`Kelas` dalam Penjara Indonesia
Tidak Kuat Bayar, Harus Siap Turun Blok
Media Indonesia - Politik dan Keamanan (09/08/2001 00:18 WIB)


SEORANG pemuda keluar dari kamar mandi menenteng ember penuh cucian pakaian. Kemudian, dia menjemurnya pada tembok dan pagar di sekitar kamar mandi tadi. Padahal, beberapa pemuda lainnya asyik main gitar dan bernyanyi. Sang pemuda tidak terusik dengan ingar-bingar tersebut.

Peristiwa itu terjadi Jumat siang pekan lalu seusai salat Jumat di depan Blok 2 Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Sebut saja pemuda tadi Anto (bukan nama sebenarnya). Dia narapidana (napi) kasus narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba) yang telah dua tahun lebih mendekam di balik jeruji LP tersebut. Dari lima tahun hukuman yang harus dijalaninya, selama berada di LP itu, tak seorang pun kerabat dan keluarganya yang menengok. Sehingga, untuk menutupi kebutuhan hidupnya, dia jadi tukang cuci dan setrika bagi sesama napi.

Golongan napi pekerja ini sering disebut `korve`. Selain mencuci, dia juga membersihkan kamar dan memasak untuk napi lain. "Saya lakukan ini untuk menutupi kebutuhan hidup di sini walaupun hanya mendapatkan uang ala kadarnya dan sebungkus rokok," ungkap penghuni Blok 1 LP ini.

Hal serupa juga dialami Edo yang tidak punya sanak keluarga di Jakarta. Untuk mendapatkan uang, dia membersihkan kamar, mencuci, dan menyetrika pakaian sesama napi yang bersedia membayarnya. Untuk itu, dia menerima uang bulanan sekitar Rp 40 ribu dari sesama napi. Uang itu dia kumpulkan sebagai modal usaha. Sekarang dia berjualan kacang goreng dan air mineral saat jam besuk tahanan dari pukul 09.00 sampai 14.00 tiap harinya. "Lumayan, kalau banyak pengunjung, bisa dapat sampai Rp 7.500," ujarnya.

LP Cipinang yang `berkelas`

Kondisi LP Cipinang tak ubahnya hotel dengan kelas-kelas bagi penghuninya. Ada kelas gratis sebagaimana penghuni di Blok 1. Di Blok ini, satu kamar dihuni 15 hingga 30 orang, sehingga mereka harus tidur berdesakan seperti ikan pindang.

Tetapi, itu belum apa-apa. Coba tengok Blok 4 B, yang oleh para penghuni LP ini sering disebut `sel tikus`. Blok ini terdiri dari 30 kamar yang berjeruji dan gelap. Penghuni sel ini adalah napi yang melanggar aturan atau tertangkap basah melakukan kesalahan. Sebagai hukuman tambahan, mereka dijebloskan ke dalam `sel tikus` tadi. Selama di ruang ini, mereka tidak dapat berkeliaran atau menerima kunjungan.

Berbeda halnya dengan Blok 2. Fasilitas yang tersedia di blok ini lebih baik. Tetapi, untuk menghuni blok ini napi harus merogoh sakunya Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu sebagai pelicin bagi penjaga LP. Satu kamar berempat. "Uang itu sebagai sewa kamar selama menjalani hukuman hingga bebas," tutur Riki, seorang napi kasus narkoba.

Sedangkan Jono --narapidana narkoba lain yang belum genap setahun menjadi penghuni LP Cipinang-- semula memilih tinggal di Blok 3. Untuk itu, dia meloloskan lebih Rp 1,5 juta untuk dapat menempati kamar di blok ini, ditambah dengan iuran-iuran dan uang tips yang harus dikeluarkannya setiap hari hingga Rp 50 ribu. Mengaku tidak kuat mengeluarkan dana itu setiap hari, Jono lalu pindah ke Blok 2. "Pusing saya, setiap hari harus setoran. Oleh karena itu, pindah ke Blok 2 yang lebih murah," tuturnya, mengisahkan pengalamannya menjadi sapi perahan di LP tersebut.

Kalau Blok 1, 2, dan 3 itu kelas bagi orang kebanyakan, Blok 4A sebaliknya. Di sana keadaan kamar lebih mewah dan `wah`. Biasanya satu kamar diisi satu orang, atau paling banyak dua orang. Mereka yang tinggal di blok ini harus berkantong tebal, seperti Ricardo Gelael dan warga negara asing (WNA) asal Nigeria dan Kuba yang terkait kasus narkoba.

Untuk menempati blok 4A ini, mereka memberikan dana mulai Rp 4 juta hingga Rp 12 juta pada petugas LP. Kamar pada blok ini dapat dilengkapi peralatan elektronik, seperti TV, video compact disc (VCD), dan kulkas. Tempat tidurnya berkasur busa dan springbed.

Di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, menurut penelusuran Media, keadaan seperti ini pun berlaku. Kelas `VIP` di sini biasanya ada di Blok A. Untuk menempati kelas 2 saja di Blok B, seseorang harus membayar Rp 3 juta di muka dan iuran Rp 300 ribu setiap bulannya.

Turun kelas sampai sodomi

Tak jarang, karena banyaknya upeti yang harus dibayarkan tadi, mereka yang menempati kelas `VIP` itu akhirnya harus rela berganti kelas, alias tidak lagi menempati kamar luks yang serbamewah. Salah satu yang disebut-sebut mesti mengalami nasib semacam ini adalah pelawak kawakan Doyok Sudarmadji. Di LP Tangerang, Doyok bahkan sempat turun blok (istilah untuk menggambarkan tahanan di situ yang sudah tidak kuat membayar upeti kepada kepala kamar).

Salim (bukan nama sebenarnya) yang sempat menjadi kepala kamar di LP Tangerang selama 1,5 tahun bercerita, pelawak ceking itu kewalahan mengatur keuangannya untuk setor Rp 100 ribu/hari kepada kepala kamar.

Kondisi ini tidak berbeda dengan yang pernah dialami Yenni Rosa Damayanti. Aktivis prodemokrasi (prodem) yang pernah mendekam di Rutan Perempuan, Pondok Bambu, Jakarta Timur, itu menuturkan, sebenarnya tidak ada pembagian secara resmi mengenai kelas atau blok para napi. Secara umum dapat diketahui bahwa salah satu ciri kelas elite, dari banyaknya yang membesuk. Sehingga, secara otomatis sang penghuni harus sering memberikan sogokan atau upeti kepada petugas penjaga penjara (sipir) atau para napi yang disegani (voorman) untuk dapat masuk dalam kelompok kelas elite itu.

Sedangkan kelas bawah dihuni orang yang terbilang jarang dibesuk. Tak jarang, karena perlakuan yang semena-mena dari para sipir ataupun kepala kamar, beberapa orang yang termasuk dalam kelas bawah ini berlomba-lomba agar bisa `naik kelas`. Sampai-sampai, para penghuni pria yang biasanya masih di bawah umur itu ada yang melacurkan diri dan menjadi `piaraan` para kepala kamar.

"Yang paling memilukan adalah praktik kekerasan seksual yang dialami para penghuni tahanan pria di bawah umur di rutan ini. Sodomi menjadi momok yang menakutkan karena dilakukan bukan oleh petugas penjara, tapi oleh sesama tahanan," tutur Yenni. Itu salah satu alasan yang membuat banyak tahanan di sana nekat kabur. Mereka bukan takut menjalani sisa tahanannya, tetapi takut disodomi kawannya sendiri.

Keadaan yang sama juga terjadi di LP Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan, di LP ini untuk mendapatkan sel yang lebih bagus, seorang calon penghuninya sudah memesan terlebih dulu kepada petugas-petugas LP tersebut. ``Untuk itu, mereka harus merogoh sakunya antara Rp 450 ribu hingga Rp 1 juta,`` kata seorang petugas LP Medaeng yang enggan disebutkan jati dirinya.

Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan biologis, di LP Medaeng ini seorang napi bisa bekerja sama dengan petugas jaga LP. ``Yang penting bisa ngasih duit cukup, istri atau cewek simpanan hingga cewek panggilan bisa didatangkan ke dalam LP,`` ujarnya lebih lanjut. (Dif/NX/FP/FL/T-3)


http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2001080900182266



Kirim email ke