____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1


 


 


Adakah yg bisa mengkonfirmasi kebenaran berita ini?

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Dwi Kurniawan

---------- Forwarded message ----------
[Homepage LPPOM-MUI] http://www.halal-mui.or.id
KEHALALAN GUDEG JOGYA
Dengan ringan si  penjual menjawab bahwa sudah biasa bagi penjual/bakul
Gudeg Yogya bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg, ayam tersebut
tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya. Sedang
darah yang keluar ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk
dicampur dengan gudek itu.

Daerah Istimewa Yogyakarta, selain terkenal dengan julukan kota pelajar,
juga menyandang  berbagai julukan lain seperti kota seni dan budaya,
kota revolusi, kota sepeda, kota batik, juga sebagai kotak gudeg serta
julukan lain yang merupakan cerminan dari hal-hal yang menonjol dari
daerah tersebut. Dan itu tidak hanya populer di dalam negeri, tapi juga
di manca negara.

Akan halnya gudeg, lauk pauk ini merupakan ciri khas kota tersebut. Bagi
masyarakat Yogya sendiri, gudeg merupakan lauk pauk  sehari-hari yang
sulit  ditinggalkan bersama nasi dan bubur. Sebenarnya dilihat dari
bahan-bahan  pembuatnya, gudeg  nampaknya halal-halal saja. Bahan
pokoknya adalah nangka  muda (orang Yogya  menyebutnya ghori) yang
direbus hingga lunak, lalu diberi  santan dan bumbu dapur tertentu
ditambah daun melinjo.

Tetapi, pengalaman saya membuktikan bahwa gudeg bisa dikategorikan jenis
makanan syubhat, bahkan haram. Saya berkenalan dengan lauk pauk yang
rasanya manis ini, antara tahun 1981-1987 ketika saya berkuliah di salah
satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut.  Waktu itu saya kost
hanya dengan menyewa kamar dan makan di luar. Selama itu  hampir tiap
pagi saya sarapan nasi gudeg. Selain manis, juga gurih, dan tentu saja 
murah. Bahkan kalau pulang kampung, saya dan teman-teman kadang membawa
oleh-oleh gudeg yang sudah dibuat tahan lama.

Selama beberapa tahun, saya menikmati gudeg tanpa ada rasa curiga atau
berprasangka buruk tentang kehalalannya. Namun, pada suatu hari, ketika
sedang  membeli di warung langganan  saya, saya melihat di tempayan
(tempat gudeg  diolah), ada kepala dan leher seekor ayam yang  masih
utuh (tidak ada bekas  sembelihan).  Lalu saya tanya kepada si penjual
gudeg, apakah ayamnya tidak  disembelih?

Dengan ringan si penjual menjawab bahwa sudah bisa bagi penjual/bakul
gudeg  bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg, ayam tersebut tidak
disembelih,  tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya. Sedang darah
yang keluar  ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk
dicampur  dengan gudeg  itu. Dan justru darah inilah yang memberi rasa
gurih dan meberi warna  kecoklat-coklatan. Masya Allah.

Saya benar-benar terkejut, dan gudeg yang saya beli pagi itupun segera
saya tinggalkan. Saya berusaha mencari informasi di tempat-tempat lain
tentang bahan- bahan dan cara pembuatannya. Ternyata hampir semua
jawaban sama, yaitu: ayamnya tidak disembelih, tapi ditusuk, darah ayam
ditampung, lalu dimasukkan ke dalam gudegnya.

Pertanyaan kita, apakah semua penjual/pembuat gudeg melakukan hal yang
serupa?
Wallaahua'lam. Dalam masalah ini sebagai konsumen Muslim, yang 
diperlukan tentu saja sikap jujur si penjual gudeg. Apakah ayamnya telah
disembelih secara Islami dan otomatis darahnya tidak dicampurkan.  Kita
memang perlu bersikap hati-hati. Jangan karena gudeg yang sudah
merakyat,  lalu kita seenaknya saja mengikuti selera orang kebanyakan,
padahal Al-Qur'an jelas-jelas melarangnya:
Allah mengharamkan atas kamu (makan) bangkai, darah,daging babi, dan apa
yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS Al-An'am: 145)
Kiriman: Rusdi Suripno Siha, Jl. Wijaya Kusuma 95-A , Situbondo


==
********************************************

dan bekerjalah kamu, maka Allah dan RosulNya serta orang-orang mukmin akan melihat 
pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada (ALlah) yang maha mengetahui yang ghoib 
dan yang nyata

********************************************

_____________________________________________________________
in-team http://inteam.ikhlas.com Kasih Kekasih









Kirim email ke