Dunsanak kasadonyo,
Ambo kirimkan kolom "Basilang Kato" Ambo di Mimbar Minang tahun lalu, nan
bajudul Propinsi Minangkabau? Sayang kini ambo alah baranti maiisi kolom
tu, tapi jumlahnyo ado sakitar 25 tulisan.

"Basilang Kato"
PROPINSI MINANGKABAU?
Oleh Edy Utama

Dalam suatu pertemuan bulan lalu di Yogyakarta, saya diminta tanggapan oleh
sejumlah perantau Minang di sana, bagaimana kalau Propinsi Sumatera Barat
diganti namanya dengan "Propinsi Minangkabau". Gagasan untuk mengganti nama
Propinsi Sumatera ini akan mereka sampaikan sebagai suatu himbauan kepada
Pemerintah Sumatera Barat. Rencana gagasan ini akan mereka bawa ke dalam
suatu pertemuan formal dalam bentuk seminar dan musyawarah di kota "Berhati
Nyaman" ini.
        Saya tidak kaget mendapatkan permintaan ini, karena dalam banyak
kesempatan saya melihat "orang rantau" jauh lebih konservatif dalam melihat
Minangkabau, karena banyak di antara mereka hidup dalam wilayah nostalgia.
Saya langsung menjawab dan dengan terus terang mengatakan tidak setuju
dengan gagasan tersebut. Kelihatannya mereka tidak senang dengan jawaban
saya, karena pada saat itu tampaknya mereka begitu bersemangat
membicarakannya. Dengan cepat salah seorang di antara perantau itu
bertanya, apa alasannya saya tidak setuju.
        Pertanyaan ini langsung saya jawab. "Menurut saya Minangkabau tidak dapat
dipahami sebagai suatu wilayah administrasi pemerintahan. Minangkabau
adalah wilayah budaya. Ada daerah darek  atau sering disebut luhak dan ada
daerah rantau. Meminjam istilah Cristine Dobbin, daerah luhak adalah
perkampungan tradisional orang Minangkabau, yang wilayahnya tetap dan tidak
berubah. Namun daerah rantau, sangat dinamis dan terus berkembang sesuai
dengan perkembangan migrasi orang Minangkabau sendiri. Kedua daerah ini
dipertalikan bukan oleh ikatan struktural, tetapi dipertautkan oleh ikatan
kultural dan geneologis yang disebut dengan anak nagari.  Dalam pengertian
ini bagaimana kita akan mempetakan wilayah Minangkabau menjadi suatu
propinsi? Ada banyak wilayah Minangkabau secara kebudayaan yang terdapat di
propinsi lain di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Jadi bagaimana
membuat Propinsi Minangkabau berdasarkan pengertian wilayah administratif
pemerintahan", kata saya dengan penuh semangat.
        Tapi bukan orang Minang namanya kalau tidak bisa menjawab setiap soal.
Kato bajawek gayung basambuik, begitulah ungkapannya. Tak kurang
bersemangatnya, salah seorang orang rantau tersebut yang bergelar Datuk,
langsung menjawab. "Hanya dengan menukar nama Propinsi Sumatera Barat
dengan Propinsi Minangkabau, orang Minang baru bisa mambangkik batang
tarandam. Hanya dengan cara ini rasa percaya diri orang Minang bisa
dibangkitkan". Banyak lagi alasan yang dikemukakan, dan tampaknya niat
mereka sudah bulat untuk mengusulkan pergantian nama ini.
        Tanpa mau mengalah saya pun kembali menjawab dengan bersemangat. "Belanda
dulu gagal membuat negara Minangkabau, karena tidak mampu dan bisa
mempersatukan nagari-nagari yang bersifat otonom tersebut. Tapi yang paling
merugikan kalau sempat membuat Propinsi Minangkabau, tiba-tiba Alam
Minangkabau bisa menjadi sangat sempit dan statis. Bukankah ajaran adat
menyebutkan, Alam Minangkabau itu jikok dikambang saleba alam dan dibalun
saleba kuku".
        Namun penjelasn saya ini tampaknya tidak memuaskan mereka. Tetapi
begitulah, masyarakat Minangkabau telah jauh berubah. Kalau kita kembali
belajar pada sejarah perkembangan intelektual Minangkabau, yang begitu
dinamis, biasanya orang yang merantau justru selalu pulang membawa wacana
pemikiran baru ke kampung halamannya, sehingga pemikiran berkembang dengan
pesat. Namun sekarang tampaknya banyak orang rantau yang ingin "pulang
kampung" dengan hanya mengusung sejarah masa lalu. Inilah yang mereka
tawarkan kepada orang kampungnya. Saya kira inilah salah satu sumber
kemunduran orang Minangkabau, yang banyak dibicarakan belakangan ini. Saya
tidak percaya orang Minangkabu "mundur" (?) atau stagnasi karena negeri ini
bernama Propinsi Sumatera Barat. Menurut saya sekarang, masalah yang
dihadapi orang Minang sekarang, karena terlalu banyak bernostalgia terhadap
masa lalu, sehingga mereka kehilangan sikap kritis, yang menjadi ciri khas
orang Minang.

Padang,  14 Juni 2000.




_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke