Assalamu'alaikum ww Untuak dunsanak di balerong ko Iyo candoko dunia pendidikan kito kiniko ??????? Ambo minta komentar dan strategi untuak maadokinyo Tarimo kasih sabalunnyo wassalam Henri ----- Original Message ----- From: "Novi Nursantini" <[EMAIL PROTECTED]> To: <Undisclosed-Recipient:;;> Sent: Tuesday, March 13, 2001 9:36 AM Subject: Sebuah renungan > Untuk para orang tua dan calon orangtua.... > kisah di bawah ini akan mengingatkan kita bagaimana keadaan 'sistem > pendidikan' yang kita percayakan untuk mendidik anak kita. > Mungkin sebagian orang tua yang sudah mengetahui keadaan sistem pendidikan > di negara kita ini, akan proaktif melakukan usaha agar anak kita tidak > ketinggalan jaman dan siap menghadapi 'jamannya kelak', walaupun itu berarti > ada pengeluaran extra. > Lalu bagaimana dengan yang tidak, baik karena tidak tahu maupun karena tidak > ada dana untuk itu, atau bahkan tidak bersekolah sama sekali........ > Lalu bagaimana nasib Indonesia kelak.................. > > > > > Kejutan > > Kalaulah ada dunia yang selalu membuat saya terkejut-kejut, itulah dunia > sekolah anak saya. Suatu hari, anak saya yang masih kelas IV SD pulang > sekolah dengan merengut. Turun dari mobil jemputan sekolah, tasnya yang > berat dan penuh buku ia banting. > > "Besok Angga nggak mau sekolah, malas..!" sungutnya. Istri saya, seperti > biasa, mengulurkan tangan untuk diciumnya. Tapi anak saya melengos. Ia > segera masuk kamarnya dengan membanting pintu. Saya mengedipkan mata ke > istri, memberi isyarat agar anak sulung itu jangan diganggu dulu. > Setengah jam kemudian, dengan perlahan saya masuk ke kamar anak saya. > Wajahnya tidak lagi cemberut. Ia sedang asyik di depan komputer. Saya > memang tak pernah melarangnya memakai mesin modern itu. Ia tak peduli, asyik > dengan game 'Rogue Spear', jenis permainan strategi yang populer di > kalangan pemakai PC. > > "Nah, sekarang bisa cerita, ada apa di sekolah, Nak," kata saya sambil > membelai rambutnya. Ia masih diam. Ketika jagoannya di tim Rogue Spear tewas > tertembak semua, baru ia berpaling. > > "Abisnya, Angga sebel.." kata dia. > "Lho, kenapa...?" > "Tadi ada ulangan, jawaban Angga disalahin, padahal betul," katanya. > "Coba deh, Bapak lihat, seperti apa soalnya." > Ia lalu mengambil buku tulisnya. "Nih, Bapak lihat, ini ada soal, > pertanyaannya berbunyi, orang Islam sembahyang di mana." > "Lalu, Angga jawab apa..?" > "Angga jawab, di alun-alun, tapi disalahin...!" > "Lho, kata Pak Guru apa..?" > "Di masjid. Tapi kan orang Islam juga bisa sembahyang di alun-alun. > Buktinya shalat Id kita sembahyang di lapangan dekat rumah Eyang. > Sebetulnya jawaban Angga kan nggak salah, Pak?" kata dia. > Saya segera menjelaskan, Pak Guru tidak salah, karena memang di buku > pelajaran itu disebut tempat sembahyang orang Islam di masjid, orang Hindu > di pura, orang Kristen di gereja, dan seterusnya. Jawaban dia pun, kata > saya, tidak salah, karena ya itu tadi, persis seperti alasan yang ia > katakan, orang Islam juga bisa sholat Id di lapangan. > "Tapi jawaban Angga tetap disalahin, nilai Angga dikurangi," katanya > memprotes. > Sungguh, saya tak bisa menjawab protes anak saya ini. Di rumah, Angga dan > adiknya kami biasakan mencari sebanyak-banyaknya kemungkinan jawaban dari > suatu masalah yang ia lihat. Tapi kali ini ia 'dipaksa' harus menjawab satu > jawaban standar yang tak boleh dibantah: Di masjid. > Itu hanya kejutan ke sekian dari dunia sekolah anak saya. Setahun lalu, saya > terbengong-bengong melihat materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) > untuk kelas III yang di buku wajibnya tertulis 'Berdasarkan Kurikulum 1994'. > Di salah satu bab, ada materi tentang struktur perangkat pemerintahan > tingkat II. Dijelaskan bahwa di kabupaten, kepala wilayahnya adalah Bupati > atau Walikota. Di bawahnya, ada Sekwilda, beberapa orang asisten Sekwilda, > Kabag Kesra, Ekonomi, Pembangunan, Kepegawaian, Hukum, juga ada yang namanya > Inspektorat Wilayah. Lalu ada yang namanya Muspida, Danramil, Kapolres, dan > seterusnya. > "Wah.., ini bahan kuliah anak Fakultas Administrasi Negara atau apa sih," > kata istri saya melihat isi buku itu. "Ssst...jangan diomongin di depan > Angga, sudahlah, turuti kurikulum itu," hanya itu jawab saya. > Bayangkan, anak kelas III SD menelan pelajaran seperti itu. Hari pertama > masuk materi bab itu, saya sudah dibuat bingung untuk menjawab pertanyaan > sederhana anak saya: "Pak, struktur itu artinya apa, sih..?" > Keluarga saya masih mendingan. Seorang teman yang anaknya bersekolah di SD > lain dibuat jengkel setengah mati. "Bayangkan, masak ada ulangan anak saya, > isinya pertanyaan siapa nama Bupati Bogor dan siapa Dandimnya!" > Bahkan ketika baru masuk SD, saya sudah dibuat bingung melihat betapa > banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa tiap hari. Tiap hari ia harus > membawa sedikitnya tiga buku paket wajib (satu buku tebalnya bisa 100 > halaman), enam buku tulis, buku gambar, belum termasuk bahan lain bila harus > mengerjakan semacam prakarya. > Karenanya jangan heran, anak-anak SD sekarang setiap sekolah ibarat > berangkat camping: Tas penuh sesak dengan buku, itu masih ditambah bekal > makanan dan air karena ia di sekolah hingga pukul 15.00. Kadang bila melihat > rombongan anak-anak SD pulang sekolah menyeret-nyeret tas yang sama besar > dengan badannya, saya seperti melihat serombongan sales door-to-door yang > membawa-bawa tumpukan barang dagangannya ke rumah-rumah. > Melihat kejutan-kejutan di sekolah anak saya itu, saya teringat Paulo > Freire, tokoh pendidikan asal Brazil yang gencar berteriak tentang betapa > menindasnya lembaga pendidikan formal. Ia berteriak lantang betapa pelajaran > di sekolah telah membuat anak-anak tertindas karena isinya pemaksaan > nilai-nilai kultural kelas penguasa. > Maka ketimbang mengajarkan ilmu-ilmu baku ala kurikulim, Freire memilih > mengajarkan materi yang dekat dengan dunia anak didik: Tentang gunung, > sungai, hujan, pendeknya, pendidikan humanis yang bisa dimengerti karena > memang bagian dari dunia anak didik (Pedagogy of the Oppressed, > NewYork:1970). > > Saya bukan pengagum Freire yang kadang terlalu kental warna ideologis > perlawanannya. Saya lebih simpati melihat cerita tentang 'Toto Chan, Gadis > Kecil di Tepi Jendela' tulisan Tetsuko Kurohayanagi. Inilah kisah nyata > tentang seorang guru, Kobayashi, yang mengajarkan bahwa pendidikan harus > membuat anak-anak gembira dan bebas. Biarlah anak bermain, karena pendidikan > pada dasarnya adalah bermain. Kobayashi pun tak segan mengajak anak didiknya > duduk-duduk di tepi hutan hanya untuk mendengarkan kicauan burung dan > gemericik air di sungai kecil. > Tapi baik Freire mau pun kisah Toto Chan itu mengajarkan satu hal: > Anak-anak bukan karung yang bisa dijejali segala macam pelajaran, apalagi > demi bagi-bagi rezeki tender mencetak buku paket kurikulum. > Sayangnya, anak saya bukan murid Kobayashi. Saya dan istri harus selalu siap > untuk menerima kejutan-kejutan baru. > > > RantauNet http://www.rantaunet.com ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

