dari Kompas 29 Maret 2001

>Kamis, 29 Maret 2001

           Lebah di Rumah Gadang dan Pelestarian  Lingkungan 

PERNAH ke Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat dan berwisata ke
Istano Basa Pagaruyuang?
Bagi banyak masyarakat setempat dan juga pengunjung  Istano Basa Pagaruyuang,
terdapatnya empat sampai delapan sarang lebah menggantung di bagian bawah atap
istano yang  berarsitektur bagonjong tersebut, dianggap sebagai keunikan dan
sebuah fenomena menarik.Sanggat unik dan mungkin salah satu daya tarik, lebah
bisa bersarang di bangunan Istano Basa Pagaruyuang dan jumlahnya hingga delapan
sarang. 
Barangkali, ini suatu fenomena yang menarik dikaji," komentar Ny Hanum,
pelancong dari Malaysia yang keturunan Minangkabau, Sabtu pekan lalu.

Komentar senada juga dikemukakan pelancong lain. "Lebah bisa  hidup tenang dan
tak terusik, hingga menghasilkan madu, mungkin  fenomena arsitektur Rumah Gadang
seperti Istano Basa  Pagaruyuang, yang menarik untuk dikaji," ujar Ny Yulie,
pelancong asal Jakarta.

Menurut keterangan dari pengelola Istano Basa Pagaruyuang, lebah
tersebut bila telah menghasilkan madu, berpindah tempat untuk
membuat sarang baru. Uniknya, tempat berpindahnya, masih seputar
atap bangunan Istana. "Umumnya para pelancong terheran-heran
melihat kenyataan, lebah bisa membuat empat sampai delapan
sarang di bangunan istano," katanya.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Menurut pakar pertanian dari Universitas Andalas, Padang, dan juga
pakar adat dan kebudayaan Minangkabau, Ir Raudha Tahib MP,
lebah bersarang di Rumah Gadang seperti di Istano Basa
Pagaruyuang, karena arsitektur Rumah Gadang dan penataan
tanaman pekarangannya berpola pelestarian lingkungan.

"Keberadaan lebah itu juga pertanda. Artinya, lebah yang
memindahkan sarang dari suatu tempat ke tempat lain walau masih
di pinggir atau paran Rumah Gadang itu juga, diyakini sebagai
sebuah peringatan. Bila lebah memindahkan sarangnya ke atas di
atas atau dekat tangga, pertanda alamat buruk. Akan datang tamu
yang tidak disukai dan sebagainya," kata Raudha Tahib.

                                 ***

DALAM tradisi Minangkabau yang agraris telah lama mengenal,
memanfaatkan, memelihara, mengambangkan, dan melestarikan
tumbuhan, tanaman, dan hewan untuk berbagai keperluan
kehidupan. Punya aturan dan cara tersendiri agar tidak saling
memusnahkan, sebagai penjabaran dari ajaran adat; alam
takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru).

Dan keberadaan lebah yang selalu bersarang di bawah atap Rumah Gadang,
dimungkinkan karena pola pelestarian yang mengacu kepada alam takambang jadi
guru. Maksudnya, bagaimana  masyarakat tradisi Minangkabau itu menempatkan diri
sebagai  "manusia" di tengah "alam" dan menempatkan "alam" dalam  kehidupannya.

Menurut Raudha, pola pelestarian lingkungan sudah lama mentradisi pada
masyarakat seperti di Pagaruyuang, Sumanik, Lintau, Payakumbuah, dan
Bukittinggi. Terutama dalam upacara mendirikan Rumah Gadang, menaiki Rumah
Gadang, adat perkawinan dan penobatan penghulu.

Makanya, tak heran dengan pola pelestarian lingkungan itu, di Istano Basa
Pagaruyuang tak henti-hentinya lebah bersarang. Pola pelestarian itu antara lain
tampak dalam penataan tanaman pekarangan. 

Polanya sebagai berikut. 

Pertama, tanaman obat-obatan dan aromatik. Tanaman ini umumnya ditanam di
sekitar dan dekat tangga atau di bawah jendela dan kedua anjungnya.

