Iko ado curito "lamak" manuruik ambo nan bisa kito contoh, khususnyo kapado dunsanak nan punyo usaho (perusahaan). Salamaik mambaco.
Salam,
dn
 
 
PANJUT / PANJI NO. 36 TH IV – 27 DESEMBER 2000
            
            
            Sudhamek A.W.S.
            
 
             Sukses Bisnis Lebih Ditentukan Karakter  
 
            
            Wawancara: Terbentuknya seorang pemimpin merupakan proses
      panjang, yang sejalan dengan perubahan pada diri seseorang. Mengapa
      diperlukan pendekatan spiritual.
            
            Apa sesungguhnya tugas CEO (Chief Executive Officer)? Bagi
      Sudhamek A.W.S. adalah bagaimana memasyarakatkan misi dan visi
      perusahaan sehingga terbangun satu budaya perusahaan. Menurut CEO
      kelompok usaha Garudafood, budaya perusahaan itu harus bersumber pada
      nilai-nilai spiritualitas dan etika. Bahkan, kata dia, kedua hal ini merupakan
      syarat mutlak bagi keberlangsungan suatu organisasi bisnis. Bagaimana
      Sudhamek mengimplementasikan nilai-nilai itu di perusahaannya? Mengapa dia
      banyak melakukan pendekatan-pendekatan spiritual dalam memimpin
      perusahaan? Berikut wawancara Panji dengan Sudhamek, penganut Buddha
      yang mengaku banyak menyerap unsur-unsur spiritual dari berbagai agma.
      Berikut petikannya.
            
            Anda pernah bilang, kepemimpinan adalah produk dari proses
      perkembangan spiritual kehidupan seseorang. Bagaimana itu?
            Itu berangkat dari perjalanan hidup saya sendiri. Juga dari buku-buku
      yang saya baca yang mulai ada sentuhan spiritualnya. Yang sekarang muncul
      bukan IQ lagi tapi EQ. Ada buku menarik yaitu karya Dr. L.M. Chibber, seorang
      purnawirawan letnan jenderal dari India. Dia mengolah kepemimpinan dari
      nilai-nilai spiritualisme. Buku lainnya karya Steven R. Covey, sambungan dari 7
      Habits, yaitu Principles--Centered Leadership. Dari situ saya berkesimpulan,
      pada dasarnya pemimpin itu diciptakan, bukan dilahirkan. Sebab, pada dasarnya
      manusia lahir dalam keadaan tak siap pakai. Untuk menjadi siap pakai dan
      dihidangkan harus melalui suatu proses dulu.
            Bisa dicontohkan?
            Ada studi menarik dari The Stanford Research Institute.Yakni  tentang
      mengapa orang Jepang lebih unggul dari orang Amerika di bidang ekonomi,
      sementara sekolah bisnis terbaik justru ada di Amerika. Ini mengejutkan. Kunci
      sukses dari kepemimpinan itu 88% terletak pada bagaimana kita berhubungan
      baik dengan orang lain, sedangkan 12% lagi pada pengetahuan profesionalnya
      yang terdiri dari self knowledge (pemahaman terhadap segala kelemahan dan
      kekuatan sendiri), knowledge of the job dan ability to deal with the people.
      Pertanyaanya, 88% itu menurut saya berdasar atas karakter, etika, dan
      kepribadian.
            Bagaimana cara membentuk karakter?
            Karakter memang pembawaan sejak lahir. Kalau kepribadian itu dibentuk
      oleh lingkungan. Karena itu, untuk mengubah karakter akan sulit jika hanya
      dengan pendekatan ilmu pengetahuan saja. Ia hanya bisa diubah melalui
      pendekatan lebih tinggi dari sains, yaitu spiritualisme. Samapai kini, sains baru
      bisa mengungkap sekian persen rahasia alam. Sementara, mereka yang sudah
      mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi,  sudah bisa mengetahui rahasia alam
      itu sedemikian utuhnya. Dari situ saya yakin, untuk mengubah karakter memang
      perlu pendekatan spiritual.
            Bagaimana mengimplementasikannya dalam perusahaan?
            Kita terapkan lima nilai. Pertama nilai kemanusiaan, di dalamnya
      termasuk antikekerasan. Orang sering memahaminya secara fisik saja, seperti
      kekerasan fisik, padahal artinya lebih luas. Kalau ini diterjemahkan dalam
      pekerjaan, barangkali bagaimana kita bersaing secara adil. Kalau kita melakukan
      sebaliknya, kita sudah melanggar nilai tersebut. Gandhi menyebutnya sebagai
      ahimsa.  Itu adalah salah satu dari nilai-nilai luhur yang ada di India.  Yang terdiri
      dari lima, yaitu satya darma prema ahimsa santi.
            Ahimsa hanya salah satunya. Contohnya Gandhi. Waktu kecil dia
      pemalu, fisiknya lemah, sekolahnya tak  menonjol. Tapi, dengan kemauan
      kerasnya dia  berhasil mentransformasikan dirinya sampai menjadi pemimpin
      besar. Itu karena dia melakukan pedekatan spiritual. Ajaran Hindu dia jalani
      sedemikian rupa sehingga ia menjadi seorang pemimpin yang penuh
      pengorbanan, bersifat melayani dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
            Empat nilai lainnya apa?
            Kedua, business ethics. Ketiga, unity and harmony. Keempat speed and
      leading change, dan kelima, working smart in a learning culture. Bila diringkas
      menjadi satu, yaitu dynamic and peace. Inilah yang unik. Perusahaan sekarang
      kalau mau tetap kompetitif, menurut Peter Drucker, harus dinamis. Tapi, kami
      punya pandangan bahwa dinamis itu suatu proses menuju ke arah yang lebih
      baik. Suatu pergerakan yang demikian cepat karena lingkungan yang berubah.
      Dalam situasi seperti ini, amat besar kemungkinan anggota organisasi yang
      dinamikanya sedang berkembang luar biasa mengalami ketidakseimbangan di
      dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, kita tekankan dynamic and peace. Maju
      merupakan satu hal, tapi peace juga sesuatu yang sangat penting. Bila tidak,
      akan tidak seimbang.
            Bagaimana Anda memasyarakatkan nilai-nilai itu?
            Itu dijabarkan dalam uraian-uraian lebih konkret. Dan itu merupakan
      sosialisasi itu sendiri. Yang kedua akan dijadikan sebagai suatu kerangka dalam
      setiap kebijaksanaan, pelatihan, dan peraturan perusahaan. Sehingga itu akan
      mewujudkan perilaku anggota organisasi kita. Bukan pada tataran kognitif, tapi
      pada tataran afektif yang akhirnya menjelma pada tataran perilaku.
            Mengapa perusahaan Anda sangat menekankan pada etika?
            Etika itu bermuara pada norma-norma keagamaan. Kalau kita renungkan
      yang menyebabkan ekonomi kita porak poranda, bukan karena mereka tidak
      punya konsep atau model untuk mengembangkan bisnis. Tapi, model-model itu
      tak dipakai, sekadar di bibir saja. Kalau model itu sudah ada, mengapa tidak
      digunakan? Mengapa krisis masih terjadi? Akhirnya, problemnya karena
      bisnisnya kurang kompetitif, struktur keuangannya tidak sehat, karyawannnya
      tidak berkualitas, dan seterusnya. Tapi, bagi saya keadaan itu merupakan
      resultant. Akar persoalannya bagi saya terletak pada moralitas.
            Bagaimana Anda menghadapi anggota organisasi yang
      heterogen?
            Garudafood tantangannya memang cukup berat. Karena dia tumbuh
      dalam waktu yang relatif singkat. Karyawan datang dari berbagai perusahaan
      yang  kebetulan budayanya beraneka ragam, cukup heterogen sehingga ini
      menjadi tantangan sendiri bagaimana menyatukan mereka. Oleh sebab itu,
      makin relevan tugas saya sebagai CEO, untuk terus mencari dari waktu ke
      waktu, memasyarakatkan visi dan misi, bukan hanya sekadar mengulang-ulang
      sesuatu yang sifatnya klise, melainkan terus bisa menjabarkan dan memberikan
      contoh-contoh konkret dari kehidupan sehari-hari mereka di dalam bekerja.
      Sekali lagi, kami yakini spiritualitas menjadi pendorong yang luar biasa untuk
      melakukan perubahan pada diri seseorang.
            Dari mana Anda mengambil nilai-nilai spiritualitas itu?
            Saya seorang Buddhis. Tapi, saya mengambil sumber paling banyak
      dari Bhagawad Gita, ajaran tertua--pertama kali--yang pernah diturunkan Tuhan di
      dunia. Itu pelajaran yang memang sangat tua usianya dan sangat universal. Ini
      menolong saya memahami ajaran agama saya. Saya juga sekolah di sekolah
      Katolik sehingga ajaran-ajaran Katolik mewarnai jalan pikiran saya. Saya juga
      hidup di lingkungan Islam, terutama Islam yang disebarkan oleh Walisongo yang
      ada di Indonesia. Ini sampai tingkat tertentu juga ikut mewarnai kehidupan saya
      sehingga kalau saya ditanya pandangan hidup saya ini dari mana, pada
      dasarnya sumbernya satu: nilai-nilai universal itu sendiri. Dan, sebetulnya ajaran
      agama di mana-mana itu semuanya bernilai universal. Yang tidak universal
      adalah ritualnya.
            Esensi ajaran Buddha itu adalah berbuatlah kebaikan, jauhi
      kejahatan,dan sucikan pikiran. Ini kan sama dengan ajaran Islam, amar ma’ruf
      nahi mungkar. Untuk itu, dicantumkan hal-hal untuk mencapainya ada delapan
      jalan utama. Salah satu yang relevan untuk dunia bisnis adalah bermata
      pencaharian yang benar. Kalau kita sudah menjalankan bisnis, misalnya
      perjudian, itu bertentangan dengan ajaran bermata pencaharian yang benar.
      Ajaran Buddha juga melarang kegiatan usaha yang berhubungan dengan
      penghilangan nyawa. Karena itu, tidak mungkin misalnya  saya masuk bisnis
      pengalengan ikan tuna, atau memproduksi kerupuk udang atau ikan tenggiri.
            Jadi Anda percaya betul bahwa keberlangsungan perusahaan
      sangat bergantung pada nilai-nilai spiritualitas?
            Ya, apalagi pada masa sekarang ini. Intinya, kita harus seimbang
      dengan lingkungan hidup kita dan tak bisa menang sendiri. Contoh, bila kita beli
      bahan baku  hanya dengan menawar harga sampai sedemikian rupa sekehendak
      kita, akhirnya mereka menjadi kapok untuk bergerak di bahan baku yang kita
      butuhkan, sampai suatu saat petani kapok dan tidak menanam kacang lagi.
      Kacang menjadi langka pada saat itu dan saya kehabisan  bahan baku, berarti
      pada saat itu hukum alam atau hukum karma terjadi. Jadi, katakanlah, bila dari
      dulu saya melakukan hal itu, akhirnya mereka akan membalasnya dalam bentuk
      seperti tadi dan malah akhirnya memukul bisnis itu sendiri.
            Paradigma yang Anda terapkan disusun dengan terang sekali.
      Apakah ada hubungannya dengan meditasi yang Anda lakukan?
            Ini  menyangkut  keyakinan kita. Meditasi sebetulnya bagaimana pikiran
      kita bisa menjaga keheningan. Esensinya bagi saya adalah bagaimana
      mengosongkan pikiran kita. Kalau saya ditanya, apakah definsi kebahagiaan,
      pada dasarnya adalah satu keadaan ketika pikiran kita dalam keadaan kosong,
      tidak bergerak, datar, tidak senang, dan tidak susah.
            Dalam situasi sekarang, bagaimana kita harus memulai untuk
      mengadakan perubahan bangsa kita?
            Kita harus memulai dari diri kita sendiri. Kalau kita mau melakukan
      perubahan di negeri kita, para pemimpin kita, dan elite-elite politik kita lebih baik
      mengoreksi diri daripada memaki-maki lawan politiknya. Kalau mereka
      melakukan itu, kita bisa membayangkan dalam pemerintahan kita akan
      bermunculan good leader di mana-mana. Untuk mengubah diri memang berat,
      sebab sejak kecil kita sudah dibiasakan menyalahkan orang lain, menyalahkan
      lingkungan kita.
            Caranya menurut Anda bagaimana?
            Diperlukan  tiga hal. Pertama, kita harus punya pengetahuan tentang
      apa dan mengapa kita harus berubah-ubah. Kedua, keinginan untuk berubah, dan
      ketiga,  tahu cara bagaimana harus berubah. Saya punya teman seorang
      Khonghucu. Menurut Khonghucu, di saat negara lagi kacau kita harus sedikit
      bicara dan banyak bekerja. Kalau negara dalam keadaan damai dan melimpah,
      kita tetap banyak bekerja dan bicara pada proporsinya.
            Anda optimistis akan ada perubahan pada pribadi
      pemimpin-pemimpin kita?
            Saya percaya. Menurut kepercayaan, ini adalah zaman Kaliyuga. Satu
      zaman yang istimewa. Salah satunya orang  akan sangat mudah menjadi orang
      baik dan sangat mudah menjadi jahat.

Kirim email ke