At 15:12 23/05/01 +0700, you wrote: > > >> edyutama: >> >> > PARTAMO, masalah hubungan antar kampung dan rantau dalam perkembangan >> > masa kini dan masa datang. Ambo mancaliak ado nan indak klop salamo ko, >> > sahinggo >> > banyak manimbulkan salah sangko dan konflik. Pertanyaan masalah ini >> mungkin >> > bisa >> > dimulai dari; apa posisi atau peranan urang rantau terhadap kampung >> > halamannyo?; dan apa >> > pula posisi dan tugeh urang kampung? >> >> Dalam rangka mencari hal-hal yang terbaik yang sekiranya dapat >disumbangkan >> pada kampung halaman, saya kira, tak perlulah adanya dikotomis rang >kampuang >> dan rang rantau. Dalam kesatuan nama Minangkabau, kampuang dan rantau >> seharusnya hanya membedakan wilayah tempat tinggal dan bukan pola pikir, >> pola perilaku atau pola tindakan para manusianya. Namun tak dapat >diingkari >> bahwa untuk dapat sama-2 melapah hati gajah atau mencacah ati tungau dalam >> memupuk solidaritas masyarakat Minang tidaklah semudah menuliskan petitih >> ini. Apa yang 'seharusnya' itu lebih banyak tingggal dalam angan-angan >> ketimbang terjadi dalam realitas maka terjadilah banyak ketidak klopan >> disegala bidang kehidupan yang akhirnya memicu inferno:Konflik. >> >> Pak Edy, berdasarkan pengamatan di internet, saya mengikuti alur opini >Anda >> bahwa dalam beberapa hal, terutama yang menyangkut kebijakan pemda, ADA >> terjadi salah sangka antara rang rantau (setidaknya saya) dengan rang >> kampuang (setidaknya pemda). Sebelum jauh saya ingin mengingatkan bahwa >> ketidak sesuaian ini hanya terjadi di level >> perselisihan pribadi saja dan bukan perselisihan ke tingkat struktural. >> Karena PR rang rantau dan rang kampuang itu sangat banyak, kita perkecil >> saja skop permasalahannya. Mari kita bicarakan perda tentang pekat yang >> salah satu butirnya melarang wanita minang keluar malam kemarin. >> >> Terus terang, sebagai seseorang yang besar di rantau, saya sampai ngakak >> membaca berita tersebut. Saya katakan pada diri sendiri bahwa penyakit >akut >> yang di derita masyarakat Minang saat ini sebenarnya bukan lah para wanita >> melainkan para pengambil keputusan disana yang tak tahu apa sebetulnya >> penyakit yang diidap oleh masyarakat mereka. Kok jauh-2 amat, masalah >> struktural yang di derita orang minang saat ini adalah kemiskinan plus >> variant ikutannya berupa mentalitas >> orang miskin.Kita tahu bahwa mentalitas orang miskin itu adalah kerja >untuk >> cari makan dan bukan kerja demi karya itu sendiri. Kemiskinan struktural >ini >> lah penyebab mengapa SDM kita melorot terus dan salah satu refleksi >> masyarakat itu terbaca ketika para elite pemda yang hanya mampu melihat >> masalah-2 sosial dari gejalanya saja (suka atau tidak milis etnis seperti >> rantaunet ini juga merupakan cermin) dan kemiskinan terstruktural pula lah >> yang menjadi penyebab mengapa orang minang yang sangat bangga dengan >> keislamannya itu tak terbebas dari kekuasaan yang korup. Kalau para elite >> sumbar sangat peduli terhadap nasib kaum >> perempuan, utang mereka tidak terletak betapa sering perempuan keluar >> malam, berapa tinggi rok dan hak sepatu mereka, atau berapa seksi pakain >> yang melekat di >> tubuh mereka. Meributkan hal-hal yang sepele seperti itu namanya cuma >kerja >> 'resek'-2an' dari kekuasaan "penjaga malam". Utang penguasa Minang kepada >> para perempuan Minang terletak pada bagaimana memberdayakan kaum yang >sudah >> dibuat keok oleh berbagai sangsi sosial yang berbau seksual selama ribuan >> tahun tersebut agar bisa mandiri secara ekonomi,sosial dan kalau perlu >> secara moral.Walaupun dalam menikmati dunia pendidikan tak ada batas >antara >> anak perempuan dengan anak lelaki, kecuali beberapa orang di masa lalu, >> kebudayaan Minang sekarang ini tak mengenal perempuan yang kampiun dalam >> menyuarakan kepentingan kaumnya.Dalam kondisi jaman yang berubah cepat >> seperti sekarang ini, tidak semua kepentingan mereka bisa diakomodasi oleh >> kaum yang selama berabad-abad sudah terbiasa menikmati kedudukan sebagai >> "yang di layani". Persoalan-persoalan perempuan itu sangat banyak. >Sebagian >> bisa diselesaikan oleh kaum lelaki dan sebagian lagi akan lebih baik kalau >> di tangani oleh perempuan sendiri.Buka lah jalan bagaimana caranya agar >> lahir Rohana Kudus atau Kartini-2 Minang agar di masa mendatang kaum bapak >> di rumah bagonjoang itu tidak repot-repot amat mendefinisikan >> 'kesejahteraan' perempuan. >> >> Mungkin bagi sebagian orang yang merasa sangat minangkabau, cara pandang >> seperti ini datang dari Disneyland bukan dari dunia nyata.Tapi percayalah, >> kalau saya tidak berdiri di posisi ini, tak akan ada diskusi. Mau ngomong >> apa kalau semua suara MPR Orde Baru pindah ke sini. Kata, >setujuuu.....saja >> tidak akan membawa kita kemana-mana selain berputar-putar seperti pemain >> randai. Itu kata teman saya. >> >> >> Wassalam, >> >> Evi Dunsanak Evi, Tentang sikap dan analisis Evi tentang bagaimaimana mentalistas orang miskin, termasuk kemiskinan struktural sangat saya setujui. Para pengambil keputusan di Pemerintah Daerah -- bukan hanya di DPRD Sumbar__ termasuk di kantor gubernur, saya kira memang sedang mengalami suatu proses pemiskinan intelektual dan wawasan, terutama jika dilihat dari apa yang mereka kerjakan dengan Peda Pekat yang antara lain akan melarang perempuan keluar malam. Ini sangat lucu dan naif. Pola mendiskriditkan kaum perempuan dan tetap mempertahankan hegemoni dan dominasi laki-laki dalam pemerintahan kita memang masih sangat dominan. Masalah asusila mungkin tidak akan berkembang, jika kaum laki-laki bisa hidup lebih bersih dan beriman. Mereka kan konsumen dari kehidupan malam tersebut? Jadi seyogianya Perda Pekat tersebut harus juga mengikat kaum laki-laki. Saya sependapat soal ini. Cuma dalam hal apa yang saya katakan dengan Hubungan Rantau dan Kampung, bukanlah sabatas Hubungan Rantau dengan Pemda. Jauh lebih luas dari itu. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara dunia luar dengan Sumatra Barat, tepatnya hubungan orang Minang di kampung dan dirantau, sebagai suatu dialektika, yang seyogianya menjadi sumber dinamika masyarakat Minangkabau. Sakian dulu, mari terus berjuang. Salam dari kampuang Edy Utama _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com RantauNet http://www.rantaunet.com ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

