Ya Allah, damailah negriku! damai lah bangsaku!, Sudah banyak darah berceceran dimana-mana. Betapa banyak anak yang kehilangan orang tuanya. Betapa banyak orang tua yang kehilangan anak, harapan hari tua mereka. Tapi apa yang mereka peroleh, hanya puing-puing dan hitamnya arang rumah yang terbakar, hanya bau amis darah dan sisa potongan kaki dan lengan serta potongan kepala tiada berbentuk, hanya kesengsaraan yang berkepanjangan , hanya derita yang tiada pernah berakhir!!!!
Apakah tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sambas, Pontianak, Maluku, Poso, Sampit dan sekarang yang terjadi di Kapuas dan Aceh belum cukup bukti bahwa peperangan akibat pandangan sempit tentang perbedaaan yang membawa-bawa atas nama suku, agama, ras dan pandangan primordial lainnya, hanya akan membawa penderitaan yang berkepanjangan???
Mari duduk satu meja saudaraku! untuk menyelesaikan perbedaan pendapatan dan semua ketidakpuasan. Manusia ditakdir oleh Allah SWT berada dalam perbedaan. Perbedaan itu adalah indah saudaraku! Tetapi perbedaan bukan sebagai alasan untuk membawa ke jurang kehancuran!!!
Ya Allah semoga angin sejuk perdamaian kembali menerpa hati kami gersang, yang kehilangan arah yang tidak tahu lagi kemana harus mencari tempat untuk berpijak.
 
Just Peace Forever My Brother!!!
Marven
----Original Message-----
From: Buyung Andalas [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Saturday, April 07, 2001 7:02 PM
To: Undisclosed-Recipient:@makassar.divre7.telkom.co.id;
Subject: [minangbandung] Republik Sumatera Merdeka? Kenapa Tidak! (1)

 

 

Republik Sumatera Merdeka? Kenapa Tidak!

Bergabunglah dengan Milis [EMAIL PROTECTED]

*BUYUNG ANDALAS== [EMAIL PROTECTED]

 

Republik Sumatera Merdeka? Kenapa Tidak! (1)

 


Oleh : Buyung Andalas

 

KITA BUKAN BANGSA DENGAN BUDAYA YANG SAMA

Saya percaya, faktor utama yang membentuk berdirinya Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 yang lalu, bukanlah kesamaan budaya, bahasa, maupun agama. Kalaulah memang budaya dan bahasa yang menjadi landasan utama, tentu saja Sumatera atau mungkin Kalimantan akan bergabung dengan Malaysia atau Singapura, bukan dengan Indonesia. Irian Jaya seharusnya bergabung dengan PNG. Sebagai perbandingan, budaya dan bahasa negara-negara di Eropa pada dasarnya tidak banyak berbeda. Budaya serta bahasa Belgia dan Belanda atau Jerman da Austria, misalnya, barangkali lebih memiliki kemiripan dibandingkan dengan budaya serta bahasa Melayu dan Jawa. Agama juga bukanlah faktor yang menginspirasi terbentuknya Republik Indonesia. Jika ternyata Islam adalah dipeluk oleh hampir 90% penduduk Indonesia, hanya menjadi faktor yang selanjutnya dimanfaatkan saja (secara positif maupun negatif).

 

Lalu, apa sebetulnya yang melandasi terbentuknya Republik Indonesia? Belanda! Belanda-lah yang membentuk Republik Indonesia, yang menyatukan Indonesia sekarang dalam satu kesatuan administratif. Dan yang lebih penting, Belandalah yang membentuk rasa kebersatuan di antara tokoh-tokoh Indonesia pada saat itu, dengan melakukan penindasan dan pemerasan terhadap segenap rakyat Indonesia. Jadi, KESAMAAN NASIB (buruk) lah yang menjadi faktor utama memicu rasa perjuangan bersama tersebut, disamping – ternyata – rakyat Indonesia memiliki kemiripan budaya dalam tingkatan- tingkatan tertentu.

 

KETIDAKADILAN dan KETERTINDASAN Penyebab Separatisme

 

Sejak tegaknya RI, memang tidak pernah berhenti dari berbagai permasalahan yang terus menghimpit, termasuk persoalan ‘separatisme’: keinginan untuk memisahkan diri dari RI. Gejala pemisahan diri sedikit mereda pada era orde baru, karena tekanan yang sangat represif dari pemerintah yang dikuasai militer, serta pembentukan opini dan pembodohan informasi melalui kontrol yang sangat ketat pada semua lini informasi. Namun, beberapa daerah terus bergolak, terutama Aceh dan Timor-Timur, yang berujung dengan merdekanya Timor Timur begitu pemerintahan orde baru berakhir.

 

Apa yang melandasi pemisahan daerah-daerah di Indonesia? Secara sederhana hanya ada 2 hal : KETIDAKADILAN dan KETERTINDASAN. Pemimpin-pemimpin negeri ini memang pandir tolol karena telah MERUSAK LANDASAN UTAMA TERBENTUKNYA NEGARA INI! Apa itu? Kesamaan Nasib! Pemimpin-pemimpin negara ini, karena kerakusannya, kesewenang-wenangannya, serta rasa primordialisme picik (yang tidak pernah diakui!) telah memperlakukan rakyat-rakyat di seluruh negeri ini secara tidak adil! Dan tidak itu, saja mereka juga melakukan penindasan-penindasan! Tingkah laku- yang berjalan HAMPIR SEPANJANG REPUBLIK INI BERDIRI nampaknya tidak dapat ditolerir lagi!

 

Kerakusan dan ketamakan pemimpin-pemimin Indonesia, secara umum telah memperlakukan KETIDAK ADILAN terhadap SELURUH penduduk Indonesia. Namun perilaku PRIMORDIALISME pemimpin-pemimpin yang didominasi oleh ETNIS JAWA, tidak bisa dipungkiri telah menempatkan daerah-daerah luar Jawa sebagai OBJEK PEMERASAN! Ketidakadilan yang menimpa luar Jawa tidak hanya karena unsur ketamakan tetapi juga perilaku pemimpin dari etnis Jawa yang primordialis, yang memeras sumber daya luar Jawa untuk kepentingan Jawa, dengan dalih KEADILAN BAGI SEGENAP RAKYAT DAN WILAYAH INDONESIA.

 

Sementara pemimpin-pemimpin luar Jawa, yang bercokol tidak bisa berbuat banyak, karena :

 

        TAKUT !

        Ikut MENIKMATI KEKUASAAN,  

        terbodohi oleh dalih keadilan bagi segenap rakyat dan wilayah Indonesia.

 

Bagaimana ceritanya Sumatera yang dulu lebih maju secara ekonomis dari Jawa sekarang bisa tertinggal? Bagaimana ceritanya kualitas sumber daya manusia Sumatera, yang dari Jaman pra Belanda hingga zaman pergerakan di atas kualitas manusia Jawa – setidak-tidaknya dari tingkat pendidikan, sekarang bisa tertinggal? Apakah benar karena orang-orang Jawa lebih cerdas? Dan Bangsa Sumatera lebih bodoh? Tidakkah kita perhatikan bahwa sebagian besar tokoh perintis di bidang politik, sastra, budaya, agama, jurnalistik pada jaman pergerakan baik secara absolut -- apalagi secara persentase -- berasal dari Pulau Sumatra?

 

Masih ingat dari mana Muhammad Hatta, proklamator RI, berasal? Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, H Agus Salim, M Natsir, Buya Hamka, Tan Malaka, Burhanudin Harahap, Tengku Moh. Hasan, Idrus, Chairil Anwar, Djamaludin Adinegoro, Sutan Takdir Alisjhabana, Usmar Ismail, dan banyak lagi. Hampir semua tokoh perintis RI berasal dari SUMATRA! Sekarang dimana posisi kita Bangsa Sumatra? Di emperan jalan berdagang kaki lima? Di jembatan penyeberangan? Di metro-metro mini berteriak sampai suaramu parau?

 

Lalu apa penyebab semua ini? KETIDAKADILAN dan PRIMORDIALISME terselubung, yang tidak pernah diakui! Secara mencolok ratusan, ribuan, bahkan jutaan pegawai pemerintahan dan militer, di seluruh pelosok luar Jawa, adalah etnis Jawa. Ceklah kantor-kantor di propinsi anda masing-masing, pejabat militer, kepolisian di daerah anda. Alasan asimilasi dan pembauran antar etnis dimanfaatkan oleh PRIMORDIALISME TERSELUBUNG! (disadari atau tidak, diakui atau tidak !) Tidakkah sering anda dengar, karena putra daerah belum siap, maka gubernurnya ‘didatangkan’ dari Jawa, penghinaan luar biasa! Sejak kapan orang luar Jawa sebodoh itu? Tidak mampu memimpin bangsanya sendiri? Sejak Republik Indonesia ditangan mereka! Kalaulah kita orang luar Jawa, Orang Sumatra bodoh, kenapa tidak mereka ajari jadi pintar, karena kita bersaudara? Toh kita punya duit banyak untuk belajar, karena sumber daya alam yang kaya. Tapi kenyataannya, Jawa dibangun lebih, Sumatra diperas banyak; Etnis Jawa diberi kekuasaan dan kesempatan, dengan dalih kebodohan mamusia-manusia luar Jawa.

 

PENJAJAHAN BUDAYA SANGAT MENYAKITKAN HATI

Tak bisa dipungkiri memang, selain kesamaan nasib, ada satu budaya yang dapat menjembatani keberagaman budaya nusantara. Setidak-tidaknya oleh bahasa. Jauh sebelum RI ada, bahasa melayu telah dipakai dan diakui sebagai bahasa pengantar Nusantara. Jadi, adalah tidak benar, bahwa dijadikannya bahasa melayu sebagai dasar bahasa nasional adalah karena  KEBESARAN JIWA pemimpin-pemimpin etnis jawa sebagai etnis mayoritas. Seperti yang sekarang sering diselipkan dalam pelajaran sekolah. Tidak! Bahasa Melayu menjadi dasar bahasa nasional adalah oleh karena KENYATAAN yang ada, bahwa bahasa inilah yang telah diakui, dipakai, dan diterima oleh seluruh penduduk Nusantara, termasuk oleh penduduk Jawa.

 

Sejarah mencatat, bahwa arogansi Jawa dalam budaya telah diterjemahkan dalam berbagai macam sector. Antara lain  adalah bahasa, terdapat unsur  kesengajaan serta penggunaan bahasa Jawa yang berlebihan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, yang berujung pada jawanisasi dari bahasa Indonesia. Lihatlah pejabat-pejabat dari etnis Jawa seenaknya berkomunikasi-publik menggunakan bahasa dan ungkapan Jawa. Silahkan anda cek Kamus Besar Bahasa Indonesia, berapa persen kosa kata baru yang berasal dari Bahasa Jawa? Pemerkosaan budaya melalui bahasa, hanya salah satu contoh dari pemerkosaan budaya etnis-etnis lain oleh arogansi dan kepicikan pemimpin-pemimpin etnis Jawa. Budaya merupakan cara hidup suatu komunitas, intervensi terhadap budaya merupakan penjajahan yang paling menyentuh harkat dasar kemanusiaan suatu komunitas.

 

Kini saatnya,

KETIDAKADILAN DAN PEMERASAN POLITIK, BUDAYA  DAN EKONOMI ITU DIHENTIKAN!

S     T      O      P  !    !   !

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Republik Sumatera Merdeka? Kenapa Tidak!

Bergabunglah dengan Milis [EMAIL PROTECTED]

*BUYUNG ANDALAS== [EMAIL PROTECTED]

 


Yahoo! Groups Sponsor
Paid Net2phone Advertisement - Click Here!
Paid Net2phone Advertisement - Click Here!

To Post a message, send it to:   [EMAIL PROTECTED]
To Unsubscribe, send a blank message to: [EMAIL PROTECTED]


Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

Kirim email ke