Dari KOMPAS Minggu, 29 Juli 2001
Didalam artikel ko ado Rantaunetter sdr Adyan Anwar nan jadi nara sumber.

 Kpd St Rmh Panjang
     Ari Akaik ado arisan RT ( rt nan di Banuampu) dirumahmbo.
     Jadi alun sempat mamabaco Kompas.
Wass
Bandaro. ( Perai kalapau 1 s/d 15 Agust.)
~~~~~~~~~~~


          Wisata Sumatera Barat, Benang Dua dan Bika Hangat

MUNGKIN karena dikaruniai  dengan alam yang cantik, banyak orang di Sumatera
Barat mengidentifikasikan wisata dengan kunjungan melihat dan menikmati
pemandangan alam. "Sudah ke Pantai Padang? Sudah lihat Ngarai Sianok? 
Sudah ke Lembah Anai? Atau Danau Singkarak? Danau Maninjau? Atau danau-danau
yang lain?" begitu selalu yang ditanyakan orang-orang di Padang ketika ditanya 
kunjungan wisata ke mana yang sebaiknya dilakukan.Ada kesan orang Sumatera 
Barat tidak menyadari kekayaan budayanya yang tak kalah menarik dibanding
kejelitaan alamnya. Memang dari beberapa tur yang ditawarkan biro perjalanan
wisata, sudah ada upaya memasukkan unsur lain, seperti wisata sejarah ke Desa
Pariangan yang katanya adalah desa pertama leluhur Minangkabau, terowongan
Jepang di Bukittinggi, dan Istana Pagaruyung. Atau wisata alam dan budaya yang
lebih khusus, yaitu yang dengan aktivitas, seperti berenang dan mencari
kerang di Pulau Sirandah, atau terlibat dalam kegiatan nelayan tradisional.
Jenis wisata yang digemari orang Indonesia, yaitu wisata belanja dan wisata
santapan, juga telah dicobakan. Ke Bukittinggi untuk berbelanja tekstil
dan bordir, atau ke Payakumbuh untuk memasak galamai, penganan khusus daerah
itu.
Namun, penekanan tetap saja pada wisata alam yang memanjakan indra visual.
Banyak potensinya yang masih terabaikan. Banyak sisi-sisi wisata yang belum
tertengok, yang bisa memuaskan tidak hanya kelima indra, tetapi juga bisa
memenuhi rasa ingin tahu atau ingin kenal orang-orang yang datang ke daerah
itu. Seperti sumber arkeologis misalnya, yang menurut John Miksic dari Program
Kajian Asia Tenggara Universitas Nasional Singapura dalam Simposium
Internasional Antropologi II di Padang pekan lalu, masih sangat sedikit
dipelihara dan dimanfaatkan.
Padahal, Sumatra Barat kaya akan peninggalan arkeologis dari masa pra-Islam 
dan Islam, seperti batu tegak di Guguk Nanang dan Kuto Lawe, atausitus-situs di
Lembah Mahat.

                                                                   ***

KARENA hanya punya satu hari waktu luang, kami memutuskan menggabungkan dua 
jenis wisata yang memang digemari orang sini: wisata belanja dan wisata makan.
Walau dalam perjalanan kami mendapat bonus berupa wisata alam.

Bonus itu belum-belum sudah kami terima dalam perjalanan dari Padang ke arah
Padang Panjang. Jalanan yang mulus membuat mobil melaju, namun kami sempat
melihat di tepi jalan bertumpuk-tumpuk buah menanti pembeli. Musim mangga 
kwini telah tiba, membuat udara harum olehnya.

Tiba-tiba kami sampai di sebuah lembah berhutan lebat di kiri-kanan jalan.
Jendela kami buka untuk membiarkan udara sejuk segar masuk.

"Aduuuuh sedapnya bau daun," teriak kami yang anak-anak kota. Maklumlah di
Jakarta tak ada bau daun segar ditambah semilir angin.

Gunung Singgalang tampaknya dibayangi Gunung Marapi di belakangnya. Namun,
lama-lama terlihat mereka tak berdiri berdesakan.
Singgalang ada di kiri jalan, Marapi di kanan jalan, sama-sama gagah, sama-
sama impresif dari kejauhan.

Perhentian pertama kami adalah sebuah desa yang katanya terkenal dengan
kerajinan ukiran kayu dan tenun songketnya. Kanagarian Pandai Sikek menurut
petunjuk orang terletak di kaki Gunung Singgalang, tak jauh dari Padang Panjang
arah ke Bukittinggi.

Kami bertanya arah pada orang di pinggir jalan, yang lalu menyuruh kami
mengikuti motornya karena dia pun akan ke arah itu. Tak lama sebelum dia
mengisyaratkan kami untuk berbelok ke kiri, memang ada petunjuk jalan "Pandai
Sikat" ke arah kiri. Oh, jadi Pandai Sikat itu Pandai Sikek.

Kami memasuki jalan desa, melewati sawah dengan padi yang hampir masak yang
bersebelahan dengan  tanaman cabai dan tanaman lain dengan nuansa warna
kuning-hijau bermacam-macam, bagai hamparan mozaik berlatar belakang Gunung
Singgalang.
Di tepi jalan, beberapa lelaki sibuk memasukkan terong ungu berkilau yang baru
dipanen ke dalam karung-karung. Ada satu-dua tempat ukir kayu.
Namun, di mana-mana ada rumah tenun, dan samar-samar dari beberapa rumah
terdengar suara panta, alat tenun tradisional, sedang beraksi.

Kami memutuskan untuk memasuki salah sebuah rumah tenun. Pusako namanya. Dan
bertemu dengan seorang perempuan setengah baya, Tafsinar, yang sambil
menenun songket tak keberatan membagi informasi.
Dia menyebut nama motif songket yang dibuatnya. "Ini benang dua, selesai bisa
sampai dua bulan," katanya. "Benang dua?" tanya kami bingung.

                                                                   ***

YANG disebut dengan satu, benang dua, sampai benang enam adalah jumlah benang
pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang pada benang-benang yang membujur,
untuk membentuk motif. "Ini yang disebut benang dua.
Berarti semakin sedikit jumlah benang (pakan) itu, semakin halus dan semakin
lama pembuatannya.
Benang satu itu yang terhalus," kata Tafsinar.

Hampir di tiap rumah tangga penduduk Pandai Sikek ada yang bisa menenun. Tidak
terbatas pada perempuan. Putra Tafsinar yang masih remaja pun,  Doddy Kurniawan,
bisa menenun diajari ibunya.

Menurut Adian, putra Hajjah Sanuar pemilik Pusako, kemampuan menenun sudah
dimiliki orang Pandai  Sikek sejak ratusan tahun lalu. Ini terbukti dari
selembar kain tenun peninggalan keluarga yang  usianya diperkirakan sudah 
250 tahun.
Namun, pada  masa perang kemampuan itu menghilang, dan baru dihidupkan kembali
beberapa puluh tahun lalu pada masa Gubernur Harun Zain untuk kemudian
berkembang.

Motif-motif lama kembali digali, dengan cara dicontoh dari hasil tenunan lama.
Setiap motif  katanya mempunyai filsafat di baliknya. "Ada 300  motif. Tapi,
yang hafal di luar kepala paling hanya 60," kata Hajjah Erma Yulnita,
pemilik rumah tenun Satu Karya.

Ilmu tenun Pandai Sikek ini kabarnya terlarang untuk disebarkan ke luar desa.
"Orang luar tidak boleh belajar tenun Pandai Sikek.
Memang begitu larangannya," kata Tafsinar yang menceritakan bagaimana pernah
seorang perempuan Pandai Sikek berniat menyebarluaskan ilmu tenun itu ke luar
komunitas, lalu rumahnya di desa dihancurkan penduduk yang marah.

Kami memang tidak berniat belajar menenun sehingga memilih memasuki rumah-rumah
tenun untuk melihat, mengagumi, memilih, dan - kalau cocok di hati dan
di dompet - membelinya. Sebuah selendang saja  berharga mulai Rp. 200.000-an.
Sebuah kain songket halus lengkap dengan selendang berharga tiga juta rupiah.

Bekal dari Tafsinar sudah bisa langsung kami manfaatkan. "Ini benang enam, ya?
Pantas terlihat  kasar. Kalau yang ini benang satu, kan? Halus sekali...."

Puas sekali seorang dari kami keluar dari rumah tenun, membawa sebuah selendang
dengan motif  gabungan cukil sikakan, belah kacang gadang, salepah, kaluak,
saluak laka. Yang lain membawa sebuah yang bermotifkan tampuk manggih dan susun
siriah. Benang berapa? "Benang dua," kata kami yakin.

                                                                   ***

RENCANANYA kami hanya akan sebentar di Pandai Sikek. Namun, keindahan tenunannya
membuat kami betah berlama-lama. Sampai disadarkan oleh perut
yang berkeroncongan. Dari Adian kami mendapat informasi bahwa karena itu adalah
hari Selasa yang  hari pasar maka ada soto di depan Pasar Nagari Pandai Sikek.

Kami lalu bergegas siap menikmati soto padang. Warung soto penuh orang-orang
yang mungkin datang untuk hari pasar. Di depan warung beberapa turis asing turun
mobil untuk sekadar mengambil foto. Dimeja ada penganan seperti apem, yang
tanyakan disebutkan namanya pinokuik, logat  Minangnya panekuk.

Sotonya memang lezat, ditambah kerupuk kulit. Dunia yang sempat terasa redup
karena rasa lapar, kembali terang.

Namun, hujan lebat menyambut menjelang  Bukittinggi. Deretan toko "kerupuk
sanjai" kami  lewati. Tak seorang pun dari kami bisa menebak mengapa keripik
singkong itu disebut kerupuk.

Dalam hujan kami berputar-putar di Bukittinggi. Bahkan dalam hujan pun kota itu
masih tetap cantik, dengan hamparan pemandangan yang menyejukkan mata.

Pasar yang jadi tujuan orang yang gemar belanja di Bukittinggi kami lewati saja.
Kami mampir di sebuah toko bordir, yang sayangnya tidak punya seorang Tafsinar.
Lalu mobil mengarah kembali ke Padang.

Hujan mereda selepas Bukittinggi. Matahari sore tertutup awan. Kabut melayang
turun perlahan di Gunung Singgalang. Kami melaju melewati bofet-bofet sate, yang
dari bentuknya bisa diduga adalah warung sate.

Satu perhentian lagi sebelum Padang Panjang. Bika Mariana, begitu tertulis di
sebuah warung panjang di pinggir jalan. Dalam cuaca sejuk sore itu, penganan
campuran tepung dan kelapa yang manis-gurih, dimasak dalam cetakan kuali 
dengan  api bawah dan atas serta disantap hangat-hangat  itu jadi penutup
perjalanan yang sedap.

Lain kali kunjungan ke Sumatera Barat, kami mungkin akan ke tempat-tempat
peninggalan Adityawarman, atau mungkin mencari kerang di Pulau Sirandah.
Sumatera Barat memang tidak hanya Ngarai Sianok. (diah marsidi)




http:\\www.kompas.com/kompas-cetak/0101/29/LATAR/wisa16.htm

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke