Apakah Adat Minangkabau Masih Aplikabel ? (2)

( sambuangan )

Pepatah Minang mengajarkan, dikandang kerbau kita harus menguak dikandang
kambing mengembek, namun kita tak perlu lebur menjadi kerbau maupun jadi
kambing. Kita hanya perlu memahami dan mengamalkan tata cara dan tata krama yang
berlaku ditempat baru itu. Namun kita tetap memelihara jati diri kita sendiri
sebagai 
orang Minang. Ditengah kelompok etnis yang biasa meminum tuak misalnya, kita
sebagai orang Minang tetap saja harus datang ketempat pesta. Tapi kalau ditawari
minum tuak, dengan segala hormat kita tolak tawaran minum haram itu dengan
mengatakan misalnya, " maaf saya tidak biasa minum tuak atau Sorry, I do not
drink
any alcohol, just water please". Dengan cara begitu, kita akan tetap dapat
bergaul dengan lingkungan yang berbudaya berbeda dengan kita.

Selanjutnya adat Minang mengajarakan sifat "rendah hati" bagi perantau Minang.
Pepatah mengajarkan " kok manyauak di hilie-hilie, kok mangecek dibawah bawah,
kok duduak di nan randah".
Apa artinya pepatah ini. Apakah dengan menyauk dihile hilie atau mangecek
dibawah bawah, orang Minang atau perantau harus dididik rendah diri  atau
berjiwa budak. Sama sekali tidak. Pepatah ini mengajarkan supaya kita harus "
tahu diri, dan tahu menempatkan diri ", sebagai pendatang didalam lingkungan
budaya lain.

Sebagai minoritas yang hidup dalam lingkungan mayoritas yang menampung kita
sebagai tamu dalam wilayah mereka. Pantaskah kita bersikap sombong dan angkuh,
dengan menyauk di hulu-hulu, atau dengan berkata sombong dan angkuh dengan
menonjolkan kelebihan kita dinegeri orang. Tentunya tidak pantas bukan ?
Karena itu adat Minang mengajarkan kepada setiap perantau Minang, tahu diri dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pepatah mengatakan " Dimano langik
dijunjuang, disinan bumi dipijak, adat disitu nan dipakai"
Jika semua perantau baik Minang, maupun Non Minang mau bersikap sesuai dengan
ajaran adat yang seperti ini, maka kami yakin tragedi di Aceh, di Sampit, di
Pontianak, di Ambon, di Irian agaknya akan sangat berkurang. Sebagai bangsa kita
memang multi etnis dan multi agama, aneka ragam budaya. Namun kita tidak boleh
lupa, kita adalah SATU BANGSA. Bangsa Indonesia. Adat Minang mengajarkan 
" Tak ado kusuik nan tidak akan salasai, tak ado karuah nan tidak akan jernih".
Jalan keluar menurut adat Minang hanya sederhana " Baiyo-iyo jo nan ketek,
batido tido jo nan tuo. Selesaikan segala urusan atas dasar " awak samo awak",
malu kito bacakak badunsanak. Prinsip " badunsanak" ini harus dikembangkan di
seantero Nusantara tecinta ini.

Wass
ttd 
Amir MS, 27 Maret 2001
Cidodol. JKT.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke