----- Original Message -----
Sent: Wednesday, May 16, 2001 4:50 AM
Subject: Re: IJP,Re: [surau] Hot Topics: Marxis, Teolog & Kristenisasi

Koreksi dari saya. Justru teman saya, Trisnanto Dirsun, yang menghadjar Jusfic Hadjar itu. Bukan sebaliknya. Baca lagi, deh. Yang orang Minang itu Jusfic Hadjar, bukan teman saya. Jusfic kan sekarang begitu anti pada Islam, hingga apapun milis yang diikutinya, selalu membawa misi sama. nah, saya dan teman saya berdebat keras dengannya. Kebetulan, teman saya tinggal di USA, lalu menceritakan bagaimana ia beralih dari pengagum Marxisme, lalu berpindah kepada kapitalisme yang sudah mengalami pembaharuan juga. Trisnanto kan bilang, bahwa misa pertama gereja Katolik kan mendo'akan Indonesia. Katolik kan berbeda dengan protestan. dari pengakuan seorang pengungsi Ambon kepada saya, orang-orang Katolik ketika awal-awal terjadi kerusuhan, justru menyembunyikan orang Islam di rumah atau gerejanya. Dalam Katolik, kita lihat ada yang namanya Teologi Pembebasan yang banyak dipraktekkan melawan kapitalisme di Amerika Latin. Mereka disebut Kiri Kristen, karena mengambil model-model pemikiran Marx dkk untuk perjuangan membebaskan kungkungan sistem kapitalisme yang menenggelamkan pribadi manusia ke lembah penghambaan kepada harta/uang/hedonisme, etc.
 
Orang yang membangun Kali Code, lalu bergelimang dengan kaum buruh, miskin, etc, di Yogya itu kan Romo Mangun yang Katolik. Romo Mudji, Romo Sadyawan, juga Katolik. Jarang kan kita temukan orang Islam sendiri yang mau berkubang lumpur, bertahun-tahun, untuk membebaskan orang dari ketertindasan. Ibi bukan semua orang Katolik seperti itu. Hanya orang-orang katolik tertentu yang beraliran Teologi Pembebasan.
 
Nah, dalam kaitannya dengan itu, kita memang harus juga mengetahui orang-orang Kristen itu, aliran-aliran didalamnya, juga aspek humanisme yang dipegang. kalau kita hanya melihat bahwa Kristen itu satu, kita tentu tidak terfokus. Bisa-bisa kita salah sasaran. Kenapa dalam Al Qur'an juga ada ayat-ayat tentang Ahli Kitab yang memang memegang teguh ajarannya. Kalau memang tidak mengganggu, kenapa harus kita bunuh?
 
kenapa saya katakan "kalau saja Marx mengenal Islam" karena memang dalam fase-fase itu, Islam juga tertindas. Sebagai bangsa, Islam banyak yang menjadi negeri jajahan. Kekuasaan Turki Ustmani sendiri sedang dalam fase penurunan. nah, sebetulnya Indonesia punya "Marx yang mengenal Islam" yaitu Tan Malaka, bekas guru ngaji. Tan Malaka, kita tahu, justru membangun Sekolah Syarekat islam di Semarang yang sangat sukses itu, tetapi kemudian ditangkap Belanda, lalu dibuang, dan diburu. Ketika Stalin menyetujui pemberontakan PKI tahun 1926/27 (termasuk di Sumbar), tan Malaka tak setuju. Begitu juga ketika PKI di Indonesia berhadapan dengan kelompok-kelompok Islam, Tan Malaka juga menentang. Bagi tan Malaka, perjuangan Pan Islamisme bisa bergandengan dengan gerakan-gerakan komunis waktu itu, untuk menentang kapitalisme/kolonialisme. Nah, ini untuk konteks sebelum Indonesia merdeka, bukan periode demokrasi Terpimpin (1959-1965) ketika PKI menjadi rezim yang menindas, bersama Soekarno dan militer, serta kelompok agama yang diakomodir oleh Soekarno.
 
saya tak ikut di rantaunet karena banyak orang-orang hebat disana tak mau berdiskusi. Saya sudah mencoba diskusi disana, tetapi posting-posting yang saya terima hanyalah soal kangen-kangenan. saya menjadi gerah. Bahkan sudah dua kali saya mengirim email ke seseorang yang saya hormati, seorang Doktor di Unand yang dulu ketika saya mahasiswa saya kagumi. Saya pingin membaca tulisan-tulisan mutakhirnya. tapi, saya tak mendapat balasan, padahal saya tahu dia posting di rantaunet. Saya begitu heran, kenapa orang beitu pelit dengan ilmu yang dia kuasai? Apakah dengan begitu pekerjaan sebagai dosen atau pengajar menjadi hilang?
 
Saya memang tidak punya misi "mambangkik batang tarandam" sekalipun beberapa posting yang saya terima menginginkan itu. saya hanya ingin sedikit berbagi sudut pandang, lalu kalau saya salah, mohon dikoreksi. Saya juga tak bermaksud "mencerahkan" apalagi merasa sok tahu. Ini hanya satu sudut pandang. Apalagi, saya jarang ketemu orang kampung. Ya, moga-moga dengan milis ini saya masih bisa berhubungan dengan teman-teman yang concern terhadap Islam, juga ilmu pengetahuan, agar kita sama-sama belajar.
 
Kadang-kadang saya sedih, bahwa niat baik saya dipertanyakan, hanya karena lima bulan terakhir saya bekerja di sebuah lembaga yang dulu juga saya benci. Padahal, lebih dari 28 tahun hidup saya nggak ada hubungannnya dengan lembaga apapun. Pindah-pindah kerja. Luntang-lantung. Nah, kebetulan di lembaga ini saya punya konsentrasi untuk membaca banyak buku, ketemu dengan banyak orang. Dan itu berguna betul untuk membina keyakinan saya, memperkuatnya, lalu "bermanfaat buat Ummat" seperti pesan Mbak Helvy Tiana Rosa pada saya.
 
Salam Ta'zim
 
IJP
 
NB: Tolong diforward ke rantaunet. Maaf kalau saya gak keras soal rantaunet.
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, May 15, 2001 12:01 AM
Subject: Fwd: IJP,Re: [surau] Hot Topics: Marxis, Teolog & Kristenisasi

Yth. Bp. Indra J. Piliang,

Noted pendapat temannya (kalau ndak salah dia rang awak yang convert ya?), dan mengenai Islam semoga dia menemukan orang yang bisa memberi clearance atas hujatannya, dalam Qur’an juga disampaikan bahwa siar agama itu dengan bahasa yang sebaik2nya dan kalau hatinya tertutup/dia tidak percaya juga maka BAGIMU AGAMAMU DAN BAGIKU AGAMA KU…

Marx tidak mengenal Islam, itu point pentingnya. Menurut saya itu salah satu sebab kenapa umat Islam tidak perlu takut dan kaitannya dengan Al-Qur’an banyak sekali orang yang bisa menjelaskan asal mau belajar dan bertanya. Kalau kita hancurkan/buang/bakar akibatnya kita tidak pernah tahu apa yang salah dari mereka dan lebih buruk lagi mungkin saja ada sedikit hal yang bisa kita tiru dan membuatnya menjadi lebih baik.

Kebanyakan kita seperti memakai kacamata kuda dan seperti katak dalam tempurung, terlalu cepat puas, padahal sebagai educated society kita perlu berpikir skeptis untuk kemudian mengembangkan pengetahuan kita dari tambah kurangnya yang selanjutnya akan kita yakini sendiri2. Dengan cara demikian saya yakin umat Islam Indonesia akan jadi lebih maju, tidak lagi saling tikam, saling tubo, saling jatuhkan, dan tidak mudah diadu domba seperti yang selama ini banyak terjadi didepan mata kita.

Saya mengikuti beberapa tulisan anda dan banyak yang menarik, karena dalam hidup ini kita tidak berhenti belajar dan terus terang saya perlu berterima kasih atas masukan dari tulisan anda yang menyebabkan saya jadi bisa mengkombinasikan dengan bacaan saya sendiri, itu kontribusi proses belajar dari anda di milis ini

Mengenai ada yang memandang anda sebagai pengagum Marx dan walau pun cenderung untuk berhenti membahas topik2 ini di rantaunet, tapi sebaiknya jangan karena diskusi hot ini pak Indra jadi mundur/unsubscribe dari milis rantaunet, tetaplah berbagi dengan rang awak dengan berbagai tanggapannya yang berbeda2 O.K.

Wassalam,

Rudy Gunawan Syarfi


"Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada  siapapun) selain  kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang  yang mendapat
petunjuk "( QS; 9:18)
================================================================================
Alamat-alamat e-mail Surau:
   Mengirimkan artikel/opini          :  [EMAIL PROTECTED]
   Mendaftarkan diri                  :  [EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri sementara        :  [EMAIL PROTECTED]
   Kembali aktif                      :  [EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri selamanya        :  [EMAIL PROTECTED]
   Kontak Admin                       :  [EMAIL PROTECTED]


Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

Kirim email ke