Assalamu'alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakatuh
Untuak panambah hangek diskusi di balerong ko, ambo fwd kan email
dari milist kawan2 di Inggirih.
Utk sanak2 nan sadang diskusi, mungkin paralu dijago caro maota awak
karano awak nan duduak disiko pun bacampua, bukan hanyo beda suku (mis.
ado mando awak Kang Hendra) tetapi mungkin juo ado dunsanak awak nan
beda agamo. Antah kok indak?
walahu'alam,
Salam
Gindo,---
---------- Forwarded message ----------
Date: Fri, 24 Aug 2001 00:04:23 +0800
From: Hamid F Zarkasyi
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [kibar] Stop Kristenisasi! Islamisasi?
Ass wr wb
Forward ini bagi saya menarik, khususnya karena saya kenal beliau, dan saya
tahu ketika beliau berada di Gontor (pada tahun 70-an) tingkah laku, sikap
dan pergaulannya persis seperti santri lain Roos Stacy dari Australi, atau
Onishi dari Jepang yang sudah Muslim, hanya saja kata Kyai Zarkasyi dia itu
(pemahamannya) sudah Islam tapi belum syahadat alias belum mendapat
petunjuk. Bukunya Pesantren, Madrasah dan Sekolah banyak mendapat masukan
dari diskusinya dg Kyai Zarkasyi. Dan saya melihat dia menulis berdasarkan
fakta ttg Islam yang diperoleh dan sejauh ini masih obyektif. Meskipun dia
seorang Katolik tapi selama di Gontor dia mengkritik habis bid'ah-2
(heresy) yang ada dalam katolik dan sejak itu dia memang menolak segala
hujatan Kristen terhadap Islam.
Thanks anyway atas forwardnya, kebetulan Ummat edisi 1997 ini saya belum
baca karena saya sedang di Birmingham.
Wassalam,
Hamid Fahmy
-----Original Message-----
From: Aji Hermawan
Sent: Thursday, September 06, 2001 5:33 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [kibar] Stop Kristenisasi! Islamisasi?
Misi Kristen Mengembangkan Hubungan Antar-Agama
Nama Karel Steenbrink akrab di telinga para pemerhati Islam
Indonesia. Pria kelahiran Breda, 55 tahun silam ini dikenal sebagai
pengamat yang objektif, simpatik, dan jujur.
Sikap terpuji alumnus Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Teologi,
Universitas Katolik Nijmegen, ini dapat disimak pada lima bukunya--
sebagian besar membahas sejarah Islam--yang terbit dalam bahasa
Indonesia. Bahkan buku terbarunya, Kawan dalam Pertikaian: Kaum
Kolonial Belanda dan Islam Indonesia (1596-1942), mengejutkan banyak
orang karena kejujurannya membahas prasangka buruk Kristen kepada
Islam di Nusantara.
Kini, peneliti yang pernah nyantri di Pesantren Gontor ini bekerja di
Interuniversitair Instituut voor Missiologie en Oecumenica, sebuah
lembaga penelitian di Universitas Utrecht, Belanda.
Sebelumnya, ia mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1981-
1983) dan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1984).
Menyebut dirinya "Satria Lelana"--lantaran sering berpindah tempat
untuk menimba ilmu--ia bicara panjang tentang cita-cita mutakhir
lembaga misi, kerusuhan sosial, dan kerukunan beragama di
Indonesia. "Kendati ada kerusuhan, saya lihat perkembangannya masih
cukup stabil," katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih kepada Edi
Sudarjat dan fotografer Alfian dari UMMAT. Inilah petikan
wawancaranya, yang dilakukan di Hotel Setiabudi, Jakarta, dua pekan
lalu.
Bisa Anda jelaskan tujuan lembaga misi tempat Anda bekerja?
Sekarang tujuan misiologi adalah mengembangkan hubungan antar-agama.
Sedangkan dulu, misiologi adalah cabang dari teologi Kristen, yang
dikembangkan akhir abad ke-19, dan khusus mengumpulkan
ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan agama Kristen.
Maka, dalam misi, orang harus tahu antropologi. Harus mengenal budaya-
budaya di luar. Ibaratnya, orang yang mau menjual barang harus kenal
pasarnya. Jadi, kalau orang Barat mau "menjual" agamanya,
ya...harus pandai bahasa masyarakat yang dituju, atau mengenal
budayanya. Tak heran bila dalam misiologi sangat diperlukan
antropologi. Boleh dikatakan, antropologi dikembangkan dalam kalangan
misiologi.
Kapan terjadi perubahan tujuan misiologi itu?
Sejak tahun 1960-an, terjadi perubahan drastis, sehingga misiologi
tak berniat menghadapi agama lain secara agresif. Tapi justru ingin
mengembangkan hubungan antar-agama.
Memang, bila diartikan secara negatif, misiologi dulu ingin
menghadapi agama dan budaya lain. Mereka menganggap, budaya lain yang
primitif mesti dimusnahkan oleh gereja Kristen. Ini yang terjadi di
Amerika Latin. Di sana, budaya asli Indian hampir musnah total karena
pendatang Spanyol dan Portugal.
Sekarang, justru kebalikannya. Teologi dan misiologi Kristen membela
habis-habisan budaya asli. Sisa budaya Indian Amerika Latin sangat
dibela tokoh teologi dan gereja Kristen.
Di Indonesia juga demikian?
Benar. Beberapa waktu lalu saya ke Flores dan Timor. Saya langsung
ingat laporan misi internasional mengenai Flores. Laporan itu
mengatakan, jika budaya asli Flores masih ada, itu pasti karena
strategi misi Katolik, yang mengizinkan adat-adat lama boleh hidup
terus dan bercampur dengan ajaran Katolik. Kiranya jelas, misiologi
sekarang sangat berubah. Sekarang justru hendak mewujudkan harmoni
antar-agama dan agama yang toleran, baik ke luar maupun ke dalam.
Menurut Anda, apa yang menyebabkan berubahnya misiologi?
Ada beberapa faktor. Yang pertama adalah unsur akhir zaman kolonial.
Misiologi sebelum tahun 1960-an boleh dibilang bersifat agak
imperialis. Seperti diketahui, imperialis yang terwujud dalam
kolonialisme juga mencakup bidang politik, militer, ekonomi, dan
agama. Ini harus diakui orang Barat.
Adapun ekspansi Katolik dan Protestan, dilakukan sezaman dengan
kolonialisme. Memang benar ada pertentangan internal antara Katolik
dan Protestan. Tetapi, hubungan keemasan dan keuangan pun ada.
Orang Barat akhirnya menolak kolonialisme, karena menilai praktik itu
bukan sistem internasional yang ideal. Nah, seperti kolonialisme
berpengaruh terhadap ekspansi Kristen, berakhirnya
kolonialisme pun punya pengaruh sendiri. Yakni, muncul kritik bahwa
orang Barat harus menghargai agama selain Kristen.
Faktor lain?
Yang kedua adalah adanya perubahan internal dalam agama Kristen.
Agama Kristen, khususnya Katolik--meski ada juga yang Protestan--
sebelumnya hanya mau mengakui aliran sendiri. Katolik bukan
cuma eksklusif terhadap agama lain, tapi juga keras terhadap
Protestan.
Contohnya, anak saya di Belanda. Ia dididik di sekolah Katolik. Di
situ diajarkan jangan membaca koran Protestan dan jangan memilih
partai Protestan. Orang Katolik mesti memilih Serikat Buruh.
Jadi, ada suatu periode orang Katolik menjadi sekte yang tertutup. Di
Belanda, sifat tertutup itu sangat keras. Di seluruh Eropa terjadi
pula. Karena disokong oleh teologi Protestan dan Katolik,
yang saling mau memukul dan saling mengeksklusikan diri.
Waktu itu masing-masing aliran tidak hanya melingkupi agama dalam
arti sempit, tapi juga meliputi partai politik, serikat buruh, dan
koran. Wajarlah bila interaksi antar-Katolik dan Protestan tidak
bebas dan tidak saling menghargai. Baru pada dasawarsa 1960-an muncul
gerakan ekumenis, yang ingin menciptakan saling menghargai secara
internal kelompok Kristen. Bila dapat menghargai variasi
internal di dalam agama sendiri, tentu kita bisa menghargai agama
lain.
Unsur berikutnya?
Unsur ketiga, secara internal, di dalam Kristen dan ideologi Barat,
orang mulai meninggalkan sikap eksklusif. Agama Kristen akhirnya
mengakui, sepanjang abad mereka punya variasi. Lambat-laun, Islam
mulai dilihat sebagai cabang perkembangan agama yang hebat di Timur
Tengah, sebuah wilayah tempat lahirnya tiga agama besar: Islam,
Kristen, dan Yahudi. Orang Barat pun ada yang berpendapat, fitnah
yang pernah terjadi antara Kristen dan Islam mestinya tidak terjadi.
Antara Islam dan Kristen tentu ada titik temu dan ada titik beda.
Kemudian, perbedaan intern di dalam Kristen dan Islam juga ada.
Dengan demikian, apa yang menyebabkan Kristen secara total menolak
Islam, dianggap sebagai kesalahan yang mendasar dalam sejarah Kristen.
Bagaimana Anda menilai terjadinya sejumlah kerusuhan sehingga sarana
ibadah ikut menjadi korban?
Belakangan, saya hanya kadang-kadang datang ke Indonesia, sehingga
saya dapat laporan dari orang luar saja. Memang saya mengamati pers
Islam, saya juga punya hubungan pribadi dengan tokoh Islam.
Tetapi, saya tidak tahu persis peristiwa tersebut.
Namun, saya kira ada tiga penyebab gejolak itu. Pertama, di beberapa
tempat justru mungkin orang Kristen dari aliran tertentu, umumnya
disebut kelompok Injili, yang bertindak agresif.
Bisa Anda jelaskan lebih jauh kelompok Injili itu?
Di Indonesia, Kristen dibagi tiga: Katolik, Protestan (yang bergabung
dengan Persatuan Gereja Indonesia), dan Injili. Kaum Injili lebih
banyak di bawah pengaruh kelompok sempalan yang tidak begitu teratur
dan tidak bergabung dengan PGI.
Biasanya mereka datang dari Amerika. Mereka tak mau mengikuti
perkembangan Kristen secara umum--baik Katolik maupun Dewan Gereja se-
Dunia--yang menyatakan bahwa kewajiban agama Kristen adalah
menghormati agama lain. Sehingga, di beberapa tempat di Indonesia
terjadi penyebaran Kristen secara agresif, yang oleh orang Kristen
sendiri (Katolik dan Protestan) sangat disesalkan. Cukup banyak
juga yang tidak menyetujui sikap mereka. Bahkan, di kalangan Kristen
ada perdebatan panas, kadang saling mengutuk juga, apakah sikap
mereka itu betul-betul perintah Yesus.
Kembali ke soal kerusuhan tadi...
Mengenai kerusuhan, saya kira ada kelompok yang ingin terus
menjalankan misi dengan agresif, atau mungkin memakai metode yang
terus-menerus agresif. Kita lihat contohnya pada iklan besar di
koran-koran Jakarta beberapa waktu lalu, yang mengumumkan 10 hari
lagi, kemudian 9 hari lagi, akan datang waktu yang menggembirakan dan
mengubah hidup Anda.
Memang, kepandaian mereka menggunakan media massa, terutama iklan,
jauh lebih hebat dari orang Kristen di KWI atau PGI. Kadang mereka
menyewa lapangan sepak bola untuk ceramah. Dan di tempat-tempat
terpencil mereka menyebarkan agama yang individual. Sebagian
orang desa yang hidup di perkotaan, justru mendapat agama yang sangat
individual dari Injili.
