|
Kamis, 30 Nopember 2000
Hutan Dicabik-cabik, Banjir Melanda, Rakyat Sengsara Laporan: rul Dalam sepekan terakhir, Sumatera Barat mempertontonkan kepada Indonesia bahwa wilayahnya luluh-lantak dihantam banjir dan tanah longsor. Sekaligus juga ingin menunjukkan bukti bahwa pencurian kayu di sana, sangat merajalela. Sebanyak 29 sungai besar di sana mengamuk. Kesemuanya berhulu pada hutan yang dulu penuh kayu-kayu besar, tapi kini bagai batok kepala profesor. Berambut di tepi, tapi di tengah-tengah sudah licin tandas. Orang-orang berduit, didukung oleh tentara, polisi, dan petugas kehutanan seenaknya menebangi kayu di hutan lindung dan di bagian mana saja dalam hutan tersebut. Para petugas mempertontonkan pula sandiwara konyolnya kepada rakyat. Pura-pura menangkap sejumlah truk kayu, tapi ratusan lainnya dilepas. Hanya di Sumbarlah kayu log bisa diangkut dengan kontainer menuju Telukbayur dan Jakarta. Ketika kayu lewat, petugas otomatis tertidur. Gubernur dan jajarannya ke bawah selama ini, memang sudah berusaha menghentikan pencurian kayu. Tapi, seperti pemerintah meminta rakyat untuk tidak merokok. Kampanye antirokok, tertinggal jauh dibanding produksi rokok, apalagi oleh cukai yang dikutip dari usaha ini. Begitulah pencurian kayu. Semua pejabat sok bersih, tapi di belakang rakyat, mereka membelah semangka. Kakanwil Kehutanan Sumbar, Johny Azwar, kepada wartawan yang menyerbunya di kantor Gubernur Sumbar, dengan enteng mengaku sudah berusaha mengamankan wilayah hutan Sumbar. Katanya, di Sumbar saat ini ada 1,7 juta hektar kawasan hutan lindung dan konservasi. Hutan seluas itu hanya diawasi oleh 100 orang jagawana, sebuah bilangan yang teramat kecil. Padahal harusnya, untuk lima ribu hektar hutan diperlukan satu jagawana. Namun, Kakanwil ini tidak menyebut seberapa besar kawasan itu sudah dibabat. Tapi ia yakin 1,7 juta hektar itu telah binasa. Seperti juga orang lain, pejabat kehutanan ini hanya bisa menonton. Telah lebih dari 30 tahun sudah hutan itu dibantai seenaknya, tapi Kakanwil ini, masih saja belum punya data seberapa luas hutan Sumbar yang telah rusak. Data pun Kakanwil Kehutanan tidak punya, apalagi gubernur. Pejabat pemerintah di provinsi itu, hari demi hari mementaskan sandiwara konyolnya kepada rakyat. Dan sebuah sandiwara konyol dalam musibah banjir dan longsor kemarin dipertontonkan lagi. Ketika badan jalan Padang-Solok amblas di Km 28, sebuah truk tronton berisi kayu log ikut amblas. Dengan rancaknya truk bermuatan kayu curian itu, terjun masuk jurang bersama badan jalan. Sampai sekarang, sepekan kemudian, tidak seorang pun yang mengaku sebagai pemilik kayu tersebut. Menurut Johny Azwar, di Sumbar saat ini ada enam pengusaha pemegang HPH dan 15 Izin Pengolahan Kayu. Hanya itu catatan resmi pemerintah. Padahal, ribuan gergaji kayu tidak berizin setiap hari mencabik-cabik hutan di Sumatera Barat. Hutan yang sudah binasa adalah Solok Selatan, kawasan hutan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), hutan Sijunjung sampai ke batas Riau, hutan Pasaman dan hutan di Mentawai. Adalah Bupati Solok Gamawan Fauzi, mengumumkan pada pers bahwa ia angkat tangan soal pencurian kayu. Bupati tidak punya kekuatan pasti untuk menangani pencurian kayu. Ia dengan segenap wewenangnya sudah berusaha menghentikan pencurian kayu. Tapi, tidak berhasil. Sebab bekingnya ada di Padang, di Mapolda Sumbar, atau di Korem, satu-satu di Lanal Telukbayur. Rakyat tahu itu, semua orang tahu. Mantan Bupati Pasaman, Taufik Martha, juga angkat tangan. Karena itu, Gubernur Zainal Bakar melakukan gerakan politis, sejumlah truk kayu yang sedang berjalan ditangkap. Habis ditangkap gubernur, dilepas lagi. Sejumlah truk ditangkap oleh Dinas Kehutanan, tengah malam truk beserta isinya, diambil lagi oleh yang empunya barang. Departemen ini, seperti tidak punya nyali, tuli dan pekak. Ditangkapnya sejumlah kayu olahan, kemudian ditumpuk di depan kantornya. Berbulan-bulan lamanya. Tapi, hutan lebat dirambah juga, didiamkan saja. Dan, banjir besar pun datang, 29 hulu sungai mengalirkan air dengan derasnya ke muara, membawa patahan-patahan kayu ke hilir. Sebelas sungai yang menggenangi 90 persen desa di Pesisir Selatan, semua berhulu di Solok Selatan dan di TNKS. Hulunya adalah hutan lebat, tapi itu dulu. Kini sudah meranggas, kering kerontang. Batang Lembang yang meremdam Kodya Solok, adalah salah satu tanda betapa hutan di sisi DAS sudah rusak binasa. Lalu, Gubernur Zainal Bakar yang baru jadi gubernur itu, diuji dengan datangnya bencana alam. Sebanyak 99 orang tewas tertimbun. Bersama Ketua DPRD Arwan Kasri, serta semua kepala daerah tingkat II di provinsi itu, dicanangkanlah tekad: Perang Terhadap Pencurian Kayu. Tekad yang dimaklumatkan, setelah banjir besar datang, setelah 99 nyawa, bahkan lebih melayang sia-sia. Lalu, para cukong kayu bagai burung onta menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir, tapi ekornya terlihat jelas. Ekornya itulah yang hingga kini tetap saja dilindungi oleh tentara dan polisi. Kalau ada yang berusaha menggugat, jawaban standar yang didapat adalah: Kalau ada anggota kita yang terlibat pasti ditindak! Hebatnya negeri ini. Dan, kehebatan itu makin nyata kalau kita berjalan-jalan ke kantor Dinas Kehutanan, yang terletak di samping kantor kejaksaan tinggi Sumbar. Kayu olahan ditangkap, berhujan berpanas, berbulan-bulan lamanya ditumpuk, tapi tidak pernah diproses. Siapa si empunya barang tidak jelas. Tidak satu pun kasus pencurian kayu sampai ke pengadilan, meski ada sejumlah penangkapan sporadis. Jika pun diproses, disidang, pelaku utamanya lenyap, masuk pelaku lapis dua. Lalu bebas. Sidang-sidang tersebut tidak membawa muatan rasa keadilan. Makanya tidak heran, Ketua DPRD Sumbar, Arwan Kasri, kepada Republika, menuturkan kemarahannya. "Kita harus perang dengan pencuri kayu, sebab rakyat juga yang menderita akibatnya," kata dia. Kalau ingin tahu betapa menderitanya rakyat akibat hutan dibabat, datanglah ke Talawi, Calau, Tarusan di Pesisir Selatan. Di sana kayu malang-melintang menghantam apa saja yang bisa dihantamnya. Tapi, banjir berlalu, hari panas, lalu kita lupa lagi bahwa hutan makin merana. Pencurian kayu kembali merajalela. |

