MimbarMinang, Rabu, 04/07/2001
Membangkitkan Kembali Tradisi Intelektual Minangkabau

Sejarah telah mencatat 'nagai Minangkabau' sebagai wilayah yang paling subur
'produk' budaya intelektualnya. Pernyataan dibuktikan dengan adanya 13 pers
yang diterbitkan di Minangkabau pada awal abad 20 (Lihat Bachtiar Ali,
Perkembangan Jurnalistik Indonesia: Hambatan dan Tantangan Dalam Pemberdayaan
Ummat, 1999) antara lain: Al Munir (1911), Wasir Hindia (1903), Oetoesan
Melayoe (1911), Soenting Melayoe (1912), Medan Ra'jat (1916), Soematra Tengah
(1914), Soeraya Islam (1931), Moeslim Hindia (1932), Tjaboet (1933),
Perantara Kita (1938), Adabiah (1922), Soera Islam (1931), dan Soeoeh Koto
Ampat (1929). Dalam dunia Islam, prestasi intelektual generasi Minangkabau
ketika itu sejalan dengan adanya dua terbitan di dunia Islam, yaitu: Al Manar
yang digagas oleh Rashid Ridho (Kairo, 1898) dan Al-Iman (Singapura, 1906).

Hal ini tentu membuktikan bahwa Minangkabau sudah memiliki basis budaya
intelektual yang sangat kuat. Persoalannya, masihkah tradisi intelektual itu
masih dimiliki? Di abad 21 ini banyak kalangan yang mengkritik bahwa tradisi
inetlektual tidak lagi dimiliki oleh generasi Minangkabau 'modern'. Sehingga
dikatakan bahwa Minangkabau tidak lagi menjadi industri otak. Indikator yang
seringkali digunakan untuk membenarkan kemunduran intelektual ini adalah
tidak (belum) adanya tokoh ulama yang sekaliber buya Hamka, sulit mencari
politisi ulung 'kaya' Agus Salim, dan belum ada bapak bangsa yang terlahir
seperti Bung Hatta, Natsir, dll.

Saya menyamput baik dan positif dengan banyaknya autokritik yang dilontarkan
saat ini. Setidaknya hal itu memberikan nuansa dan ruang gerak berpikir
kepada generasi sekarang untuk mampu menempatkan dirinya kedalam posisi
strategis bangsa, entah sebagai buya, sebagai politisi, birokrat sejari,
wirausahawan, guru bangsa, dll. Namun, yang patut dikritisi adalah relevankah
kita memakai indikator 'produk intelektual' adanya tokoh yang dikenal luas di
publik. Bukankah para tokoh besar seperti Hamka, Agus Salim, Natsir, bahkan
Tan Malaka, tidak pernah bermimpi menjadi tokoh atau ditokohkan leh
masyarakat. Yang ada adalah mereka selalu secara sustain menghasilkan karya
intelektual. Kalau berpikir sejenak melihat bumi Indonesia ini, sekarang pun
masyarakat Minang bukan tanpa tokoh.

Namun terdapat perbedaan yang mencolok, kalau dahulu terdapat tokoh
intelektual, sekarang yang ada adalah tokoh birokrat. Masih ada putra Minang
yang menduduki posisi strategis di birokrasi. Namun, sebagai masyarakat
Minang kita tentu kita berkeinginan tokoh birokrat juga menjadi tokoh
intelektual yang berada dalam relung kehidupan masyarakat. Tokoh yang mampu
melahirkan gagasan untuk membawa bangsa ini kelaur dari krisis yang
berkepanjangan, krisis multidimensional.
Menghadapi adanya sinyalemen terjadinya degradasi intelektual, ada beberap
hal yang perlu ditindaklanjuti. Pertama, sudah menjadi kebutuhan saat ini
untuk melahirkan kembali media-media di setiap level institusi di Minagkabau
yang mampu menjadi wadah alternatif dalam membangkitkan budaya intelektual
khususnya di institusi pendidikan.

Kedua, media massa yang terbit di wilayah 'the land of minangkabau'
diharapkan dapat memberikan ruang gerak yang lebih besar kepada para generasi
muda. Dengan banyaknya media yang terbit saat ini merupakan suatu peluang
yang mesti dimanfaatkan semacara maksimal oleh para intelektual muda kita.
Ketiga, para praktisi pendidikan baik dosen maupun guru sebaiknya memberikan
contoh kepada para mahasiswa dan anak didik (pelajar) dalam mengembangkan
potensi intelektualnya melalui 'rpdiksi' artikel di media publik.

Disamping hal di atas, salah satu faktor yang menentukan tumbuh suburnya
budaya intelektual adalah tersedianya perpustakaan publik yang menyediakan
informasi, bahan bacaan serta suasana nyaman. Selain itu, perpustakaan mesti
memberikan kemudahan-kemudahan dalam pemakaian dan peminjaman bukun kepada
para pembaca.
Sebagai perbandingan, British Council Jakarta, merupakan salah satu pustaka
yang telah berhasil memberikan pelayanan yang memadai kepada para pembacanya.

Kepiawaian pengelolanya dalam memadukan beberapa fungsi teknologi seperti:
internet, video, dan CD player telah mampu memberikan layanan terhadap
kebutuhan pembaca. Sehingga, dengan fasilitas dan pelayanan memadai tersebut
para pembaca akan mau mengorbankan dananya untuk mendapat pelayanan dan akses
informasi melalui perpustakaan tersebut. Bagi perpustakaan di daerah
barangkali ada baiknya untuk melakukan studi banding atau bahkan bekerjasama
dengan perpustakaan yang telah maju seperti British Council ini. Bukankah
dunia Islam dulu majunya karena memiliki perpustakaan yang terkelola dengan
baik. Makanya, kebangkitannya di masa datangpun akan tersupport oleh
keberadaan perpustakaan.
Dengan tersedianya berbagai fasilitas sekarang ini sebenarnya bukan menjadi
alasan lagi untuk mengatakan terjadinya degradasi intelektual. Keengganan
kita untuk memanfaatkan fasilitas dan akses yang kita punyalah yang
menyebabkan degradasi intelektual mitu terjadi. Semoga para generasi muda
Minangkabau mau dan mampu memberikan kontribusi posisitf dalam membangkatkan
kembali budaya inetelektual Minangkabau. Wassalam. *Penulis:EFRI S.
BAHRI/Trainer Pada International Network Jakarta





Kirim email ke