http://www.kompas.com/kompas-cetak/0104/23/DIKBUD/meny32.htm

 >Senin, 23 April 2001

Menyingkap Perjuangan Perempuan Lokal


Kompas/agus susanto

SITI Roehana Koeddoes lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Kotogadang, 
Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayahnya seorang hoofd djaksa. Roehana adalah 
kakak sulung, seayah lain ibu dengan Perdana Menteri I RI, Soetan Sjahrir 
dan masih satu nenek dengan Agus Salim.Kotogadang sendiri adalah salah satu 
nagari Minangkabau yang banyak melahirkan intelektual. Orangtua dan ninik 
mamak saling bahu-membahu, kalau perlu menggadaikan sawah dan ladang-untuk 
menyekolahkan anak laki-laki ke luar Kotogadang ke Batavia, bahkan sampai ke 
Belanda.
Tidak demikian halnya dengan anak perempuan. Ajaran adat dan ajaran agama 
yang penafsirannya mengekang kemajuan perempuan, membuat perempuan terpuruk 
dalam kebodohan dan perlakuan tidak adil, meski dengan sistem matriarkat 
harta warisan jatuh kepada garis keturunan perempuan. Bukan pemandangan aneh 
pada waktu itu bila banyak laki-laki intelektual yang berkomunikasi dalam 
bahasa Melayu dan Belanda memiliki istri yang buta huruf, bahkan mengaji pun 
hanya bisa dalam hafalan, bukan membaca hurufnya.

Dalam kondisi seperti ini Roehana tumbuh dan berkembang. Ayahnya yang sering 
berpindah tugas membuat Roehana kecil mempunyai pengalaman tinggal di luar 
Kotogadang dan memberikannya wawasan yang membuat cakrawala berpikirnya 
lebih luas. Pada usia balita, Roehana sudah memperlihatkan minatnya yang 
tinggi untuk belajar baca-tulis, dan beruntung pula, ayahnya tidak terpaku 
pada adat istiadat serta ajaran agama yang cenderung mengekang anak 
perempuan.

Oleh karena tidak ada sekolah formal untuk perempuan di lingkungan mereka 
tinggal, Roehana belajar baca-tulis abjad Latin dan Arab. Bahasa Melayu dan 
Belanda dipelajari secara otodidak di rumah. Ayahnya melanggankan bacaan 
untuk anak-anak langsung dari Singapura. Sikap ini sungguh luar biasa kalau 
melihat perhatian ninik-mamak dan orangtua saat itu lebih mengutamakan anak 
laki-laki.


***
KETIKA ayahnya pindah tugas ke Pasaman, Roehana yang suka membaca lantang di 
teras orangtuanya menarik perhatian teman-teman barunya. Mereka 
mendengarkan, bahkan kemudian minta diajari membaca dan menulis. Roehana 
yang waktu itu berumur delapan tahun melakukannya dengan senang hati di 
teras rumahnya. Ayahnya tak hanya memberi izin, tetapi juga membelikan 
peralatan menulis, dan turut memberikan pelajaran agama. Pada usia 13 tahun 
ibu kandung Roehana meninggal. Roehana tetap tinggal dengan ayahnya.

Pada usia 17 tahun, Roehana tinggal di rumah nenek dari pihak ibunya, 
menjadi adik sekaligus ayah bagi adiknya. Situasi Kotogadang masih belum 
berubah. Banyak anak perempuan menikah pada usia sangat muda dan kepercayaan 
bahwa perempuan tabu bersekolah masih sangat kuat. Menikah dengan laki-laki 
bukan dari Kotogadang adalah aib.

Meski ragu dengan kondisi ini Roehana mencoba mengajak teman seusianya yang 
buta huruf untuk belajar membaca dan menulis. Mula-mula sangat sulit, tetapi 
akhirnya mereka tertarik juga.

Roehana menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Koeddoes, keponakan ayahnya 
yang berpikiran maju. Abdul Koeddoes aktif dalam organisasi bawah tanah 
melawan Belanda dan aktif menulis mengenai politik di surat kabar yang 
terbit di Padang.

Beberapa bulan setelah menikah, Roehana dihasut, kegiatannya mengumpulkan 
gadis-gadis itu dinilai hanya merusak pekerti mereka. Mereka takut 
pendidikan baca-tulis yang diberikan Roehana akan membuat gadis-gadis itu 
lupa kewajibannya untuk menikah dan tak pandai mengurus rumah tangga.

Melalui perjuangan keras di hadapan para tetua perempuan, Roehana mendirikan 
Kerajinan Amai Setia (KAS), semacam sekolah keterampilan ditambah ilmu 
pengetahuan lainnya-dan agama-untuk para gadis pada tahun 1911. Di kemudian 
hari ia difitnah dengan berbagai isu untuk menjatuhkan kedudukannya sebagai 
Ketua KAS.

Kebiasaannya menulis isi hatinya dalam bentuk cerita dan syair dalam buku 
membuat ia berniat menulis di surat kabar, supaya bisa memberi dan 
mendapatkan ilmu dari perempuan lainnya di tanah Melayu. Ia kemudian menulis 
surat kepada Maharaja Soetan, Pemimpin Redaksi Surat Kabar Oetoesan Melajoe.

Tahun 1912 terbit surat kabar Soenting Melajoe dan ia bertindak sebagai 
redaktur pelaksana. Tulisan Roehana banyak menyoroti kehidupan perempuan 
yang digambarkannya hanya sebagai perhiasan rumah tangga yang dikekang 
berbagai ajaran adat dan kepercayaan. Ia juga menyoroti sistem matriarkat 
Minangkabau yang cenderung hanya memperhatikan tali persaudaraan dari garis 
ibu, selain menyoroti kehidupan para nyai Belanda di Jawa, perempuan buruh 
pabrik dan lain-lain yang pada dasarnya mengangkat suara perempuan. Meskipun 
Soenting Melajoe tutup pada tahun 1921, Roehana masih menulis sampai usianya 
mencapai 60 tahun.

Tahun 1917 ia mendirikan Roehana School di Bukittinggi untuk anak perempuan 
dan laki-laki. Ia meninggal di Jakarta tanggal 17 Agustus 1972 dalam usia 88 
tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke