Dayung Serempak
Perkawinan Harmonis Ragam Instrumen dalam Dayung Serempak
27 Jul 2001 16:2:1 WIB
Lah maratok anak siabu, bunyi ratok baibo-ibo (Sudah meratap anak Siabu,
bunyi ratapan mengiba-iba). Dendangan pilu seorang wanita berbaju kurung
memenuhi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (25/7). Suara saluang, suling
khas Minangkabau, meningkahi jerit pilu wanita itu yang tengah bersimpuh di
panggung. Sesekali terdengar bunyi kendi dipukul dan bel bergemerincing. Ratok
sang wanita makin mengiba manakala gesekan bensi dan biola seakan menyayat
udara. Sang wanita itu Oppie Andaresta. Kali ini, penyanyi pop yang terkenal
lewat lagu Cuma Khayalan itu melantunkan kepiluan. Lagu Ratok Anak Siabu yang
dia bawakan itu merupakan bagian dari pementasan Dayung Serempak yang digelar
New Indonesia Ensamble pimpinan Epi Martison, musisi yang selama ini banyak
terlibat dalam pementasan tari Gumarang Sakti Dance Company. Aslinya, Ratok
Anak Siabu adalah irama dendang saluang dari Kabupaten Payakumbuh, Sumatera
Barat. Iramanya lalu diperkaya Epi, lulusan Akademi Seni Karawitan Padang
Panjang. Epi mengawinkan instrumen musik etnik lokal dan musik Barat. Di sana
ada saluang, rampak rebana, gambang, biola, gitar, dan trumpet. Epi juga
memanfaatkan kendi yang khusus didatangkan dari Plered, Jawa Barat. Kendi
tanah liat itu jadi alat musik pukul yang menghadirkan dengung apik. “Ini
salah satu media ungkap saya bahwa instrumen nonetnis bisa berkomunikasi
secara harmonis dengan instrumen etnis,” kata Epi. Dalam rangka komunikasi
yang harmonis pula, didgeridoo, alat suling dari Australia, dihadirkan ketika
membuka dan menutup acara. Suara monoton dari suling suku Aborigin itu
membangkitkan bulu roma. Kepiluan dalam komposisi pertama, Ratok Anak Siabu,
itu berganti dengan suasana riang pada komposisi Lhu Gue. Komposisi ini
menampilkan kedinamisan rampak gendang musik Betawi yang menggunakan suara
tehyan (rebab Betawi), gitar, trumpet, dan biola. Pada komposisi ini, Oppie
berpantun bersahut-sahutan dengan Musliwardinal dalam suasana riang. Apalagi,
beberapa wanita dan pria yang duduk di sebuah gubuk yang dibangun di atas
panggung itu menyoraki adu pantun mereka. Panggung GKJ malam itu berubah jadi
sepotong suasana kampung. Di sana ada sebuah gubuk. Juga ada suara air
bergemericik dan hamparan halaman yang nyaman untuk duduk bersimpuh sambil
bermain musik. Di paruh kedua pertunjukan, Epi mengekplorasi musik Tanah
Batak. Suling khas Batak menjadi primadona dalam komposisi Huabing Maho Anakku
. Tiga wanita berkain ulos tampak menari tor-tor. Sementara, Opie
berimprovisasi dengan teriakannya. Bagi Oppie, inilah suasana yang
diharapkannya. “Sudah lama saya mencari pagelaran seperti ini,” kata Opie
soal keterlibatannya dalam pertunjukan Epi. Melodi biola dan harmonika
sesekali menyisipi komposisi ini. Suara gitar bernuansa blues dan petikan bas
hadir sebagai aksennya. “Petikan bas yang terdengar bagai degup jantung kita
yang seringkali waswas dengan situasi saat ini,” papar Epi. Harmoni.
Barangkali itulah yang digagas Epi dalam pentas pertama kelompoknya ini.
Harmoni itu muncul dari perkawinan berbagai instrumen musik dari ragam
budaya. Pada komposisi penutup, Kubang II, Epi memasang biola dan gitar serta
dua vokalis yang bernyanyi spechtime, setengah bernyanyi setengah bicara.
Komposisi ini diilhami dari karya Epi sebelumnya yang diperuntukan untuk
pemain salempong, musik tiup khas Minang. Petatah petitih Minang yang
dilantunkan kedua vokalis itu menegaskan kebersamaan yang ditawarkan ensamble
ini. Nan kabukik samo mandaki, nan kalurah samo menurun, nan ko barek samo
dipikul, nan ko ringan samo dijinjing (Ke bukit sama mendaki, ke lurah sama
menurun. Yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing). telni
rusmitantri
Registrasi Search
© korantempo

