Ambo ado kisah menarik mengenai seorang da'i yg aktif
berdakwah dan berhasil melawan kristenisasi di daerah
Pesisir selatan.
ternyata beliau ini bukanlah urang awak , namun
seorang santri yg gagah berani dari Jawa Timur.
Sungguh memalukan urang awak ndak bisa berbuat banyak
melawan kristenisasi, akhirnya datanglah pahlawan dari
Jawa Timur, yg tadinya datang ke Sumbar karena
menganggap Sumbar adalah daerah yg kuat keislamannya.
kisah nyata iko ambo dapek kan dari majalah
Hidayatullah. mari kita simak ceritanya ;
Pejuang Syari'at Islam dari Pesisir Selatan- Sumbar
Berbekal ilmu dari pesantren, ustadz Muhammad Nanang
Abdullah menegakkan syariat Islam di daerah-daerah
rawan Kristenisasi di Sumatera Barat.
Utusan guru negeri se-Kecamatan Lunang Silaut (Lusi)
peserta dialog dengan MUI itu lama termenung setelah
mendengarkan da'wah Pak Nang, panggilan akrab ustadz
M. Nanang Abdullah. "Bangsa ini sedang menuju jurang
kehancuran, akibat meniggalkan hukum Islam. Tak ada
yang mampu menyelamatkan kapal yang hampir karam ini,
kecuali dengan menerapkan hukum Allah." kata Pak Nang.
"Hukum Allah adalah alternatif terbaik menjawab
persoalan bangsa ini," tambah Nang kepada Sahid.
M. Nanang Abdullah, memang sosok yang tak asing lagi
bagi warga Kecamatan yang terletak paling Selatan dari
Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.
Sebagai da'i yang petani, ustadz. Nang tidak hanya
diterima dan akrab dengan ummat kalangan bawah yang
sedang mencangkul di sawah, tetapi di level atas,
seperti Pak Camat, Kepala Sekolah dan di kalangan
guru-guru negeri, ustadz Nanang juga tidak kalah
akrabnya. Karena itu, tidaklah mengherankan betapa
lancarnya ustadz Nanang menebarkan wacana tentang
mendesaknya pemberlakuan Syari'at Islam di hadapan
para guru negeri.
Bahkan pada saat hukum (syari'at) Islam masih
ditanggapi secara pro dan kontra oleh elit Islam di
Minang sendiri, ustadz Nanang telah mengambil
inisiatif maju dan masuk ke berbagai level dan audien
mengkampanyekannya. Bagi ustadz Nanang, tak ada
istilah klendestin, basa-basi, apa lagi takut-takut
dalam memperjuangkan tegaknya hukum Allah di muka bumi
ini. "Sejak berangkat meninggalkan tanah kelahiran
awal Januari 1982, menebar da'wah inilah tujuan utama
saya," ujar lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 6
Desember 1957 ini.
Bukan Faktor Ekonomi
Da'wah bagi ustadz Nanang merupakan pilihan hidup.
Karenanya, meski pada saat itu dia masih berstatus
sebagai pengantin baru, ia bertekad kuat ingin
mengamalkan ilmunya yang diperoleh dari Pondok
Pesantren Salafiah Miftahul 'Ulum, Pasuruan Jatim.
Nanang pun kemudian memilih lahan "Kritis da'wah" ke
UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) Silaut I (kini desa
Talang Sari) Kabupaten Selatan Sumbar. Ia berangkat ke
sana dengan ditemani istrinya, Siti Nurasiah. Lokasi
trans itu sendiri berlahan gambut dan sangat tidak
subur. Terletak di perbatasan Subar-Bengkulu dengan
jarak 345 KM dari kota Padang.
Pada mulanya keinginan da'wah di daerah transmigrasi
mendapat tantangan dari orang orang dekatnya. Mereka
berkata, "Kenapa tidak melamar sebagai pegawai negeri
saja. Siapa yang akan mengurus lahan pertanian kita,"
kenang Nanang menirukan keberatan orang tuanya. Di
kampung halamannya, Nanang diberi lahan oleh kedua
orang tuanya untuk diurus. Akan tetapi, pilihan da'wah
bagi Nanang sudah bulat. Akhirnya setelah lebih dulu
memberi penjelasan seperlunya, pasangan pengantin baru
Nanang Abdulah dan Siti Nurasiah malah diantar oleh
mertua dan orang tuanya ke kabupaten dengan doa dan
tangis haru.
Selama dalam perjalanan menyeberangi Selat Sunda
dengan kapal fery, Nanang melakukan sholat tahajud. Ia
berdoa kepada Allah agar yang ditinggal diberi
keikhlasan dan dia dimudahkan urusannya. Setelah itu,
Alhamdulillah, hati Nanang benar-benar merasa plong.
Tak terngiang lagi isak-tangis sanak saudara yang
mengantar ke kabupaten. Yang terbayang oleh Nanang
malam itu hanyalah; tanah Minang yang subur dan
terkenal amat kental keislaman warganya. "Ini berarti
saya hijrah ke kampung sendiri, dan misi da'wah akan
berjalan lempang," batin Nanang.
Ternyata, ketika sampai di kota Padang dan terus ke
Pesisir Selatan, kondisi keislaman penduduk di negeri
'gudang ulama' ini, tidaklah seperti yang dibayangkan
Nanang. Negeri yang pernah melahirkan Buya Hamka dan
Pak Natsir ini ternyata tak jauh berbeda dengan
kota-kota di Jawa. Gadis-gadis berkaos ketat,
diskotik, narkoba, bahkan judi toto gelap (togel),
sudah merambah ke pelosok desa. " Padahal waktu di
Miftahul 'Ulum, nama Buya Hamka dan Pak Natsir itu
sangat terkenal. Saya membayangkan tanah asal beliau
alah negeri dengan masyarkatnya yang melaksanakan
Syari'at Islam," kenang Nanang Abdullah.
Melawan Kristenisasi
Yang lebih memprihatinkan bagi ayah tiga anak ini, di
atas lahan yang kritis alias tidak subur, ternyata di
daerah-daerah trans di Sumatera Barat sangat subur
Kristenisasi. Seperti yang terjadi di UPT Lunang I,
pemeluk Kristen melakukan berbagai cara mendirikan
rumah ibadah di tengah perkampungan Muslim. Mereka
melakukan akal-akalan dengan cara memalsukan KTP
mereka, sehingga pemerintah daerah percaya jemaat
mereka banyak, dan layak mendirikan rumah ibadah.
Tentu saja perbuatan tersebut membuat warga marah.
Akan tetapi mereka tetap membandel. Tidak sebatas itu,
mereka juga bermaksud unjuk kekuatan mereka
mendatangkan jemaat dari Pasaman Barat, Sijunjung, dan
Padang. Bahkan 'juru bicaranya' didatangkan dari
Jakarta lengkap dengan pengawal bersenjata. "Rencana
unjuk kekuatan mereka di UPT Lunang I (Tanjung
Beringin) tersebut nyaris dianggap lumrah saja oleh
penguasa lokal. Entah bagaimana lobinya, anggota PKK
Desa bahkan sampai dilibatkan dalam masak-memasak
persiapan pesta. Dengan seragam resmi PKK lagi,"
kenang ustadz Nanang.
Sebenarnya unjuk kekuatan itu berkaitan dengan sukses
Nanang melaksanakan acara Tabligh Akbar dalam rangka
memeperingati Maulid Nabi Saw, awal bulan. Selam
berapa waktu Mauludan selesai, tiba-tiba saja beberapa
tokoh masyarakat UPT Lunang I (sekarang desa Tanjung
Beringin), datang menggedor rumah Nanang. "Pak
Nang..., Pak Nang. Bahaya! Mereka besok akan unjuk
kekuatan. Rombongan pendeta dari Padang dan Jakarta
sudah datang. Pak Nanang jangan diam saja!," teriak
tokoh warga Lunang I, berjarak 18 km dari Talang Sari.
Situasi UPT Lunang I saat itu terasa panas.
Tokoh masyarakat tadi menambahkan, "Unjuk kekuatan
mereka harus kita lawan dengan unjuk kekuatan pula!
Kita harus kembali mengadakan Tabligh Akbar
memperingati Maulid dan Pak Nang harus tampil sebagai
pembicara tunggal." desaknya sambil mengatakan bahwa
harapan itu merupakan hasil kesepakatan dalam rapat
mendadak tokoh masyarakat malam itu.
Sekalipun serba mendadak, masyarakat dapat
dikumpulkan. Nanang ditemani tokoh masyarakat
mengundang warga dengan mengayuh sepeda mendatangi
penduduk dari rumah ke rumah.
Sebenarnya Nanang masih sangat lelah, akan tetapi
dalam pandangannya, inilah saat yang menentukan
kewibawaan Islam. Agar mereka tidak seenaknya
menginjak-injak martabat kaum miskin, apalagi
membelokkannya ke dalam agamanya.
Maka meskipun ada yang memperingatkan agar dia tidak
bicara terlalu keras karena rombongan orang asing dari
Jakarta ada yang membawa senjata, ustadz Nanang seakan
tidak mempedulikannya. Dengan pengeras suara hanya
bertenaga accu yang diarahkan kepada kelompok massa di
seberang parit kecil, Ustadz Nanang pun bersuara
lantang. "Jangan menantang-nantang. Dalam hitungan
kelima kalian tidak juga bubar, tanggung sendiri
akibatnya. Allahu Akbar!," teriak ustadz Nanang. Maka,
dimulailah hitungan yang diikuti peserta tabligh itu.
Pada hitungan ketiga, suasana makin tegang karena
massa di seberang parit yang jumlahnya lebih banyak,
malah melangkah mendekati. Dengan berpijak diatas
kursi kayu, ustadz Nanang kembali memperingatkan.
"Saudara-saudaraku, ternyata mereka menantang kita.
Bersiaplah berjihad fii sabililah, jangan mundur
selangkah pun. Yaa Allah, saksikanlah betapa kami
sudah siap mati demi membela agama-Mu." ustadz Nanang
terus menghitung.
Menurut ustadz Nanang, pada hitungan kelima, tiba-tiba
saja ada seruan 'ayo kita pulang' dari pembicara di
seberang parit. Mereka bubar dengan menaiki bus
carteran menuju Padang.
"Masak hanya tiga kepala keluarga yang Kristen, mereka
melakukan pesta besar-besaran di sini. Itu namanya
nantang!" ungkap ustadz Nanang.
Kini di lokasi 'perang' itu, ustadz Nanang bersama
kawan-kawan mendirikan Pondok Pesantren Darul 'Ulum
pada tanggal 28 Mei 1985 dan kini memiliki santri
tingkat diniyah dan tsanawiyah sebanyak 400 orang.
Hingga saat ini pesantren tersebut merupakan ponpes
satu-satunya di Kabupaten Pesisir Selatan.
Perjuangan lain yang dilakukan ustadz Nanang dan
kawan-kawan adalah mendirikan bangunan masjid dan
mushalla. Mushalla atau masjid itu dibangun meski
dengan bentuk yang sederhana. Tujuannya agar jamaah
ada tempat untuk berkumpul. Pasalnya, amat sulit
berda'wah dari rumah ke rumah karena mayoritas warga
adalah petani yang bekerja di ladang. "Alhamdulillah,
kini 15 desa sudah punya mushalla dan 8 mesjid.
Kendati masih banyak mushalla yang hanya beratap
ilalang," ungkapnya.
Lunang nan Tenang dan Ketua MUI
Kecamatan Lunang Silaut yang kini terdiri dari 15 desa
dan empat UPT, semula adalah kawasan pemukinan
transmigrasi terbesar di Sumatera Barat. Namun di saat
di banyak UPT di daerah lain terjadi kerusuhan, bahkan
pembunuhan dan pengusiran, ada yang pantas direnungkan
dari bumi Lunang. Di sini tidak pernah terjadi konflik
horizontal antara penduduk asli dan pendatang. Kenapa?
"Karena ada satu perekat yang telah teruji
keampuhannya di sini. yakni Islam. Hanya Islam yang
mempersatukan kami dan mendatangkan kedamaian di
sini," tutur ustadz Nanang.
Realitasnya memang antara penduduk asli di desa Rantau
Ketaka dan Desa Lunang dengan penduduk 8 UPT yang
telah menjadi desa mandiri, tidak pernah terjadi
konflik. Ustadz Nanang mengakui wirid pengajian dengan
sistem julo-julo (arisan-red), sangat ampuh untuk
merekat silaturrahmi. Caranya, wirid mingguan setiap
Jumat malam, digilir antar desa. "Bila Jumat malam
minggu ini di desa Talang Sari, maka Jumat malam
minggu berikutnya di desa Rantau Kataka, dan begitu
seterusnya. Jadi ummat antar desa sering bertemu di
masjid. Dengan demikian setiap persoalan yang mungkin
timbul bisa cepat diantisipasi," kata Ketua MUI ini.
Yang menjadi biang keributan di desa-desa eks
pemukiman tranmigrasi maupun UPT-UPT di Sumbar selama
ini hanyalah Kristenisasi. Kerusuhan terbatas yang
sempat meletup di Kabupaten Pasaman dan Sijunjung
berbuntut dengan terjadinya pembakaran rumah, tak
lebih karena ada pemaksaan dan strategi terselubung
untuk menjadikan rumah tersebut sebagai gereja,
sementara penduduk asli dan pendatang di sekitarnya
mayoritas memeluk agama Islam.
'Mujahid perintis' memang sebutan yang pas buat ustadz
Nanang. Selain merintis pembangunan rumah ibadah, dia
juga merintis Jum'atan pertama di UPT-UPT baru. Di UPT
Lunang III tiga tahun silam misalnya, ustadz Nanang
menghimpun jamaah lalu menjadi muadzin dan khotib
Sholat Jumat pertama. "Sederhana sekali kondisinya
saat itu, mimbar Khotib Jumat hanya kursi tempat
berdiri yang dinaungi jalinan daun kelapa. Sekarang di
lokasi itu telah berdiri masjid Miftahul 'Ulum. Di
sinilah dipusatkan tabligh akbar satu kali sebulan
yang diikuti majelis ta'lim dari 15 desa dan 4 UPT.
Sedangkan wirid mingguan dilaksanakan di desa
masing-masing," jelas ayah Siti Nurasiah Abdullah yang
kini disantrikan di Pesantren Gontor Ponorogo Jatim,
Dewi Salmazahrah Abdullah di Mifthul 'Ulum Pasuruan
dan putra semata wayang, Wahyudil Luthfi Abdullah
melanjutkan ke Ponpes Tebu Ireng Jombang ini.
Tak ada tritorial tertentu dalam lahan dakwah garapan
ustazd Nanang. Tidak saja desa-desa eks UPT, bahkan
pemukiman transmigrasi baru hingga ke UPT Silaut III
dan UPT Silaut IV yang berjarak 75 km dari Talang
Sari, tak luput dari garapannya. "Konsentrasi kita ke
UPT-UPT baru malah lebih besar karena misionaris
Kristen sedang gencar-gencarnya ke sana," kata ustadz
Nanang. Untuk sampai ke Silaut III dan IV, usai sholat
subuh Nanang sudah berangkat dengan mengayuh sepeda ke
perempatan jalan sejauh 3 km dari rumahnya. Pada
sebuah bengkel sepeda di simpang Lunang itu Pak Nang
sudah 'langganan' menitipkan sepeda. Barulah
perjalanan dilanjutkan lagi dengan kendaraan ringsek
duduk menyamping, orang Padang menyebutnya kendaraan
cigak barauak. Jalan UPT yang diliwati penuh lobang,
bahkan tidak jarang ustadz Nanang harus bermalam di
UPT karena jalan putus. Begitulah aktivitas perjalanan
da'wah ustadz Nanang yang pada awal Januari 2001
mendapat amanah sebagai Ketua Majelis Ulama (MUI)
Kecamatan Lusi ini.� (dodi nurja)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email alerts & NEW webcam video instant messaging with Yahoo! Messenger
http://im.yahoo.com
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================