Dear All

--- In [EMAIL PROTECTED], Ernawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Apa makna buku bagi anda semua?

Saya---secara sengaja---tidak bercerita persis untuk menjawab pertanyaan
Mbak Erna. Pertama "buku" yang saya maksud disini bukan buku mengenai
ilmu pengetahuan, cerita sastra, atau pop atau kumpulan sejenis. Tetapi
tentang buku tulis. Dan kedua, makna bagi kakakku dan bukan bagi saya.

Saya satu-satunya anak lelaki di keluargaku. Ketiga kakak saya perempuan
dan ketiga-tiganya bersekolah, suatu hal yang tidak luar biasa,
terkecuali bahwa itu terjadi di tahun empatpuluhan, dan Bapakku hanya
orang biasa saja, bukan ambtenar atawa sejenis (saya dan kakak saya yang
ketiga, sudah almarhum berbeda umur 9 tahun) Secara umum anak-anak
perempuan di Ranah Minang dalam hal kesempatan untuk memperoleh
pendidikan memang agak sedikit beruntung. Bahwa etnis Minang nenganut
sistem matrilineal mungkin ada pengaruhnya. Namun  utamanya hal itu
adalah berkat perjuangan tokoh-tokoh pendidikan seperti Alm Ruhana
Kuddus dan Alm Rahmah El Yunusiah. Yang terakhir ini pendiri Diniyah
Puteri di kota kelahiranku Padangpanjang---kalau tidak salah---dalam
Tahun 1912. Ketiga kakakkku bersekolah di sana. Kesulitan hidup di zaman
Jepang (yang sukar dibayangkan oleh generasi sesudah tahun limapuluhan),
tidak menyurutkan semangat Uni Niar, kakakku yang tertua untuk
bersekolah, walaupun ketika itu beliau hanya punya satu stel baju dan
sebuah buku tulis.

Kalau baju beliau kotor, petangnyanya dicuci sehingga besok bisa dipakai
kembali untuk bersekolah.

Dan buku tulis? Pelajaran yang dicatat hari ini dihapal, kalau sudah
dihapal lalu dihapus dengan hati-hati dan digunakan mencatat pelajaran
keesokkan harinya dan seterusnya.

Dengan hanya satu stel baju dan sebuah buku tulis, Uni Niar kakakku
menyelesaikan sekolahnya sampai setingkat SMP. Di samping menguasai ilmu
agama dan pengetahuan umum yang juga diajarkan di Diniyah Puteri, Uni
Niar sangat fasih berbahasa Inggeris dan Belanda.

Nah, tujuan saya bercerita tidak persis menjawab pertanyaan Mbak Erna
untuk memberikan ilustrasi, bahwa perempuan jika diberikan kesempatan,
kemauan dan kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan lewat pendidikan
tidak berbeda dengan laki-laki.

Kedua untuk mengemukakan dugaan saya, bahwa kemampuan etnis ini untuk
memproduksi tokoh-tokoh pada level Nasional (sepenjang sejarah Republik,
hanya di kabinet Gus Dur urang awak yang paling sedikit menjadi Menteri,
yakni Gubernur BI, pejabat setingkat menteri dan "katanya" Menko Ekuin
Rizal Ramli) mempunya korelasi positif dengan kesempatan perempuan
Minang memperoleh pendidikan yang sedikit relatif lebih baik dari pada
etnis lainnya, terutama di zaman sebelum kemerdekaan. Tetapi secara
substansial, cerita saya di atas sedikit banyak ikut menjawab pertanyaan
Mbak Erna mengenai hubungan buku, walaupun hanya sebuah buku tulis
dengan pendidikan.

Catatan: Naskah asli disiapkan untuk Milis Desentralisasi

Wassalam, Darwin


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke