Assalamu'alaikum wr.wb.,

Engku Gubernur yth,

Semoga engku senantiasa mendapat kemudahan dari Allah SWT dalam mengurus negari ini. Sebelumnya perlu ambo jelaskan nan bahasa ambo memberanikan diri mengirim surat ini semata-mata dalam rangka 'tawaashaubil haq – tawaashaubish shabr', saling mengingatkan tentang yang haq – saling mengingatkan tentang kesabaran.

Engku Gubernur yang terhormat,

Banyak benar kedengaran yang ganjil-ganjil terjadi belakangan ini di Ranah Minang, yang sebagian besar mungkin dikarenakan kemajuan jaman jua. Bersua betul nan bak pantun:

Tanah liek bakapiek
Alun ditimpo lah badarai
Nan alun diliek lah diliek
Nagari batambah sansai

Tergijau rasanya hati mendengar berita yang mengatakan nan bahasa Bukiktinggi alah menjadi kota maksiat, dek karena nampak dimata orang banyak kurenah anak-anak muda yang sudah tidak berpatutan. Tergijau rasanya hati mendengar berita bahwa miniatur kampung Minang di Padangpanjang dijadikan orang tempat berbuat yang tidak-tidak nyaris secara berterang-terang. Begitu juga yang terjadi di pantai Padang, di Maninjau, di Singkarak dsb.

Iya hiba hati mengagakinya. Sudah jauh berubah kini nagari yang bermotto 'adat bersandi syarak – syarak bersandi kitabullah' ini. Rasanya tidaklah kurang-kurang juga para buya menghimbau dari mimbar-mimbar mesjid. Entah dari Mesjid Raya nan di Padang, di Bukiktinggi, di Payakumbuah. Namun apalah hendak dikata, serupa kerja menahan hempasan ombak pantai Padang, sekicit demi sekicit habis juga dihondongnya akhlak anak negeri. Kalaulah berterusan yang macam ini, alamat karam Ranah Minang, jangankan nak disebut negari 'adat bersendi syarak – syarak bersendi kitabullah' entahkan hilang Minang dari bumi.

Engku Gubernur yang terhormat,

Ada yang ambo takutkan engku Gubernur, yaitu nan bahasa engku pun akan bertanggung jawab di muka pengadilan  Allah kelak atas segala kejadian yang merusak akhlak anak negari tadi itu dikarenakan engku adalah yang diberi amanah untuk mengurus negari. Sesuai dengan sebuah hadits Rasulullah SAW nan berbunyi; "Kullukum ra'i, kullu ra'i mas ulun 'an ra'iyatihi……." Setiap kamu adalah pengurus, setiap pengurus itu akan diminta tanggung jawabnya tentang apa yang diurusnya…. Dimulai dari yang paling bawah, bahkan seorang pembantupun adalah pengurus (atas harta majikannya) dan dia akan diminta tanggung jawab atas yang diurusnya itu. Apatah lagi engku Gubernur sebagai pengurus negari tentu juga akan ditanya tentang dengan cara apa engku mengurus negari itu, kalau sampai terjadi yang tidak-tidak dikalangan anak negari.

Oleh karena itu engku Gubernur ambo ingin nak mengusul. Engku Gubernur adalah seorang Umara, seorang pemimpin, seseorang yang lebih didengarkan anak negari. Alangkah akan baiknya seandainya engku yang adalah Umara itu dapat pula bertindak sebagai seorang da'i, sebagai seorang penyeru, seorang penyampai untuk masyarakat banyak. Akan jauh gaungnya seandainya engku yang menyampaikan kepada anak negari untuk memperbaiki laku perangainya, agar berakhlaqul karimah, berakhlak yang baik, yang tahu di elok dengan patut, tau di raso jo pareso, tau di sopan dengan santun. Insya Allah akan lebih didengar oleh orang banyak, lebih dibandingkan dengan seruan yang sudah disampaikan jua oleh para ustad atau buya-buya kita di masjid-masjid.
Seandainya engku Gubernur dapat mengkhutbahkan kepada orang banyak, serta menugaskan pula kepada pegawai-pegawai engku untuk bertindak meluruskan yang salah dikalangan laku perbuatan anak negari itu, mudah-mudahan lebih cepat terpintas yang hanyut, lebih cepat tersilami yang karam. Kalau sudah engku mulai, tentu boleh pula ditiru oleh Umara-umara dibawah engku, seperti bupati, walikota, sampai ke camat, ke walinegari.

Tentulah tidak akan sulit bagi engku meminta tolong dibuatkan kepada pembantu engku pidato atau khutbah untuk engku sampaikan sendiri kepada anak negari. Besar benar keyakinan ambo nan bahasa dengan cara seperti itu dapat diperbaiki laku perangai anak negari yang sumbang salah selama ini. Dan bolehlah ambo sampaikan pula nan bahasa yang seperti itu akan jadi amal perbuatan saleh dari engku, nan akan menjadi jawaban yang mudah-mudahan diterima Allah kelak pada saat kepada engku diminta pertanggung jawaban atas apa-apa yang engku urus. Besar keyakinan ambo dengan demikian Ranah Minang insya Allah akan menjadi negari yang 'baldatun – thayyibatun wa rabbun ghafur', anak negari menjadi hamba-hamba Allah yang mendapat bimbingan, petunjuk serta ridha Allah SWT.

Begitulah engku Gubernur, terlebih terkurangnya ambo mintak maaf.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Marah Sutan

Kirim email ke