Semoga dapat dijadikan bahan perenungan..
Wassalam
> Mawar Senja Gugur Kelopaknya
>
> oleh Ema Kaysi
>
>
>
> Selembar surat bersampul biru muda jatuh di pangkuan
> Nur. Saat itu senja merona bersemburat cahaya jingga
> di ufuk barat. Sekelompok burung pipit terbang
> melintasi anjungan. Angin semilir meniup kelopak
> flamboyan, mahkotanya berhamburan mencium bumi.
>
> Dulu, Nur paling benci bila dikatakan bagai flamboyan.
> Pohon yang tinggi tegar berbunga kecil yang mudah
> gugur, ibarat gadis angkuh yang mudah patah hati.
>
> "Hush, tidak boleh mencela makhluk Tuhan." Si Mas
> bilang, "Mungkin kamu memandangnya dari sudut yang
> berbeda. Bagi saya, flamboyan itu memberi kesejukan.
> Coba kalau seisi taman dipenuhi mawar. Bagaimana kita
> bisa duduk sambil berteduh seperti hari ini."
>
> Ah si Mas bisa saja. Biasanya Nur mendebat dengan
> berbagai argumen. Tapi ujungnya sama saja, si mas akan
> bilang "Saya kan tidak bilang kalau kamu seperti
> flamboyan." Biasanya lagi, Nur masih memprotes juga.
> "Jadi maumu apa?" tanya si Mas akhirnya. "Mawar" jawab
> Nur. Si Mas akan tertawa. "Mau ngomong mawar kok
> muter-muter soal flamboyan."
>
> Tapi kali ini Nur tidak berminat untuk bercanda
> tentang flamboyan dan mawar. Selembar surat bersampul
> biru mengusik perhatiannya. Sudah belasan kali surat
> itu ia baca. Masih saja Nur tertegun mengikuti baris
> demi baris kalimat yang ditulisnya. Ada nafas berat
> yang dirasakannya dalam isi surat itu.
>
> "Ibarat hari, saya ini sudah hampir senja dik Nur.
> Bukan saya tidak rela dengan takdir yang Maha Kuasa,
> namun saya pun sebenarnya ingin menemukan kesempurnaan
> dien ini dengan menjalankan yang separuhnya lagi.
> Apalagi sejak bapak dan ibu berpulang, saya tidak lagi
> mempunyai keluarga tempat kembali. Tiada tempat
> berbagi, terasa hidup ini seperti luka yang menganga."
>
> Angan Nur melayang membayangkan sosok Kak Nurul di
> pedalaman, dalam kesendirian, bergulat dengan geliat
> masyarakat Bangkalan selama sepuluh tahun terakhir
> ini.
>
> Kak Nurul yang dulu bagai sekuntum mawar merekah,
> lembut dan harum. Indah tanpa cela. Wanginya tertiup
> angin hingga ke pelosok kampus dan bilik-bilik masjid.
> Nur tahu banyak pria yang memandangnya di kejauhan,
> mengaguminya dalam diam.
>
> Bukan sekali dua Nur terheran-heran mengapa para
> brothers itu tidak ada yang mau menikahinya. Apa
> salahnya menikahi wanita yang begitu "sempurna".
> Ataukah mereka hanya berani mengaguminya dari jauh
> namun takut untuk memetiknya. Takut tertusuk durikah?
>
> Apakah kepintarannya yang menjadi penghalang, konon
> kaum pria takut menikahi wanita yang lebih cerdas dari
> dirinya. Ataukah kecantikannya yang dikhawatiri
> mendatangkan cemburu. Atau karena pribadi agungnya
> yang membuat para brothers merasa ciut di hadapannya.
>
> Mungkinkah seluruh kelebihan yang bersatu dalam sosok
> wanita ini membuat para aktivis da'wah pun takut,
> takut dengan kesempurnaannya.
>
> "Barangkali belum jodohnya, Dik. Insya Allah kalau
> sudah saatnya ada juga brother yang mau meminangnya."
> Begitu selalu jawaban mas Fatih, suami Nur. Namun saat
> yang dinantikan itu belum juga kunjung tiba. Hingga
> kak Nurul mendapat tawaran untuk membantu masyarakat
> Bangkalan, sepuluh tahun yang lalu. Iapun pergi
> meninggalkan kampus tempatnya mengajar. Sejak itulah
> mereka terpisahkan.
>
> Nur memandangi wajah mas Fatih. Di bawah cahaya senja
> yang merona, ...ah makin tampan saja ia dengan garis
> ketuaan yang mulai menggurat di wajahnya.
>
> "Bagaimana mas ?" tanya Nur untuk ketiga kalinya.
> Wajah yang teduh itu tak bergeming.
>
> "Kau serius agaknya, dik" jawabnya.
>
> "Benar. Saya sudah lama memikirkannya" sahut Nur.
>
> "Tapi saya bukan orang yang tepat untuk itu. Saya
> tidak cukup adil untuk itu."
>
> "Tak ada yang bisa bersikap adil kalau soal perasaan"
> Nur memotong.
>
> "Secara materi, kau sendiri dan anak-anak pun lebih
> banyak menahan diri bukan?" si Mas balik bertanya.
>
> "Saya insya Allah bisa membantumu. Saya bisa mengajar
> atau kembali seperti dulu." Jawab Nur.
>
> Melihat Nur bersikukuh, mas Fatih melembut, "bagaimana
> kalau kita istikharah dulu." Diusapnya kain yang
> menutup rambut indah milik Nur.
>
> Hari-hari pun berlalu dalam kepatuhan mengikuti hukum
> alam. Malam siang datang silih berganti. Makhluk Allah
> menapaki hidupnya di bawah naungan sunatuLlah.
> Susah-senang hilang timbul bak gelombang laut, datang
> bergulung lalu pecah di pantai.
>
> Satu musim lewatlah sudah. Di sebuah dini hari yang
> bening, Nur berjalan mengendap ke ruang kerja mas
> Fatih. Lampunya menyala. Berarti semalaman mas Fatih
> tidak tidur. Lamat-lamat terdengar suara lirih mas
> Fatih membaca al Qur'an. Nur beranjak mendekat, namun
> malang kakinya tersandung kabel lampu. Ugh ! Ia jatuh
> terpelanting.
>
> Mas Fatih menghentikan bacaannya.
>
> "Kamu nggak apa-apa dik ?" tanya mas Fatih, cemas
> menghampiri Nur. Yang dihampiri tersenyum menahan malu
> dan nyeri.
>
> "Makanya jangan suka mengintip." Mas Fatih
> menggodanya, seraya menggosok kaki Nur yang memar.
> Pipi Nur bersemu dadu saat mas Fatih membantunya duduk
> di kursi kayu.
>
> Menarik nafas sebentar, lalu Nur membuka percakapan.
>
> "Kopornya sudah saya siapkan, Mas. Jangan lupa
> sampaikan salam saya buat kak Nurul."
>
> Mas Fatih terdiam. Nur memandangi wajah yang
> senantiasa nampak ikhlas ini. Mas Fatih tersenyum
> lembut.
>
> "Dik, semoga pengorbananmu yang mulia ini membawamu ke
> tempat terbaik di sisi-Nya. Tolong doakan agar mas
> mampu berbuat adil terhadapmu dan anak-anak."
>
> Mata Nur membasah. "Terhadap kak Nurul juga...,"
> ujarnya. "Saya rela,mas, janganlah khawatir. Saya tahu
> tidak semua wanita beruntung seperti saya, hidup di
> sisi orang sebaikmu." Nur berhenti sejenak sebelum
> melanjutkan ucapannya, " Membagi kemurahan Allah tidak
> akan mengurangi rahmat-Nya."
>
> Hari itu mas Fatih akan berangkat menuju Bangkalan.
> Dengan air mata menggenang, diciumnya kedua anaknya.
>
> "Ayah akan kembali dalam seminggu. Jaga Bunda
> baik-baik." pesan mas Fatih kepada kedua balitanya
> yang masih terlena dibuai mimpi. Nur memberi isyarat
> dengan tangannya.
>
> "Jangan janjikan mereka dengan sesuatu yang sulit
> bagimu untuk memenuhinya." ujarnya setengah berbisik.
>
> "Saya akan memenuhinya, insya Allah" mas Fatih
> berbalik, menggenggam tangan Nur. Nur berjalan
> mengantarnya hingga pagar rumah.
>
> "Jaga diri baik-baik ya dik," pesan mas Fatih.
>
> "Mas juga." Jawab Nur. Tersenyum dengan sepenuh
> kerelaan hatinya.
>
>
> Angin pagi memainkan pucuk-pucuk pinus, melambaikan
> salam perpisahan untuk gelap malam. Mentari menyeruak,
> mengirim kehangatan di pagi yang beku. Nur membuka
> hari baru dengan hati ringan. Segumpal rasa cemas
> dihalaunya dengan kepasrahan. Kedua buah hatinya
> menjadi penghibur saat sunyi terasa menggigit. Celoteh
> mereka saat bermain mengusir galau yang kadang
> menyelinap di relung hati kecilnya. Dan lagi, merawat
> kedua bocah ciliknya sudah cukup menyibukkannya. Anak
> adalah hiburan, ia adalah cahaya mata. Nur bersyukur
> atas karunia yang tidak setiap perempuan merasakannya.
> Lalu hari pun terasa beranjak dalam tempo cepat,
> tiba-tiba sore sudah menjelanga. Malam kembali datang
> menggantikan siang. Gelap menyelimuti bumi saat hamba
> Tuhan melepas penatnya.
>
> Dan Nur kembali termenung ketika anak-anak mulai
> terlelap.
>
> Semoga segala sesuatunya berjalan lancar, Nur
> membatin. Tidak mudah berhadapan dengan kondisi
> masyarakat yang belum siap menerima poligami. Anggapan
> sebagai langkah tercela dan penghalalan bagi kaum pria
> yang mengumbar nafsu sudah kadung meresap dalam
> pikiran masyarakat. Bukan salah mereka. Kenyataannya
> lelaki yang beristeri lebih dari satu adalah
> kebanyakan mereka yang kurang bertanggung jawab, kalau
> bukan para pejabat yang menyeleweng.
>
> Akibatnya banyak isteri yang tersia-sia, menderita di
> bawah tanggung jawab seorang lelaki.
>
> Jadilah hukum Allah yang satu ini dianggap tidak
> relevan dan melukai kaum wanita. Benarkah begitu ?
> Lalu berapa banyak wanita malang yang tersaruk-saruk
> mencari pendamping sementara ratio laki-laki makin
> mengecil saja.
>
> Apa yang akan terjadi bila solusi menjadi sebuah mimpi
> buruk di benak kaum hawa. Kak Nurul hanyalah sebuah
> contoh dari ribuan kasus serupa. Dan Nur merasa itu
> berada di dalam jangkauannya. Nur teringat pertama
> kali bertemu kak Nurul. Perkenalan itu bermula setelah
> kuliah PAI yang menghebohkan di semester pertama.
>
> Nur sendiri sudah mendengar banyak tentang kak Nurul,
> assisten Farmakologi yang jelita, mantan mahasiswi
> teladan yang agamis dan segudang predikat top lainnya.
> Sementara Nur baru nongol di Universitas.
>
> Ketika itu dalam sebuah kelas PAI, Pak RN (semoga
> Allah merahmati beliau), menguraikan tentang
> dasar-dasar syariat Islam. Dalam satu kesempatan
> diskusi terlontarlah pertanyaan tentang poligami.
> Dengan sigap Nur mengacungkan jari memberikan suara
> persetujuan. Suasana mendadak hening. Karena Nur duduk
> paling depan, ia belum sadar apa yang terjadi. Waktu
> Ia rasakan kesenyapan ini lain dari biasanya, mulailah
> Nur mengintip kiri-kanan dan belakang.
>
> Sadarlah Nur kalau dari enam puluh mahasiswa yang
> mengikuti kuliah PAI ini dialah satu-satunya yang
> menyetujui poligami.
>
> Aduh mak, grogi bercampur bingung ketika itu, namun
> Nur tetap berusaha tegar.
>
> Buntut dari peristiwa tersebut mudah ditebak, Nur pun
> jadi bulan-bulanan kawan-kawan. Di antara para cowok
> mulai menggoda kalau-kalau Nur mau jadi isteri
> keduanya. Yang mahasiswi tidak kalah sewotnya,
> dikatakan bahwa ia heartless, tidak punya perasaan,
> ngomong begitu karena belum kawin, coba kalau sudah
> menikah, dan masih banyak lagi bantahan mereka.
>
> Nur sendiri berusaha untuk tetap bersikap tenang, ia
> katakan kalaupun mereka tidak setuju, itu tidak akan
> menghapus ta'addud sebagai bagian dari syariat Islam.
>
> Peristiwa heboh itu rupanya membawa berkah tersendiri.
> Karuan saja kak Nurul mendatangi Nur.
>
> "Rupanya kita punya nama panggilan yang sama ya dik,"
> sapanya ketika memulai perkenalan.
>
> Nur hanya terdiam. Dalam hati, malu rasanya
> membandingkan diri nya dengan wanita dewasa di depan
> nya ini. Namun kemudian terjadilah apa yang telah
> terjadi. Nur dan kak Nurul menjadi sepasang sahabat
> yang akrab. Usia bukanlah hambatan, diskusi demi
> diskusi tetap hidup dengan jalinan persaudaraan yang
> penuh makna. Di bawah pancaran cahaya fajar maupun di
> keremangan sinar bulan dalam tetesan air wudlu dan
> lantunan ayat-ayat suci, Nur merasa hidup ini begitu
> berarti.
>
> Menjelang pernikahan Nur dengan mas Fatih, Nur
> memberanikan diri bertanya "Mengapa kak Nurul belum
> menikah. Bukankah usia kak Nurul lebih dari cukup?",
> hari itu bertepatan dengan tiga puluh tahun usia kak
> Nurul.
>
> "Jangan tanya saya, dik Nur. Siapa yang tidak ingin
> membangun surga di istana kecilnya "
>
> Dan kisah malang itu sungguh terjadi. Satu demi satu
> brothers mundur teratur lantaran silau berhadapan
> dengan kak Nurul. Padahal, kurang bagaimana tawadlunya
> kak Nurul. Sementara itu usia kak Nurul terus
> beranjak, para kader muda lebih suka memilih bunga
> yang bisa dipetik pagi hari. Kini, siapa yang masih
> teringat mawar indah di senja hari. Usia kak Nurul
> mulai melewati empat puluh tahun. Di Bangkalan sana,
> ia membaktikan ilmu dan tenaganya untuk masyarakat
> papa. Sendiri tanpa sesiapa. Salahkah Nur bila ingin
> membagi kebahagiaannya dengan kak Nurul ? Dan mas
> Fatih .ah andai ada seribu mas Fatih di dunia ini.
>
> "... Maukah kak Nurul menjadi kakak Nur di dunia dan
> akhirat?" itu adalah pertanyaan Nur di suratnya
> beberapa bulan yang lalu ketika mas Fatih akhirnya
> menyerah pada perjuangan Nur. Lama tak berbalas,
> hingga akhirnya jawaban didapat juga dari surat kak
> Nurul bulan lalu.
>
> "...bagaimanakah mungkin saya menolak permintaan dari
> seorang adik yang berhati mulia Sebenarnya ada yang
> tidak dik Nur ketahui setelah beberapa waktu berselang
> ini .namun saya sepenuhnya tawakal..."
>
> Surat terakhir kak Nurul itu ditangkapnya sebagai
> persetujuan. Maka berangkatlah mas Fatih pagi itu
> menuju Bangkalan.
>
> ****
>
> Subuh baru saja usai. Nur bersegera melipat rukuhnya
> ketika bel pintu berdentang, tergopoh ia berjalan ke
> arah pintu. Tiba-tiba di dadanya berdebur gelombang.
> Seperti saat mula pertama ia bertemu mas Fatih di
> rumah cinta mereka. Hari ini tepat seminggu mas Fatih
> berangkat. Iakah yang datang memenuhi janjinya kepada
> buah hati mereka ? Tiba-tiba mata Nur basah. Inikah
> yang namanya haru ? Ataukah cinta yang tumbuh di
> puncak kerelaan ? Pintu terkuak. Benar. Dia mas Fatih.
> Tapi mengapa ia nampak tidak biasa. Ataukah Nur yang
> tiba-tiba jadi perasa. Seakan wajah mas Fatih
> berselimut duka. Nur ingin merangkulnya, namun terasa
> tangannya tertahan. Mas Fatih mengucapkan salam dengan
> perlahan. Nur membalasnya tak kalah pelan.
>
> "Mas datang untuk saya atau anak-anak ?" Nur mencoba
> menggoda, mencairkan kebekuan.
>
> "Untuk kita" jawab mas Fatih. Tersenyum, namun berat
> terasa di dada Nur. Mas Fatih menggandeng tangan Nur.
> "Boleh masuk, dik?" kali ini ia yang menggoda. Nur
> mencolek pinggang mas Fatih, ditariknya masuk ke dalam
> rumah. Nur tidak berani membuka pertanyaan tentang kak
> Nurul.
>
> "Saya akan ceritakan setelah mandi dan shalat subuh."
> Mas Fatih seakan mengetahui isi hati Nur.
>
> Nur hanya mengangguk sebelum beranjak ke dapur meraih
> secangkir teh manis buat mas Fatih.
>
> ***
>
> "Ketika saya tiba di ujung desa." Mas Fatih memulai
> ceritanya. "Ratusan penduduk berbondong-bondong ke
> arah tempat tinggal kak Nurul. Saya tidak menduga
> kalau mereka menyambut saya, saya merasa tidak pantas
> mendapat sambutan semeriah itu. Namun hati saya
> bertanya-tanya apa mungkin kak Nurul telah
> menceritakan rencana pernikahannya kepada masyarakat
> di sana ...?" mas Fatih berhenti sejenak. Nur menahan
> nafas.
>
> "Saat saya tiba di rumah kak Nurul yang sederhana,
> barulah saya menyadari wajah-wajah yang hadir
> menampakkan kedukaan. Sayapun bertanya apakah bisa
> bertemu dengan kak Nurul. Sebagian yang hadir nampak
> marah, salah seorang menarik kerah baju saya sambil
> mengepalkan tinju, untunglah dilerai oleh seorang
> bapak yang arif yang ternyata adalah pak lurah. Ia
> bertanya siapa saya dan ada perlu apa dengan kak
> Nurul. Saya katakan bahwa saya datang dari jauh untuk
> menikah dengannya. Saya calon pengantinnya. Saat itu
> terdengar tangis keras beberapa ibu. Pak lurah
> merangkul saya dan tak hentinya menggoyang bahu saya
> sampai akhirnya saya ditariknya ke dalam rumah. Di
> tengah ruangan saya dapati sebuah keranda."
>
> Nur tak tahan mendengar cerita mas Fatih. "Keranda
> siapa? Dimana kak Nurul waktu itu ?" pertanyaan Nur
> memburu. Mas Fatih menggenggam tangan Nur.
>
> "Kak Nurul berada di dalam keranda itu, dik ."
>
> "Inna liLlahi wa inna ilaihi rajiun" Jantung Nur
> serasa terhenti sesaat.
>
> Nur tersentak. Batin Nur terguncang hebat. Lalu Nur
> tersedu. Mas Fatih mengusap kepalanya dengan air mata
> menitik.
>
> "Sabarlah dik sabar"
>
> "Apa yang telah terjadi ?" tanya Nur disela isaknya.
>
> "Ada yang tidak kita ketahui tentang kak Nurul." mas
> Fatih menjelaskan.
>
> Tiba-tiba Nur teringat isi surat terakhir kak Nurul
> ....
>
> "Sebenarnya ada yang tidak dik Nur ketahui setelah
> beberapa waktu berselang ini. Namun saya sepenuhnya
> tawakal..."
>
> Nur teringat kalimat yang ditulis kak Nurul itu. Ia
> terkesiap.
>
> "Apa yang tidak kita ketahui mas ?" tanyanya.
>
> Mas Fatih menunduk. Jemarinya menghapus ujung sajadah
> yang terlipat. "Seorang perawat di puskesmas bercerita
> kepada pak lurah kalau kak Nurul sudah lama mengidap
> kanker stadium akhir, Nur, sudah metastase
> kemana-mana."
>
> "Ya Allah Saya tidak pernah tahu " suara Nur bergetar.
>
> "Tidak ada yang tahu, Nur, hingga menjelang
> kepergiannya kecuali perawat yang membantu kak Nur di
> klinik. Saya ikut mengantar dan menguburkan jenazah
> kak Nurul. Selepas itu saya menyelesaikan beberapa
> urusan kak Nurul di sana.
>
> Saya juga pergi ke Surabaya ke tempat dokter yang
> mendiagnosis kak Nur dengan kanker payudara sejak lima
> tahun yang lalu." Lunglai terasa tubuh Nur.
>
> "Kita terlambat, mas. Saya telah melalaikannya " Nur
> seakan menyesali diri.
>
> Mas Fatih membelai kepala Nur dengan lembut.
>
> "Tidak, sayang. Allah lah yang lebih tahu apa yang
> terbaik untuk hamba-Nya.
>
> Insya Allah niat kita telah dicatat di buku-Nya." ujar
> mas Fatih. "Semoga Allah membalas amal shalih kak
> Nurul dengan sebaik-baiknya. Masyarakat Bangkalan
> mencintai kak Nurul karena keikhlasannya membantu
> mereka ." Mas Fatih berhenti sejenak. Dirogohnya
> secarik kertas dari kantung tas pinggangnya.
>
> "Ini ada surat dari mbak Ririn, perawat itu."
>
> Nur membuka surat yang diberikan mas Fatih, "Salam
> hormat untuk keluarga Bu Nurul. Ia adalah jiwa yang
> berbahagia."
>
> Air mata Nur berhamburan. Ia kehilangan mawar senja
> yang hampir dipetiknya di pekarangan cinta merekasang
> Pencipta telah menyuntingnya di taman surga abadi.
>
> ...Mawar senja gugur kelopaknya
> wangi tersisa di pagi bening
> Sesosok cinta menebar air surga
> kembali ke bumi, menuju Dia yang abadi
>
> Dalam duka, hati Nur penuh doa. Semoga tempatmu
> terbaik di sisi-Nya, oh kak Nurul.
>
> Satu hal ia tahu pasti, beribu kak Nurul di bumi ini,
> namun hanya ada satu mas Fatih
>
>
>
-----------------------------------------------------
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang
yang beruntung. (QS. Ali Imran 104:105)
-----------------------------------------------------
Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id
Database keanggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
[email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
-------------------------------------------------------------------------------------------------
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================
- Re: [RantauNet] FW: Kisah Indah Khairi Yusuf
- Re: [RantauNet] FW: Kisah Indah Muhammad Dafiq Saib