Seperti bunga culan yang baunya semerbak di bawah anjung. Inai untuk memerah
kuku, piladang hitam, sidingin di dekat tangga. Bunga melati di bawah jendela.
Bunga cimpago langgo dan dalimo angso di depan dan belakang anjung. Bungo nago
di samping rumah. Rumpuik saruik di dekat sandi. Bungo rayo jalan ke tepian.
Diselang-seling dengan pandan. 
Kedua, tanaman hias. Kemuning ditanam pada keempat sudut halaman, untuk
dijadikan tambatan kuda. Puding emas untuk pagar bagian dalam. Puding perak
pagar bagian luas. Diselang-selingi oleh puding hitam dan sugi-sugi. Sedangkan
lanjuang ditanam berderet di jalan masuk halaman depan (gerbang). Pucuk lanjuang
itulah nanti yang diselipkan di pintu rumah oleh seseorang yang menyampaikan
berita kematian.

Ketiga, tanaman rempah-rempah. Tanaman ini ditanam pada sebuah parak (ladang
kecil) di samping pekarangan Rumah Gadang   mempunyai fungsi tersendiri. Seperti
serai, salam, belimbing, tapak leman, asam puyuh dan lain-lain.

Keempat, tanaman buah-buahan. Jambak ditanam di tengah halaman. Manggis dan
lansek ditanam di bagian kiri kanan halaman.
Kelapa puyuh di samping kiri-kanan dapur. Limau manis di bagian belakang, limau
sundai di halaman belakang dekat dapur. Pisang serumpun dekat dapur. Pinang
dekat anjung dan tanaman lainnya.
"Dari pola tanaman pekarangan Rumah Gadang sebagaimana disebutkan tadi, dapat
dikatakan masyarakat Minang sangat arif dan  sangat mengenal betul yang akan
mereka tanam. Baik mengenai  tempat tumbuh, cara tumbuh, sifat dan kegunaan yang
selalu disesuaikan dengan penempatannya. Sehingga Rumah Gadang sebagai bangunan
yang juga simetris sejalan dengan keseimbangan
penataan tanamannya," jelas Raudha Tahib, yang juga pewaris  Daulat Yang
Dipertuan Raya Pagaruyuang, atau dikenal juga dengan  Tuan Gadih Pagaruyung.

                                 ***

JADI, orang Minangkabau sangat mempertimbangkan keberadaan satwa baik yang
dipelihara maupun yang liar dalam kehidupan mereka, terutama di sekitar Rumah
Gadang. Dari tanaman  pekarangan yang ditata sedemikian rupa akan memberi
kesempatan atau mengundang satwa liar untuk hidup di sekitar Rumah Gadang,
seperti burung pipit atau balam yang bersarang di pohon limau.
Lebah bergantung di paran rumah dengan aman tanpa ditakuti.
Secara tradisional, demikian Raudha, sampai sekarang orang-orang tua di kampung
masih melakukan "kontak" dialog dengan satwa sekitarnya. Menurut mereka dialog
itu merupakan suatu "kehidupan" tersendiri yang sulit dipahami orang lain. Bila
seekor elang berkulin di  tengah hari, seorang nenek akan menegur dengan
mengucapkan pantun. Menurut mereka, suara elang itu sebagai "penghubung"  antara
nenek dengan "orang yang sedang berada di rantau". Jika
elang berkulin, si nenek yakin, ada seorang Minang di rantau yang sedang susah
dan rindu kampung halaman. Oleh karena itu dia berbisik dalam pantun untuk
memberi semangat.

Begitu juga lebah yang memindahkan sarangnya dari satu tempat ke tempat lain
walau masih di pinggir atau paran Rumah Gadang itu  juga. Perpindahan itu dan
tempat pindahnya diyakini sebagai sebuah  peringatan. 

"Bila lebah memindahkan sarangnya ke atap di atas atau dekat tangga, pertanda
alamat buruk. Akan datang tamu yang tak disukai, dan sebagainya," papar Raudha. 

                                 (Yurnaldi/BE Julianery, Litbang Kompas)


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke