ini didapat dari majalah mingguan GAMMA
semoga bermanfaat

rgds

jon




Nomor: 42-2 - 12-12-2000

Awas, Bahaya Jelantah
KFC dituduh menjual minyak goreng bekasnya kepada pengusaha kerupuk. Diduga,
minyak jelantah itu mengandung gugus benzena, penyebab kanker.
SUDAH lama warga kota Pekanbaru dihinggapi teka-teki: ke mana larinya minyak
bekas perusahaan ayam goreng (fried chicken). Maklum, dari 10 perusahaan
yang ada di sana, tak satu pun yang memiliki tempat pembuangan minyak
jelantah. Pekan lalu, teka-teki itu mulai tersibak.

Adalah Kepala Dinas Kesehatan kota Pekanbaru, dokter Ekmal Rusdy, yang
gundah soal ini. Karena itu, ia menelisik dan terjun ke lapangan. Ternyata,
minyak jelantah itu dijual kepada pengusaha kerupuk dan pisang goreng. Ekmal
amat peduli, karena praktik ini dapat mengancam kesehatan masyarakat.

Setelah diteliti, minyak jelantah itu mengandung gugus benzena yang dapat
mengeluarkan senyawa dioksin ketika digunakan untuk menggoreng dengan
temperatur di bawah 800 derajat celcius. "Ketika senyawa dioksin ini masuk
ke dalam tubuh seseorang, maka sistem reproduksi sel tubuh bakal terganggu.
Ujung-ujungnya, dapat menimbulkan penyakit kanker," kata Ekmal.

Memang, tidak semua perusahaan melego kembali minyak jelantahnya. Dari empat
perusahaan ayam goreng di Pekanbaru, yaitu Kentucky Fried Chicken (KFC),
California Fried Chicken, Texas Chicken, dan Holland Chicken, baru KFC yang
terbukti menjual minyak jelantah ke pengusaha kerupuk dan goreng pisang.
"Saya tahu oknum yang menjualnya dan ke mana mereka menjualnya," kata Ekmal
kepada GAMMA.

Target pemasaran minyak jelantah ini adalah para pengusaha kerupuk cabe,
kerupuk Palembang, kerupuk nasi, dan pisang goreng yang beroperasi di kota
Pekanbaru. Mereka yang berada di Jalan Melur, Jalan Pinang, Jalan Dagang,
dan Desa Kulim membenarkan keterangan Ekmal. Mereka mendapat pasokan minyak
jelantah dari perusahaan ayam goreng dengan harga Rp 1.500 per kg, jauh
lebih murah dari minyak goreng asli yang lazim dibanderol Rp 3.200 per kg.
"Kalau pakai minyak asli, untungnya sangat tipis," kata seorang pengusaha
kerupuk Palembang di Jalan Dagang.

Untuk menghentikan peredaran minyak jelantah itu, Ekmal melayangkan surat
kepada KFC Pekanbaru, dan ditembuskan ke DPRD setempat. Merujuk surat itu,
DPRD lantas memanggil KFC. Dalam dengar pendapat dengan DPRD Pekanbaru,
akhir November lalu, Quality Assurance Manager KFC, Elvi Rhinilda, membantah
menjual minyak bekasnya kepada pengusaha kerupuk dan pisang goreng di
Pekanbaru. Minyak jelantah itu, kata Evi, dijual ke Medan. Tapi, ia tak tahu
digunakan untuk apa.

Bantahan serupa meluncur dari Yusuf Wenno, Regional Operation Manager PT
Fastfood Indonesia Tbk. Dalam jumpa pers di Pekanbaru, Kamis malam pekan
lalu, Yusuf menegaskan bila seluruh minyak jelantah dikirim ke Medan.
Pengiriman dilakukan sekali 3 bulan dengan jumlah sekitar 64 kaleng (isi
kaleng 18 kg). Di Medan, kata Yusuf, minyak jelantah itu dijadikan makanan
burung. Salah satu mereknya Gold King. "Jadi, tidak benar kalau dijadikan
pupuk, atau dijual kepada pengusaha kerupuk di Pekanbaru," ujar petinggi
masakan siap saji yang beroperasi di Indonesia sejak 23 tahun lalu itu.

Toh, Ekmal bergeming. Ia tetap yakin KFC telah melakukan perbuatan melanggar
aturan Depkes: menjual minyak goreng bekas pakai. Karena itu, ia berharap
agar Departemen Perindustrian dan Perdagangan segera mengambil tindakan.
Sebagai langkah awal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang baru saja
dilantik pada Sabtu pekan lalu itu menyerukan kepada masyarakat agar tidak
menggunakan atau membeli minyak jelantah dari perusahaan itu.

Langkah Ekmal mendapat dukungan kuat dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) Riau. Ketua Dewan Direktur YLKI Riau, Herry Kahurifan, menilai KFC
telah menipu masyarakat. Untuk itu, ia mengimbau pihak kepolisian dan
instansi terkait segera turun menyelidiki masalah ini. "Kalau terbukti,
mereka bisa diseret ke pengadilan," kata Andreas. Kepada konsumen, Andreas
meminta untuk memboikot semua produk yang dihasilkan KFC Pekanbaru, sampai
masalah ini tuntas.


-Mohammad Rochiq dan Fendri Jaswir (Pekanbaru)






 [ Home | Pencarian | Petunjuk Situs ]
----------------------------------------------------------------------------
----
GAMMA Digital News: Bersih, Berani, Mandiri - Interaktif!
© Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang, 1999. - Webmaster info





RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke