Kang Dede yang baik
Walaupun saya minta diskusi diakhiri, namun setelah membaca kembali
jawaban saya atas tanggapan Kang Dede di bawah ini atas posting
saya---sebagai seorang Muslim---saya ingat pesan Rasulullah SAW, akan
bahaya debat, bahwa seseorang bisa membenarkan yang salah atau
menyalahkan yang benar. Lalu saya menyadari, bahwa sekalipun Tanggapan
Kang Dede memang bukan kepada substansi posting saya dan mungkin Kang
Dede tidak tepat menggunakan indikator kemiskinan, tetapi saya menafikan
niat baik Kang Dede dan kebenaran pengalaman Kang Dede di lapangan, yang
tentunya lebih �up to date� dibandingkan dengan saya. Saya terakhir ke
Sumatera Barat tahun 1993 dan 1995. Yang dalam tahun 1993, waktu saya
bertugas ke Duri / Pekanbaru dan dengan menggunakan jalan darat ke
Padangpanjang, dan yang Tahun 1995 memang sengaja ke Padangpanjang dari
Jakarta untuk urusan keluarga dan tidak banyak melihat kondisi
setempat, kecuali.di sepanjang jalan raya Bandara
Tabing---Padangpanjang--- Bukittinggi p/p.
Karena itu, dari lubuk hati saya yang paling dalam saya mohon maaf atas
jawaban saya yang saya nilai sangat berlebihan, dan lebih suka kalau
Kang Dede berkenan untuk menganggap jawaban saya tersebut sebagai tidak
ada. Malah saya seharusnya berterima kasih atas Tanggapan Kang Dede
tersebut, yang walaupun �pahit� tetapi mengandung obat.
Akhirulkalam, saya ingin Kang Dede tetap menerima saya sebagai seorang
sahabat.
Wassalam, Darwin Bahar
--- In [EMAIL PROTECTED], "Dede ." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
- betul pak, > saya orang jawa barat lahir di bogor, gede juga di
sekitar situ situ saja.... saya pernah bertugas di sumbar nyaris 2 th,
baru balik awal 2000 ini, semua pelosok pernah saya kunjungi.., kesan
saya... kalau sumbar ingin maju.. sebaiknya segala pemikiran, bantuan
dan teori menegenai bagaimana membuat sumbar tidak tertinggal oleh
propinsi lain (nomor 2 termiskin setelah bengkulu??)adalah dengan tidak
hanya mmebicarakannya dari balik hotel mewah, terlebih hanya di jakarta
saja..(sekalinya di sumbar.. eh di novotel juga bagusnya.., tengoklah
kesana...., lebih bagus lagi bikin para cendekiawan dan pemikir supaya
betah di tinggal di sana, jangan hanya cari uang di luar sumbar dan
cukup kirim wesel tiap bulan saja. atau.., para konglomerat asal sumbar
perlu juga dimotivasi buat membuka lapangan kerja disana, jangan cuma
tiap tahun pulang rame2 saja sambil pamer keberhasilan merantau. sedih
rasanya sepanjang padang- pasaman-lubuk sikaping, yang namanya home
industri bisa dibilang nol! etos kerja jangan ditanya dah.. saya orang
jawa barat, gede di jabar juga.., mau kok bertugas di pedalaman sumbar
yang paling minus dengan biaya hidup pake atm simpanan..., lha kok orang
asli sananya boro boro mau ke daerah > terpencil??, alasannya??, ya tahu
sendiri kan? maaf , terlalu keras barangkali.., tapi itulah sumbar yang
saya lihat dalam 2 tahun terakhir semoga sumbar lebih jaya..., atau
tertinggal sama sekali. (potensi wisatanya dari tahun 82 s.d sekarang
kok mandek ya, lebih parah saya kira, padahal itu tambang emas lho!)
> salam
> DEDE
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
Atau kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================