Besar Kemungkinan Mossad Dalang Peledakan WTC dan Pentagon
Tgl. publikasi: 13/9/2001 09:59 WIB
eramuslim, Washington - Analisa dan dugaan pelaku peledakan WTC dan Pentagon
terus berkembang. Sejumlah pengamat Palestina dan Amerika mulai mengemukakan
berbagai kemungkinan tentang terlibatnya organisasi intelejen Israel Mossad
berada di belakang serangan berdarah di Washington dan New York (11/9).
Kemungkinan ini dilandasi dugaan bahwa Israel berusaha menekan umat Islam
dan orang-orang Arab dengan perantaraan Amerika. Di sisi lain, Israel akan
diuntungkan dengan mengalihkan perhatian dunia pembantaian yang mereka
lakukan atas bangsa Palestina.

Dr. Atif Adawan, seorang dosen ilmu politik di Universitas Islamiyah
Pakistan menyebutkan bahwa sangat mungkin Israel melakukan aksi serangan
tersebut untuk menggiring opini masyarakat Amerika dan dunia secara umum
untuk bisa bersikap netral terhadap Israel. Ia juga menyebutkan bahwa aksi
aksi seperti itu memang merupakan karakter serangan Israel yang selama ini
banyak melakukan rekayasa intelejen untuk meloloskan keinginannya. "Terlalu
banyak bukti dan kenyataan dari sejarah Israel dan Mossad sejak dahulu a
bahwa mereka mungkin sekali melakukan aksi itu. Mereka tidak peduli apakah
aksi itu akan membahayakan atau tidak..." katanya.

Tuduhan terhadap Mossad tidak hanya berasal dari kalangan muslim. Seorang
ekonom AS, kandidat presiden AS tahun 2004 Lyndon H. LaRouche yang berasal
dari kubu partai Demokrat menyebutkan bahwa Israel lah yang berada di balik
aksi biadab itu. "Israel ingin menarik perhatian AS terhadap konflik di
Timur Tengah yang kini makin tak menentu. Di sisi lain, aksi ini akan bisa
mendorong perang terhadap dunia Arab," tandasnya.

Sementara Direktur Lembaga kajian dan Penelitian An-Nur, Dr. Mahmud Zuhar
menyebutkan bahwa ada sejumlah petunjuk pertama yang menyebutkan bahwa
serangan itu dilakukan oleh orang Amerika sendiri. Alasannya adalah karena
di AS terdapat berbagai aliran keagamaan fanatik yang siap melakukan aksi
bunuh diri sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya.

Ia menambahkan bahwa teknologi yang dimiliki oleh para penyerang tidak bisa
dikuasai kecuali oleh para ahli pesawat terbang, dan ini tidak akan
dilakukan oleh sebuah organisasi di luar Amerika. "Karena para pelaku
penyerangan itu sangat mengetahui peta Amerika dari udara dan mereka
memiliki peta yang mengetahui secara pasti kapan mereka bisa keluar dan
masuk ke wilayah AS," ujarnya. Kemungkinan ini juga didukung dengan adanya
sekitar 250 an kelompok ekstrim yang bekerja di dalam negara AS dan memiliki
senjata. (na/iol
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
81-44-861-0217
81-90-3909-5742

Kirim email ke