Kompas :Naper

BERTANYA tentang masyarakat Minangkabau pada AA Navis, ternyata mendapatkan
jawaban sangat menarik bahkan menggelitik. Pengarang Radhar Panca Dahana dan
dosen sekaligus peneliti bahasa dan sastra Indonesia asal Kanada, Prof
Michael Bodden, sampai betah duduk berlama-lama-hampir sekitar empat jam saat
dijamu pengarang Robohnya Surau Kami tersebut makan malam di sebuah restoran,
Minggu (29/7) di Padang.Barangkali bila restoran tersebut tidak tutup,
pengarang yang kini berusia 77 tahun dengan buku terbarunya Kabut dari Negeri
Si Dali
tersebut akan terus bercerita dan meladeni pertanyaan dua tamu tadi.
"Saya ini oleh banyak orang diibaratkan supermarket. Apa pun yang ditanyakan,
berharap jawaban pasti. Meski saya seorang pengarang, saya tetap memberikan
jawaban apa adanya, sesuai logika, pengalaman, kajian, dan hasil bacaan,"
katanya.Navis sendiri mengaku tertarik dan kemudian bangga menjadi orang
Minang setelah ia sering didatangi dan ditanya para antropolog asing sejak
tahun 1970-an. "Mau tak mau," ujarnya, "saya harus menggali dan melakukan
kajian sendiri tentang apa dan bagaimana Minangkabau itu"."Keterlaluan kalau
ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan.
Dan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia
(galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit
maunya di atas, terkurung maunya di luar)," tambah Navis. (nal)



� �
� �

Kirim email ke