|
Tanpa bermaksud berpolemik, apakah Ahmadiyah adalah
ajaran yang benar atau tidak, saya mengucapkan terima kasih atas informasi dari
Uwan Nadri. Sebagai seorang peneliti, bagi saya informasi ini sangat berguna.
Secara pribadi, saya sendiri mempertanyakan berbagai argumen kalangan Ahmadiyah,
seperti pernah dalam milis Surau@ ini. Sebagai muslim, saya tentu punya
pendirian tersendiri terhadap Islam, dan pendirian itu "bertentangan" dengan
Uwan. Tapi sebagai wacana dialog, ndak masalah saja bagi saya mendiskusikan soal
ini.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
IJP
Message: 1
Date: Mon, 10 Sep 2001 16:57:25 +0700 From: "Uwan Nadri" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: RE: Islam, Minang dan Malin Kundang > -----Original Message----- > From: indrapiliang [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Tuesday, September 11, 2001 4:29 AM > To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [surau] Islam, Minang dan Malin Kundang > > > Perkembangan lain tentu juga perlu dicatat, berupa > meningkatnya kembali pengaruh Islam Ahmadyah di Minang, juga > sebagian kecil penduduk yang pindah agama. Ahmadiyah yang > dikenal sebagai kelompok kaya ini, dan kelompok Islam yang > divonis pemerintah Indonesia sebagai kelompok diluar Islam, > menemukan banyak sekali perlawanan. Begitu juga penduduk yang > pindah agama yang menjadi petaka dari kuatnya benteng > keimanan ummat Islam Minang. Seringkali penyikapan terhadap > persoalan ini bersifat reaksioner - seperti pengusiran teolog > salah satu agama non Islam- tanpa menyigi lebih lanjut > kegagalan dari organisasi formal Islam dalam membaca arah > perkembangan masyarakat. Sedikit komentar saya terhadap apo nan ditulih dek Indra Piliang sbb: Tantang meningkatnya kembali pengaruh Islam Ahmadiyah di Minang bukanlah hal yang baru. Sejak dahulu apa yang dikemukakan Ahmadiyah memang telah merambah kepada sebagian Intelektual Islam dikalangan IAIN terutama. Walaupun secara terbuka mereka enggan untuk mengakui, namun dengan antusias dari kehadiran para Dekan dan Dosen IAIN pada pertemuan dan tanya jawab dengan Khalifah Ahmadiyah ke IV, Hazrat Mirza Tahir Ahmad di Hotel Sedona tanggal 4 Juli 2000 (ketika kunjungan beliau ke Indonesia) membuktikan bahwa mereka memang menemukan suatu pembaruan pemikiran Islam yang baru dan menyegarkan dari Ahmadiyah. Saya masih ingat bagaimana Khalifah Ahmadiyah Hazrat Mirza Tahir Ahmad menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh mereka dan khusus terhadap Ibu Dr. Hayati dari Fakultas Usuhuluddin IAIN beliau telah ditawarkan oleh Khalifah untuk berkunjung ke Pusat Pertablighan Islam Ahmadiyah dan Stasiun TV Muslim Ahmadiyah (MTA) di London dengan biaya Jemaat Ahmadiyah , sekaligus untuk melihat secara langsung kegiatan Jemaat Ahmadiyah disana. Tetapi bagaimana perkembangan dan realisasi dari undangan Khalifah Ahmadiyah dan tanggapan dari Ibu Hayati terhadap Undangan ini, sayang sekali kami tidak mendengar kelanjutannya. Tambahan lagi, Ahmadiyah dikenal sebagai kelompok kaya, sebagaimana disinyalir oleh kebanyakan Mainstream Islam dan juga Indra juga tidak seluruhnya benar. Banyak juga diantara mereka yang miskin, terutama dari pedesaan namun pengorbanan yang mereka berikan terhadap Jemaat Ahmadiyah menimbulkan dugaan orang-orang bahwa mereka adalah orang-orang kaya. Namun setahu saya, banyak diantara mereka yang memiliki kehidupan miskin dibawah garis menengah dengan segala kerelaan telah menafkahkan secara teratur pendapatan mereka antara 1/16 sampai maksimal 1/3 setiap bulannya. Pengorbananan inilah yang kadang-kadang menimbulkan iri hati bagi "ghair Ahmadi" dengan menuduh bahwa orang-orang Ahmadi itu kaya-kaya atau juga mereka fitnah dengan mengatakan "telah dipungli" oleh Jemaat secara paksa....! Yang memvonis Ahmadiyah sebagai kelompok diluar Islam bukanlah "pemerintah" tetapi MUI dan sebagaian oknum Departemen Agama dan Ulama-Ulama cetek yang tidak mengenal Ahmadiyah secara dekat dan langsung untuk menakut-nakuti agar orang tidak menyelidiki Ahmadiyah. Umumnya mereka menaburkan fitnah dengan mengatakan Ahmadiyah dilarang oleh Pemerintah pada hal Ahmadiyah eksis adanya dilindungi oleh Pemerintah sebagai organisasi yang berbadan hukum dan mendapat perlindungan hukum dari Departemen Kehakiman sejak tahun 1953. Kendatipun berbagai usaha dilakukan untuk membubarkan Ahmadiyah sejak waktu yang lama, namun usaha-usaha itu selalu gagal dan Ahmadiyah masih "tetap tegar dan belum dibubarkan" sebagaimana dijawab oleh Bapak Syarif Ahmad Lubis ( Mantan Ketua Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia) kepada Ir. Azwar Anas ( Mantan Gubernur Sumbar) yang selalu menyanyakan kepada beliau apakah Ahmadiyah sudah bubar atau belum. Wassalamu'alaikum wr.wb. Nadri Saaduddin Jalan Rambutan B-32 Telp. (0765 ) - 93072 Duri 28884 Riau Daratan , INDONESIA |
- [RantauNet] Islam, Minang dan Malin Kundang indrapiliang
- Re: [RantauNet] Islam, Minang dan Malin Kundang Fery Permata
- Re: [RantauNet] Islam, Minang dan Malin Kundang indrapiliang
- Re: [RantauNet] Islam, Minang dan Malin Kundang Nofendri T. Lare
- Re: [RantauNet] Islam, Minang dan Malin Kundang Muhammad Rijal

