Assalamu'alaikum WW

Mungkin caro iko bisa dipakai di Danau-danau nan lain , nan lah ditutuik dek 
enceng gondok alias kalayau...

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0103/29/daerah/meng19.htm

Mengendalikan Eceng Gondok Danau Kerinci


Kompas/nasrul thahar

ECENG gondok (Eichornia crassipes) yang menutupi Danau Kerinci, sekitar 400 
kilometer sebelah barat Kota Jambi pada tahun 1994 sudah sampai pada tingkat 
yang sangat mencemaskan, menutupi 60-70 persen dari permukaan danau. Saat 
itu, penangkapan ikan di danau tidak dapat mengoperasikan jaring karena 
eceng gondok yang mengapung cenderung merusak jaring. Sejak tahun 1970-an 
telah banyak cara yang dilakukan dalam upaya pengendalian pertumbuhan eceng 
gondok. Misalnya, mengangkat dan membuang eceng gondok dari danau ke 
daratan, menyemprotkan larutan herbaso dan menjadikan eceng gondok sebagai 
bahan baku anyaman dan bio gas. Upaya di atas belum memberikan hasil yang 
memuaskan, di samping biaya yang dibutuhkan cukup besar dan memerlukan waktu 
lama.
Upaya pengendalian eceng gondok secara biologi dimulai tahun 1995. Pemda 
Kabupaten Kerinci bekerja sama dengan Dinas Perikanan Provinsi Jambi, 
Puslitbang Limologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Fakultas 
Perikanan IPB mulai tahun 1995 melakukan program manipulasi biologi atau 
pengendalian dengan biologi menggunakan ikan grass carp/koan 
(Clenophoryingodon idella).


Kompas/nasrul thahar

Caranya dengan restocking atau melepaskan sekitar 48.500 benih ikan grass 
carp/koan ukuran 5 cm-8 cm ke beberapa daerah pinggiran danau selama tiga 
tahun berturut-turut. Benih yang di-restocking berasal dari hasil pemijahan 
hatchery Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) di Kerinci. Ikan grass carp memakan 
akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, 
daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian 
dimakan ikan. Saat ini berat ikan grass carp/koan yang ditangkap nelayan 
danau mencapai 10 kilogram.

Kepada Dinas Perikanan Provinsi Jambi, Herman Suherman kepada Kompas 
mengatakan, hasil pengamatan tahun 1998 menunjukkan populasi eceng gondok di 
Danau Kerinci berkurang secara nyata, tidak ada lagi tumpukan sebagaimana 
terjadi dan terlihat pada tahun 1995. Di beberapa bagian pinggir danau 
terlihat sisa eceng gondok berwarna kuning tua dan merah tua yang 
menunjukkan gulma itu sudah mati.

Sejak tahun 1998, permukaan danau bersih dan bebas dari eceng gondok 
sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat nelayan untuk budi daya ikan dalam 
keramba, jaring apung dan pengembangan pariwisata. Penangkapan ikan kembali 
marak sebagai usaha nelayan danau yang selama ini menjadi mata pencarian 
masyarakat yang berdomisili di sekeliling danau. Saat ini ada 76 keramba 
jaring apung di Danau Kerinci. Ikan yang dibudidayakan nila merah, nila 
gitf, dan uji coba ikan semah.

Danau Kerinci memiliki potensi keramba/jaring apung 50 hektar (20.000 unit), 
namun hingga kini pemanfaatannya baru sekitar 1,2 persen. Di samping untuk 
budi daya perikanan, danau yang bersih dari eceng gondok sangat menarik 
sebagai obyek wisata memancing dan olahraga air (dayung). Sejak dua tahun 
lalu di Danau Kerinci dilakukan Pekan Budaya dan Wisata Danau Kerinci.


***
TAHUN 1981, Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) Prof 
Emil Salim, Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Erna Witular (kini Menteri 
Permukiman dan Prasarana Wilayah) dan rombongan berkunjung ke Kabupaten 
Kerinci melihat kegiatan pembasmian eceng gondok yang menutup hampir 50 
persen permukaan Danau Kerinci. Percontohan pembasmian/pengendalian eceng 
gondok dilakukan di Desa Semerap di pinggir Danau Kerinci, yaitu pembuatan 
barang kerajinan seperti tas, keranjang, dan sebagainya dengan bahan baku 
eceng gondok. Pemanfaatan eceng gondok untuk menghasilkan bio gas.

Ketika memberikan sambutan di depan alim ulama, pemimpin informal, pemuda, 
dan masyarakat Kerinci di lapangan pusat Kota Sungai Penuh, Emil Salim 
mengajak, masyarakat Kerinci menghijaukan bukit gundul yang bertebaran di 
Kerinci.

"Jika terlambat akan menjadi bom waktu bagi masyarakat Kerinci. Dari mimbar 
ini-sambil menunjuk bukit gundul di sekeliling Sungai Penuh-saya mengajak 
tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan pemuda bergotong royong, bekerja 
keras menghijaukan bukit gundul itu," ujar Emil Salim dengan gayanya yang 
khas.

Setelah 19 tahun, Prof Emil Salim boleh bangga, upayanya untuk mengendalikan 
eceng gondok Danau Kerinci telah berhasil. Danau Kerinci kini menjadi 
sebongkah mutiara indah di ketinggian jajaran pegunungan Bukit Barisan. 
Namun, pada sisi lain, ekonom yang hobi memetik gitar ini akan sedih jika 
ajakan menghijaukan lahan kritis dan bukit gundul di Kerinci tidak mendapat 
sambutan. Lahan kritis dan hutan gundul di Kerinci yang tahun 1980 sekitar 
35.000 hektar, kini mencapai sekitar 100.000 hektar lebih.

Bom waktu, perumpamaan yang diberikan Prof Emil Salim terhadap lahan kritis 
dan hutan gundul di Kerinci pada tahun 1981, setelah hampir 20 tahun 
tepatnya akhir November 2000 meledak. Selama satu minggu, sepuluh kecamatan 
di Kabupaten Kerinci diterjang banjir besar, sejumlah jembatan, 
gorong-gorong dan tanggul hanyut serta bobol. Hubungan Kerinci dengan Sumbar 
putus, puluhan ribu penduduk mengungsi dan hampir 6.000 hektar tanaman padi 
puso dengan kerugian sekitar Rp 65 milyar.

Sementara Erna Witular merasa terkejut ketika diberi tahu wartawan bahwa di 
Kabupaten Kerinci terdapat 101.000 hektar lahan kritis dan hutan gundul 
ketika singgah di Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Jambi, beberapa waktu 
lalu. Lahan kritis itu 72.000 hektar di antaranya berada di luar kawasan 
Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan 29.000 hektar di dalam TNKS. 
"Bukankan lahan kritis itu sudah jadi kebun kulit kayu manis (casiavera)," 
katanya dengan nada bertanya.


***
LUAS danau Kerinci 4.200 hektar dengan kedalaman 110 meter. Danau yang 
berada pada ketinggian 783 meter dari permukaan laut itu selama 35 tahun 
merisaukan penduduk karena eceng gondok yang menutup permukaan danau 
berkembang dengan cepat. Nyaris tidak ada ruang yang tersisa dari eceng 
gondok.

Semakin bertambahnya eceng gondok di Danau Kerinci menyebabkan produksi 
perikanan di danau itu menurun dari 780 ton pada tahun 1960 menjadi 280 ton 
tahun 1975. Pada priode yang sama, komposisi jenis ikan mengalami perubahan. 
Jenis ikan terkenal, yaitu ikan semah (Tor douronensis) yang umum terdapat 
di danau ini menurun drastis. Jenis ikan Danau Kerinci lainnya adalah, 
kulari, barau, medik, limbat (lele), bujuk, dan aro.

Sekitar 20 sungai kecil yang berada di kabupaten itu, seperti Sungai Batang 
Merao, Batang Bungkal, dan sebagainya bermuara ke Danau Kerinci. Air sungai 
mengalir dari kawasan peladangan kulit kayu manis (casiavera) di perbukitan, 
areal penyangga dan TNKS membawa humus yang subur. Eutrofikasi atau 
kesuburan yang berlebihan dari dalam air adalah faktor penting yang 
mempengaruhi pertumbuhan eceng gondok.

Kemudian dari Danau Kerinci, air mengalir melalui Sungai Batang Merangin dan 
banjir kanal ke Kabupaten Merangin, seterusnya Kabupaten Sarolangun dan 
bersatu masuk ke Sungai Batanghari. Pada musim hujan, permukaan air danau 
naik sekitar satu meter. Kedua saluran pembuangan ini beberapa tahun lalu 
tidak dapat berfungsi maksimal karena terjadinya penghambatan oleh eceng 
gondok dan pendangkalan dasar sungai.

Kabupaten Kerinci merupakan enclave di TNKS, terletak di lembah pergunungan 
Bukit Barisan di jantung Pulau Sumatera dengan luas 420.000 hektar, 215.000 
hektar di antaranya kawasan konservasi TNKS. Di samping Danau Kerinci, di 
kabupaten yang memiliki udara sejuk dan panorama alam yang indah ini 
terdapat puluhan obyek wisata yang menarik. Pemda Kabupaten Kerinci, Pemda 
Provinsi dan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi serta Balai TNKS bertekat 
menjadikan Kerinci sebagai obyek dan sasaran utama pengembangan ekowisata 
(wisata alam) Provinsi Jambi. Menjual warisan dari Allah (god made) kepada 
wisatawan mancanegara dan nusantara.

Konsekuensinya, obyek wisata itu harus dijaga dari kerusakan dan pecemaran. 
Pengunjung/wisatawan tidak datang ke Kerinci untuk melihat peladangan, 
perambahan dan penjarahan di kawasan konservasi TNKS, bukit gundul dan 
kritis di Kerinci serta danau yang ditumbuhi eceng gondok. Mereka ingin 
melihat keindahan, kelestarian, dan kekayaan alam flora maupun fauna serta 
seni dan budaya tradisi setempat.

Masalahnya, eceng gondok tidak hanya menutup sebagian permukaan Danau 
Kerinci, tetapi juga danau dan perairan lainnya di Jambi. Misalnya, Sungai 
Kumpeh, Danau Arang-arang, Danau Lamo, dan Danau Jambi Kecil Di Kabupaten 
Muarajambi dan bahkan Danau Buluran Kenali di Kota Jambi serta sejumlah 
perairan umum di kabupaten Batanghari, Tebo dan Sarolangun.

"Untuk melakukan pengendalian dengan restocking dengan benih ikan grass 
carp/koan terkendala oleh terbatasnya benih. Pembenihan yang saat ini 
dilakukan di BBIS Kerinci produksinya masih terbatas, hanya sekitar 100.000 
ekor setahun," ujar Herman.


***
PROVINSI Jambi dengan luas sekitar 53 juta hektar memiliki perairan umum 
115.400 hektar yang sebagian besar terdiri dari sungai, danau, dan daerah 
banjiran/genangan. Secara hydrologis, provinsi ini didominasi daerah aliran 
sungai (DAS) Batanghari dan anak-anaknya serta 46 danau yang tersebar di 
hampir semua kabupaten. Danau Kerinci merupakan danau terbesar.

Keberadaan Danau Kerinci di Kabupaten Kerinci merupakan potensi lahan dan 
sumber daya hayati perairan yang sangat besar dan dapat memberikan peranan 
besar terhadap berbagai aspek perekonomian masyarakat. Karena itu pulalah, 
perlu pengolahan dan pemanfaatan Danau Kerinci secara baik dan terencana. 
Perkembangan pembangunan, permukiman penduduk, pembukaan lahan untuk 
perkebunan, semakin banyaknya lahan kritis dan hutan gundul dan sebagainya 
mengakibatkan lingkungan Danau Kerinci ikut terganggu dan tercemar. Seperti 
menurunnya produksi ikan, bertambahnya pertumbuhan gulma air dan terjadinya 
pendangkalan danau.

Pertumbuhan eceng gondok yang sangat pesat di Danau Kerinci menimbulkan 
permasalahan pelik akibat berbagai kerugian yang ditimbulkan dan memerlukan 
upaya pengelolaan dan pengendalian yang serius. Kini setelah pencemaran oleh 
eceng gondok ditanggulangi, agar pengendalian tetap efektif perlu pengawasan 
ketat terhadap penangkapan ikan grass carp/koan di danau itu.

Meskipun secara resmi penangkapan dilarang, namun ikan koan sering 
tertangkap nelayan dengan berat 5 kilogram-10 kilogram per ekor. Sementara 
perkembangan ikan grass carp hanya bisa dilakukan melalui kawin suntik 
(Induce breeding) setahun sekali, yaitu pada puncak musim penghujan. 
Artinya, ikan grass carp/koan di Danau Kerinci tidak akan beranak atau 
bertambah, kecuali dilakukan restocking.



_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke