Sato ciek mambahas, 1. Menurut ambo bentuk nagari yang sedang diperjuangkan sebagian orang memang bukan penyelesaian, tapi malahan sebuah awal baru dari sebuah tahap perbaikan kearah yang relatif lebih baik berdasarkan pengalaman kito banagari. Terlepas dari kekurangannya sebagian kita yakin bahwa system Nagari lebih baik dan berkaitan dengan demokrasi tentu kita semua paham bahwa Nagari lebih demokratis dari Desa. 2. Pengangkatan Sutyoso itu karajo indak karajo tu doh, sasuai kito tu, dan memang ado sebagian cendikiawan/cadiak pandai kito nan alah jadi �cadiak pandia� dan bakawan jo masalah �niniak ngangak� tuh, tapi indak berkaitan jo keinginan idea baliak ka nagari, budaya lamo nan positif, cadiak pandai dan niniak mamak nan sabananyo. 3. Rancangan perda anti maksiat, perda pelarangan wanita keluar malam menggambarkan �kekalutan� wakil rakyat kita dikampuang menghadapi perubahan social kebudayaan. Dengan system nagari dengan segala kontrol social sepertinya hal seperti ini bisa di minimize, tanpa perda-perda nan indak manggadangan aia tu. Ambo berkunjung ke Yogya, di daerah lokasi sekolah dan rumah kos mahasiswa terutama, disetiap ujung jalan tertulis: �JAM BELAJAR 19.00~21.00� yang ternyata didukung dengan perda dari Sultan/gubernur. Follow up di massyarakat: Dilarang brisik, basorak sorai genjreng-genjren di pos rundo sambia minum-minun, mabuk, dll banyak masalah tasalasaian. Kalau perda sarupo itu nan dibuek lai ka mambuek rang awak tambah cadiak dan dapek space waktu untuk belajar, minimal setiap orang diharuskan menghormati jam belajar. Belajar bukan hanya untuk mahasiswa, kelompok petani, baraja mangaji atau apapun yang masih kontekstual. Hal iko sudah pernah ambo sampaikan ke beberapa cadiak pandai rang awak dan pemerhati sumbar, kito tunggu baa reaksinyo, semoga lai positif. 4. Baliak ka Nagari, baliak ka Surau itu ambo raso paralu dipikirkan implementasinyo bukan indak ado gunonyo atau tabaliak dengan kenyataan globalisasi, malah ambo raso dek karano persiapan rang minang menghadapi globalisasi munculnyo idea itu. Kalau kito mancaliak permasalahan dan perubahan secaro keseluruhan maka akan kito sadari beberapa akar dan triggernyo. 5. Kawan Indra, apokah betul kebanyakan perantau muda yang sering membawa kebiasaan jelek rantau ke kampung, misalnya mabuk-mabukan dll? haa banyak yang tasingguan beko, hahaha atau hanya karena hukum supply dan demand.. yang sepertinya lebih significant sebagai penyebab utama. Coba perhatikan gembong narkoba nan tatangkok di sumbar, ternyata anak mudo nan domisilinya di kampuang. Sekian dulu dari ambo, talabiah takurang mohon maaf. Wassalam, Rudy Gunawan Syarfi ----Original Message Follows---- From: "indrapiliang" <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [EMAIL PROTECTED] To: <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [surau] Cendiakiawan Minang Mundur Date: Thu, 5 Jul 2001 17:48:08 -0700 ----- Original Message ----- From: Wirman Sikumbang To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 03, 2001 7:19 PM Subject: [surau] Cendiakiawan Minang Mundur http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=34632&kat_id=23 Cendiakiawan Minang Mundur Laporan: ANTARA> Padang-Rol-- Budayawan Prof. Mursal Esten menilai bahwa saat ini para cendekiawan Minang telah mengalami kemunduran dalam cara dan pola berfikir, >apalagi bila dikaitkan dengan kecenderungan mereka yang suka bernostalgia >dengan kejayaan masa lalu. > >"Saya menilai cendekiawan Minang kini begerak mundur melihat kecenderungan >mereka yang selalu berupaya keras untuk kembali ke masa lalu," katanya >kepada pers di Padang, Selasa. Indra: Ada juga yang bergerak ke masa depan, sekalipun jumlahnya sedikit. Pada akhirnya, kita yang harus memilih. > >Ia mencontohkan keinginan daerah itu untuk kembali ke sistem Pemerintahan >Nagari, yang menurut Esten dinilai tidak relevan diterapkan pada masa >sekarang ini. > >"Saya tidak mengerti maksud mereka (cendekiawan, red) dengan Kembali Ke >Nagari itu. Kembali ke Nagari yang mana? Apa kembali ke jaman feodal dan >otoriter dulu," tanyanya. Indra: Nah, itulah masalahnya. saya sependapat dengan Pak Esten. Bentuk nagari bukan penyelesaian. Lha wong jaman global, koq lalu bikin bilik-bilik khusus yang lalu disorak-sorakkan ke banyak media, sebagai bentuk demokrasi? dalam sebuah diskusi bersama sejumlah pengamat, kekhawatiran soal ini juga mengemuka. Menghidupkan nagari di Minang, ditengah kondisi feodalisme yang menyokong selama ini, akan sulit. Kalau nagari dihidupkan, berarti sejumlah perangkat demokrasi lainnya juga mesti dihidupkan, seperti sistem saiyo sakato (musyawarah-mufakat) dalam suasana egaliter. Persoalannya, kan pemerintahan Orba sudah membuat perangkat keras, semacam kepala desa, pak camat, danramil, dan orang-orang yang mestinya hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, tetapi sekarang sudah beratus-ratus langkah didahulukan. Saya masih sebel misalnya dengan kelakuan "niniak-mamak" yang mengangkat Sutiyoso sebagai salah seorang Niniak Mamak Minang. > >Ia menekankan bahwa rencana Kembali ke Nagari sama saja dengan tidak >memahami perubahan yang sedang dan akan terus terjadi, dimana masyarakat >setiap saat terus berkembang sesuai perubahan jaman. > >Ia juga menilai gerakan sedemikian rupa tidak akan menghasilkan apa-apa bagi >daerah itu. "Apa bisa kembali ke Nagari dan mengembalikan segala sesuatunya, >sementara jaman telah berubah secara drastis," tambahnya. > >Esten juga menilai gerakan Kembali Ke Surau yang sedang digalakkan Pemda >Sumbar bersama sejumlah elemen masyarakat sebagai suatu kemunduran yang >tidak perlu terjadi, mengingat budaya surau yang tidak lagi relevan dalam >kondisi yang berubah pesat seperti dewasa ini. Indra: Nah, ini pemikiran yang baik sekali. Memang, terjadi lompatan budaya yang luar biasa dalam masyarakat Minang sekarang. Dan itu hendak dihempang dengan tradisi masyarakat lama. Saya kira soal ini mesti jadi perhatian. Di kampung saya memang banyak surau, bahkan hampir tiap tahun para perantau menyumbang untuk Surau. tetapi kenyataannya memang Surau hanya dihuni selama bulan Puasa, atau menjelang perantau pulang. Tetapi mengkritik soal ini saja agak riskan. Saya kira harus ada sejumlah solusi untuk menggairahkan kembali semangat belajar urang awak, juga sistem egalitarian yang selama ini dibangun, dalam bentuk budaya baru. tetapi apa? kalau keadaan sekarang terus berlanjut, yang berkembang malah individualisme. belum lagi budaya yang dibawa kalangan perantau muda yang tak pernah diajari tradisi masyarakat Minang. Merekalahyang sering membawa kebiasaan jelek rantau ke kampung, misalnya mabuk-mabukan.. > >"Kenapa hanya karena tidak tahan dengan tekanan serta berbagai kondisi yang >tidak menguntungkan saat ini kita harus kembali ke masa lalu. Kenapa kita >tidak hadapi saja masa depan dengan segala tantangannya dengan perjuangan >secara terbuka," katanya. Indra: Apa maksudnya perjuangan secara terbuka? orang per orang? kalau orang per orang, saya kira tak perlu diomongin. Yang perlu dipikirkan adalah bentuk budaya baru itu, dengan mengambil nilai-nilai positif di masa lalu, lalu menggabungkannnya dengan nilai-nilai positif sekarang, sembari diterapkan dalam kehidupan. Kalau "perjuangan secara terbuka" itu berarti individualisme, siapa elu siapa gue, yaaaaah, Minang tinggal sebagai kenangan. > >Ia mengajak segenap lapisan masyarakat dan pemerintah di daerah itu agar >merelakan sebuah kejayaan masa lampu serta membiarkannya hidup dalam >kenangan manis, sementara yang harus dilakukan sekarang >ini adalah memandang masa depan secara rasional. Indra: Setuju. Tapi rasional bagaimana, ditengah irrasional yang melanda anak-anak negeri? dalam diskusi soal Alahan Panjang kemaren, terlihat bagaimana kita gagap menghadapi orang diluar kita, apakah komunis, Kristen, dll-nya. Rasionalitas memang perlu, selain akar yang kuat bagi ideologi yang dibangun, juga akar budaya yang tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan. > >Perda maksiat >Pada kesempatan itu, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang >Panjang itu juga menyoroti rencana DPRD Sumbar menelurkan peraturan daerah >(Perda) tentang maksiat, yang juga dinilainya sebagai sebuah kemunduran. > >"Rencana pembuatan Perda itu tidak realisitis, karena semua aturan yang >sudah ada telah memuat segala sesuatu berkaitan dengan maksiat ini, >sementara kita tinggal menjalankannya secara konsekuen dan tanpa pandang >bulu," ujarnya. Indra: Yap, maksudnya UU, agama, dll. Kalau tingkatannya Perda, jangan-jangan diselewengkan lagi oleh yang punya jabatan. Segala aturan sebetulnya sudah ada dalam agama. Kalau aturan itu makin diperbanyak, tapi tak satupun yang dilaksanakan, sikap permisif (semau gue) akan berkembang terus. Juga sikap hipokrit dan munafik. Sejumlah anggota DPRD, menurut informasi teman-teman yang sedang mengambil S-2 di UGM dalam bidang Kebijakan Publik, malah ngambil kuliah dengan biaya APBD/Pemda. Padahal, pendidikan bagi politisi kan tugas partai politik. Apa itu bukan korupsi namanya? Teman-teman saya itu, yang juga PNS di sejumlah Bappeda, berjanji akan mengusut soal ini... > >Menurut dia, maraknya aksi perbuatan maksiat di Sumbar >lebih dikarenakan ketidakmampuan unsur-unsur dalam keluarga, terutama para >orang tua dan para ninik mamak, dalam mengatur dan membina keluarganya. Indra: Setuju. Inti dari masyarakat adalah keluarga. Inti pendidikan adalah keluarga. > >"Jadi, untuk apa Perda itu sebenarnya. Kalau diperuntukkan bagi aparat >penegak hukum, saya rasa apa yang ada sudah lebih dari cukup dan mereka >tidak butuh Perda lagi, karena semua sudah diatur. Karenannya saya menilai >rencana itu masih perlu dikaji >lagi," katanya Indra: Sependapat. Teman-teman milisi tentu masih ingat posting saya soal ini, yang dibalas oleh seorang kawan yang dulu pernah memilih saya dalam pemilu mahasiswa UI. Salam, --ijp-- _________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