Sebaliknya, saya lihat juga ada beberapa kelompok Islam yang menjadi
agak eksklusif. Saya agak terkejut, sekarang ada perdebatan di
Indonesia bahwa orang bukan Islam tidak boleh masuk mesjid.
Selama di pesantren Gontor dulu, saya ikut shalat. Baik di mesjid
atau agak di luar mesjid. Malah happy hour saya adalah shalat Magrib
di Gontor. Saya senang sekali duduk di bawah pohon kelapa,
melihat burung yang beterbangan, lalu mendengar Al-Qur'an dengan
tajwid yang indah sekali.
Lagipula, dulu terbukti bahwa Kota Mekah tidak tertutup untuk
Kristen. Malah ada wanita Kristen yang hidup tenang sebagai istri
Nabi di Mekah. Saya pikir, soal misi yang agresif itu paling penting,
kendati tidak menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi sekarang.
Penyebab kedua?
Saya kira ini tidak ada hubungan dengan agama dalam arti sempit, tapi
lebih berhubungan dengan unsur sosial dan ekonomi. Kita lihat,
ekonomi Indonesia berubah cepat. Saya datang hampir tiap tahun dan
keluarga kami tahun 1980-an tinggal di Jakarta.
Kawasan ini dibanding 10 tahun lalu bukan main perubahannya. Tak
hanya fisik, tapi juga mental. Orang Jakarta sekarang jauh lebih
rajin. Semua hal harus cepat-cepat. Dulu bus akan menunggu
penumpangnya naik. Bila kita masih 10 meter dari bus, kita bisa jalan
pelan-pelan ke bus. Sekarang, kalau tidak lari, busnya sudah pergi.
Dengan perubahan tersebut, tentu ada pihak yang menikmati banyak
keuntungan,namun ada pula yang kurang menikmati. Secara fisik,
kenikmatan karena perubahan itu lebih jelas kelihatan. Di Jalan
Sudirman, bangunannya megah. Tapi, kalau kita masuk kampung di
belakang Jalan Sudirman, seolah-olah kita melihat ada dua Indonesia.
Keadaan ini dapat menimbulkan ketegangan. Orang yang kurang beruntung
biasanya akan mencari kambing hitam, bisa dalam segi agama atau
kelompok sosial. Kita lihat, di banyak tempat, dalam kerusuhan tak
hanya terjadi kebakaran gereja atau sekolah milik Kristen atau
Katolik, tapi juga pasar. Saya kira jelas, bahwa di belakang
kerusuhan terdapat unsur mencari kambing hitam.
Contohnya?
Dalam perjalanan ke Flores dan Timor, saya melihat terjadi pembakaran
rumah makan Padang di pasar Larantuka. Lantas ada rumah dan pasar
orang Bugis terbakar di salah satu tempat di Timor, hanya
karena satu orang Bugis mengatakan agama Kristen itu omong kosong.
Kerusuhan ini tidak cuma karena orang Islam pendapatnya eksklusif.
Saya mengira ada alasan sosial, seperti pemerataan sosial ekonomi
yang tidak memadai.
Gejala sosial ini penting. Seperti diuraikan Prof Vredenbregt, ia
melihat orang Yahudi di Eropa kadang-kadang berabad-abad bisa hidup
tenang. Sekonyong-konyong ada kerusuhan, pembunuhan, dan perang
terhadap orang Yahudi. Ini selalu terjadi kalau suasana sosial ekonomi
kurang tenang dan akhirnya orang mencari kambing hitam.
Adakah kemungkinan faktor politik ikut bermain?
Masih diperdebatkan dengan panas di Indonesia dan Barat adanya unsur
politis itu. Seolah ada gejala eskatologi, di akhir zaman mesti ada
kekacauan. Kalau suatu periode berakhir, mesti ada dajal yang
mendalangi kerusuhan. Dan Orde Baru mungkin tidak akan abadi juga.
Kami terusmendengar, tahun 2003 boleh jadi akan menjadi akhir zaman.
Ada yang mengatakan di Indonesia ada dajal yang sedang mencari posisi
kuat. Beberapa dajal mencari kedudukan atau memperkuat posisinya
dengan melemahkan orang lain. Ketika mendengar bahwa gereja
terbakar untuk memukul NU, saya merasa aneh. Ini bagaimana bisa ha..
ha.. ha...
Tapi saya mengerti, ada pihak yang mencari kedudukan yang kuat.
Memang, saya hanya dengar dari analisis orang lain,
karena saya sendiri tidak di Indonesia.
Dengan adanya kerusuhan itu, bagaimana kondisi kerukunan beragama di
Indonesia belakangan ini?
Saya lihat perkembangannya masih cukup stabil. Mari kita
pertimbangkan bahwa Indonesia adalah negara
yang begitu luas dengan keanekaragaman yang begitu besar.
Di Indonesia orang Kristen menjadi mayoritas di beberapa pulau dan
beberapa daerah. Sementara di tempat lain, menjadi minoritas. Mereka
mulai zaman merdeka dengan beberapa keuntungan. Misalnya,
dalam pendidikan yang lebih baik.
Kita lihat surat kabar yang paling tua di Indonesia, ya. milik orang
Katolik. Rumah sakit yang agak terkemuka di Jakarta, St Carolus,
milik orang Katolik, dan RS Cikini, milik orang Protestan. SMP-SMA
yang bagus juga milik mereka.
Dengan begitu, ahli sosiologi Belanda, Wertheim, pernah mengatakan
bahwa keadaan Indonesia memang berbahaya sekali. Karena ada Islam
mayoritas dengan rasa minder, dan ada minoritas Kristen dengan
rasa eksklusif dan lebih kuat. Saya kira analisis itu benar untuk
periode awal, tapi bukan untuk zaman sekarang. Jadi, bahaya itu telah
berlalu.
Mengapa demikian?
Soalnya, saya lihat rasa minder itu pada tahun 1980-an telah hapus
hampir total. Tak ada gejala lagi bahwa orang Islam merasa minder.
Belakangan orang malah bicara mengenai "penghijauan" di Indonesia.
Dulu, dari 43 menteri di kabinet, ada enam orang Kristen atau
Katolik. Berarti mereka mendapat sekitar 15 persen. Padahal, jumlah
orang Kristen di Indonesia belum sampai 10 persen. Jadi, dulu
mereka over represented.
Sebagai minoritas, orang Kristen merasa sangat takut pada apa yang
terjadi di Malaysia, India, dan Vietnam akan terjadi di Indonesia. Di
sana gereja Kristen berada dalam posisi sangat sukar.
Cukup banyak misionaris Katolik yang diusir dari Vietnam datang ke
sini. Mereka tahu bahwa untuk negara yang mayoritas beragama Islam,
kondisi Kristen di Indonesia adalah yang paling baik.
Laporan-laporan luar negri menulis, kebebasan beragama di Indonesia
sudah mendapat nilai A, alias sudah baik. Sehingga, saya kira,
walaupun ada sejumlah kerusuhan, perkembangannya tetap ke arah yang
cukup baik. Tentu, bukan berarti tanpa kesulitan sama sekali.
Wawancara ini diambil dari Majalah Ummat, No. 8 Thn. III, 8 September
1997/6 Jumadil Awal 1418 H.
* Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya (KIBAR) *
* Forum Silaturahmi warga muslim Indonesia di UK *
* Mailing List: [EMAIL PROTECTED] *
* Web Site: http://welcome.to/kibar *
*-----------------------------------------------------*
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
* Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya (KIBAR) *
* Forum Silaturahmi warga muslim Indonesia di UK *
* Mailing List: [EMAIL PROTECTED] *
* Web Site: http://welcome.to/kibar *
*-----------------------------------------------------*
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================