Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
22 Agustus 2001
Biografi Achmad Husein Diluncurkan
Saatnya Sejarah PRRI Diluruskan

PADANG -- Biografi Kolonel Achmad Husein, tadi malam diluncurkan di Hotel Bumi Minang Padang. Almarhum adalah tokoh penting dalam peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) 1958 silam. PRRI, merupakan turning poin (titik balik) bagi nama harum Minangkabau di pentas nasional.

"PRRI bukan pemberontakan, tapi koreksian terhadap sikap Soekarno, cuma saja, Jakarta memandangnya sebagai pemberontakan dan kami diserbu habis-habisan," kata Ketua DHD 45 Sumbar, Djamaris Junus kepada Repulika, di Padang, kemarin. Menurut dia, teramat banyak sejarah yang sengaja dibengkokan oleh pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, salah satunya menimbulkan persepsi negatif terhadap PRRI.

Pemahaman sejarah yang berkembang selama 40 tahun, PRRI merupakan perlawanan bersenjata dari Ranah Minang untuk membentuk negara sendiri. Padahal, PRRI tidak lain dari koreksian yang jantan terhadap Soekarno yang mengakomodasi masuknya faham komunis.

Jakarta dinilai tidak konsisten dengan keinginan mayoritas rakyat, terutama sejak mundurnya Hatta dari jabatan Wakil Presiden. Lantas dengan serta-merta Nasution mengirim pasukannya ke Padang. Padahal, kata Djamaris, jika dibaca baik-baik isi dan tujuan PRRI, persis sama dengan apa yang diprogram pemerintah Orde Baru untuk membangun Indonesia.

"Tak ada yang salah," katanya. Karena itu, bekas anak buah Husen yang ribuan jumlahnya, tidak bisa menerima jika PRRI disebut pemberontakan. Dalam proklamasi PRRI, memang disebutkan, sebuah pemerintahan baru, tapi tetap mengacu pada negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sikap ini diambil, karena mereka melihat Soekarno sudah mulai condong ke kiri, setidaknya memberi angin pada Aidit dkk.

Mestika Zed dan Hasril Chaniago, dua orang yang menulis biografi Achmad Husein menuturkan, tokoh tersebut, tidak punya jiwa pemberontak. Ia kemudian memikul beban berat karena oleh Jakarta dicap sebagai pemberontak.

Buku berjudul Perlawanan Seorang Pejuang; Biografi Kolonel Achmad Husein, merupakan buku babon dari Peristiwa PRRI, sekaligus merupakan pernyataan sikap Husein yang menyatakan, PPRI bukan pemberontakan. Pernyataan serupa sudah difahami secara luas oleh orang Sumbar sejak awal peristiwa itu terjadi.

Menurut Hasil Chaniago, Achmad Husein adalah seorang prajurit TNI yang tidak mau melihat ketidak-konsistenan pimpinannya. Sikap ini, makin kuat tatkala terbentuknya Dewan Banteng. Malah, ketika Dewan Banteng ikut membangun Sumatera Tengah, provinsi itu sangatlah maju. "Semua orang Minang, adalah PRRI," katanya. Jika ada yang tidak, merupakan pengecualian yang mesti didiskusikan lagi. Karena itu, Hasril melihat, sekaranglah saatnya sejarah PRRI diluruskan. Bukan oleh para pelakunya, tapi oleh pemerintah. Dengan demikian persepsi sejarah yang salah selama 40 tahun, bisa diluruskan kembali.

Pelurusan itu, dinilainya sangat penting, karena apa yang selama ini diajarkan di sekolah dan difahami bersama oleh bangsa Indonesia, adalah sesuatu yang salah.

Dalam acara peluncuran buku itu, tampil Fachry Ali sebagai pembicara kunci. Orang ini, cukup memahami persoalan dan sejarah Minangkabau kontemporer, terutama menyangkut PDRI dan PRRI. rul



Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=41275&kat_id=61

Kirim email ke