Kang Dede yang baik

Posting saya judul tersebut tersebut di atas mendapat dua tanggapan di
Milis Desentralisasi. Satu bernada afirmasi dan satu lagi bernada
kritik. Di forum rantau Orang Minang yang tulisan tersebut juga saya
poskan, saya memperoleh tanggapan gabungan antara afirmasi dan kritik.
Ketiga tanggapan tersebut saya sukai karena disampaikan dengan cerdas
dan mengarah kepada substansi. Namun tanggapan Kang Dede, dengan hati
berat harus saya katakan melenceng dari substansi�dan�maaf�.kurang
cerdas. Walaupun sebenarnya agak segan karena bisa terperosok ke debat
kusir yang bersifat defensif apologistik, namun untuk meluruskan
beberapa hal perlu saya tanggapi.

Kalau hendak melihat wajah kemiskinan tidak perlu jauh-jauh. Kawasan itu
hanya beberapa kilometer di sebelah selatan kota baru Lippo Cikarang
(contoh kawasan pemukiman manusia Indonesia Tahun 2010 ke atas!). Saya
ke sana tahun 1996 dan sangat terkejut melihat betapa terbelakangnya
daerah itu. Jip yang saya gunakan hampir terbalik karena jeleknya jalan
lingkungan. Beberapa kantor desa hanya bisa dihubungi dengan sepeda
motor. Lalu dapatkah saya mengatakan bahwa kawasan tersebut mewakili
Jawa Barat dan menghujat para cendekiawan asal Jawa Barat, termasuk Kang
Ade, misalnya dengan mengatakan hanya bisa ngomomg gede?

Saya tidak pernah malu dengan kondisi tanah kelahiranku, kalau faktanya
demikian. Malah dalam salah satu postingku di Milis Desentralisasi saya
pernah bertanya ke seorang anggota Milis yang tinggal di Sumbar:  �Apa
sih yang secara sosiologis terjadi pada masyarakat Sumbar belakangan
ini? Dari adanya �partai� yang bisa menyauk suara sampai 94% dalam
Pemilu 1997, peristiwa busung lapar dan adanya bau tidak sedap dalam
pemilihan kepala daerah?�. Pertanyaan itu aku sampaikan, walaupun aku
tahu salah satu salah satu sebabnya ialah rusaknya tatanan masyarakat
Minang, khusunya lembaga Nagari sebagai akibat sistem pemerintahan
sentralistik dan monilitik Orba yang antara lain diarsiteki oleh
Mendiang Jenderal Amir �bulldozer� Machmud---kebetulan asal Jawa
Barat----Suhartois yang sangat berhasil dalam �seragamisasi� berbagai
aktivitas dan institusi di awal-awal pemerintahan orde baru.

Kembali ke pokok persoalan, adalah sama sekali tidak proporsional untuk
menjadikan kawasan sepanjang padang- Pasaman-Lubuk Sikaping, khususnya
Pasaman-Lubuk Sikaping yang merupakan kawasan transmigrasi asal Jawa
sebagai indikator �kemiskinan� Sumbar, apalagi kalau hanya dilihat dari
ada tidaknya �home industri�, karena  �home industri� terkonsentrasi di
Kabupaten Agam khususnya di daerah Ampek Angkek dan sekitarnya. Malah
saya berani mengatakan bahwa �home industri� di Kabupaten Agam adalah
�home industri� yang �advanced�

Aku juga tidak merasa terhina kalau dikatakan Sumbar nomor 2 termiskin
setelah Bengkulu, asal berdasarkan fakta. Tetapi ukuran apa yang Kang
Ade gunakan untuk mengatakan itu? Dari PDRB perkapita? Kalau memang
demikian dengan berat hati harus harus saya katakan bahwa Kang Ade tidak
tahu persis konsep PDRB dan konsep kemiskinan. Namun fakta berbicara,
selama lima Pelita, Sumbar satu-satunya propinsi di luar Jawa yang
mendapat penghargaan �Prakarya Sam Karya Nugraha� (maaf kalau aku salah
mengeja), atau propinsi yang pembangunanannya paling berhasil. Malah
kalau saya tidak salah, Sumbar memperolehnya lebih dahulu dari pada
Jabar. Selain itu, karena Kang Ade pernah ke Sumbar, Kang Ade tentu tahu
Sumatera Barat yang wilayahnya relatif kecil itu sudah lama punya 6 kota
berstatus Dati II. Bahkan kota kelahiranku Padangpanjang yang pada waktu
ini hanya berpenduduk kurang dari 50 ribu itu, jauh lebih dahulu
memperoleh status Kotamadya dari pada Denpasar di Bali. Apakah ini
merupakan indikator sebuah provinsi yang miskin?

Tentang masalah orang Minang yang suka merantau, masalahnya tidak
sederhana yang tidak mungkin saya kupas semua di sini. Namun singkat
kata, orang Minang tidak punya filsafat �mangan ora mangan kumpul�, dan
dalam melakukan migrasi, orang Minang tidak pernah menggunakan dana
Pemerintah.

Demikian penjelasanku, dan perlu aku jelaskan bahwa janga saya dianggap
tidak suka Jawa Barat karena daerah kelahiranku dikritik Kang Ade yang
kebetulan berasal dari Jawa Barat. Selain dua puluh tahun terakhir ini
saya dan keluarga tinggal dengan aman dan damai di Depok, isteriku yang
sudah lebih dari 30 tahun mendampingiku adalah seorang Perempuan Sunda
yang kebetulan sangat suka Sate Padang (bukan arti kiasan), mahir
memasak dan berbahasa Minang. Mudah-mudahan Kang Ade sempat mampir ke
gubuk kami di Depok dan mencicipi randang pusako masakan isteriku.

Demikian penjelasanku dan mohon maaf jika ada ada kata-kataku yang tidak
berkenan yang harus saya katakan untuk meluruskan persoalan. Dan terus
terang saya ingin diskusi ini berhenti di sini.

Wassalam, Darwin Bahar

--- In [EMAIL PROTECTED], "Dede ." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
- betul pak, > saya orang jawa barat lahir di bogor, gede juga di
sekitar situ situ saja.... saya pernah bertugas di sumbar nyaris 2 th,
baru balik awal 2000 ini, semua pelosok pernah saya kunjungi.., kesan
saya... kalau sumbar ingin maju.. sebaiknya segala pemikiran, bantuan
dan teori menegenai bagaimana membuat sumbar tidak tertinggal oleh
propinsi lain (nomor 2 termiskin setelah bengkulu??)adalah dengan tidak
hanya mmebicarakannya dari balik hotel mewah, terlebih hanya di jakarta
saja..(sekalinya di sumbar.. eh di novotel juga bagusnya.., tengoklah
kesana...., lebih bagus lagi bikin para cendekiawan dan pemikir supaya
betah di tinggal di sana, jangan hanya cari uang di luar sumbar dan
cukup kirim wesel tiap bulan saja. atau.., para konglomerat asal sumbar
perlu juga dimotivasi buat membuka lapangan kerja disana, jangan cuma
tiap tahun pulang rame2 saja sambil pamer keberhasilan merantau. sedih
rasanya sepanjang padang- pasaman-lubuk sikaping, yang namanya home
industri bisa dibilang nol! etos kerja jangan ditanya dah.. saya orang
jawa barat, gede di jabar juga.., mau kok bertugas di pedalaman sumbar
yang paling minus dengan biaya hidup pake atm simpanan..., lha kok orang
asli sananya boro boro mau ke daerah > terpencil??, alasannya??, ya tahu
sendiri kan? maaf , terlalu keras barangkali.., tapi itulah sumbar yang
saya lihat dalam 2 tahun terakhir semoga sumbar lebih jaya..., atau
tertinggal sama sekali. (potensi wisatanya dari tahun 82 s.d sekarang
kok mandek ya, lebih parah saya kira, padahal itu tambang emas lho!)
> salam
> DEDE



RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

Atau kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke